Menara Gading dan Kuping yang Tuli

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Di sebuah ruang berpendingin udara yang teramat dingin, saya baru saja menyaksikan pertunjukan teater ego yang luar biasa elegan. Cendekiawan dengan predikat tinggi akademi, duduk bersanding dengan para alumni pergerakan yang kerap membanggakan independensi serta kepiawaian bertutur di ruang publik. Forum yang sejak awal dijanjikan untuk menenun masa depan lulusan, seketika berubah menjadi arena adu kebenaran yang menggelikan.

Mengklaim diri sebagai pengawal wacana dan juru bicara, mendadak berkhotbah tentang pers. Seolah-olah cermin yang memantulkan bayangan buruk boleh disalahkan atas wajah yang memang sedang belepotan. 

Namun, komedi satire ini mencapai puncaknya bukan saat peran-peran itu tertukar, melainkan ketika sang maha guru bersuara.

Ketika bicara, semua tunduk mencerna setiap kalimat seolah itu adalah wahyu dari langit, termasuk saya yang memilih diam menyimak hingga tuntas. Namun, tatkala giliranku menyusun barisan kata untuk menyuarakan realitas, saat titik pertama baru mau mendarat, kalimat sudah dipotong tanpa belas kasih. Di sanalah kita memahami bahwa di hadapan takhta pencerah yang merasa paling sepuh dan paling berintelektual, suara anak muda hanyalah bising yang harus segera dipadamkan.

Ketika sebaris judul berita yang menyinggung perasaan lembaga jauh lebih genting untuk diperdebatkan hingga berdarah-darah, ketimbang membicarakan nasib ribuan sarjana yang tiap tahun dilepas ke jalanan tanpa peta jalan kerja. 

Otoritas kepakaran dan rekam jejak kaderisasi yang melangit ternyata tak selalu berbanding lurus dengan lapangnya dada untuk mendengarkan.

Saya memilih diam. Bukan karena saya kehabisan argumen atau tunduk pada superioritas usia, melainkan karena saya menaruh hormat pada etika yang gagal di contohkan. 

Ada kesadaran yang terbit di tengah kepalan tangan yang tertahan bahwa melayani perdebatan egoistis hanya akan menurunkan derajat akal sehat.

Jika para penentu tatanan ilmiah dan mantan aktivis yang gemar merawat tradisi dialektika itu lebih sibuk menyelamatkan martabat sebaris frasa ketimbang menyelamatkan satu atau dua mahasiswa dari jurang pengangguran, maka menara gading itu sesungguhnya tidak sedang mendidik manusia. Ia hanya sedang sibuk mengagumi bayangannya sendiri di dalam cermin. (Jannah) 


Lebih baru Lebih lama