Sangpencerah web. Id|SELAYAR,—Tidak ada seorang pun yang menaiki kapal dengan niat untuk tidak kembali.
Mereka berangkat membawa harapan. Ada yang ingin pulang memeluk anaknya. Ada yang hendak mencari nafkah. Ada yang mengantar keluarga. Ada pula yang sekadar menyeberang, meyakini bahwa perjalanan itu akan berakhir seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya.
Namun laut berkata lain.
Dalam hitungan menit, harapan berubah menjadi kepanikan. Teriakan meminta pertolongan bercampur dengan deburan ombak. Anak kehilangan orang tua. Orang tua kehilangan anak. Suami kehilangan istri. Istri kehilangan suami. Keluarga menunggu di dermaga dengan doa, tetapi yang datang justru kabar duka.
Tragedi tenggelamnya KM Nurul Salsa bukan sekadar kecelakaan laut. Ia adalah jeritan yang seharusnya mengguncang nurani kita semua.
Sayangnya, negeri ini sering kali memiliki ingatan yang pendek.
Setiap kali kapal tenggelam, kita menyaksikan pola yang hampir selalu sama. Sirene ambulans berbunyi. Tangisan keluarga memenuhi pelabuhan. Karangan bunga ucapan belasungkawa berdatangan. Tim SAR bekerja tanpa mengenal lelah. Media memberitakan selama beberapa hari. Pejabat datang menyampaikan duka.
Lalu...
Semuanya kembali seperti semula.
Sampai tragedi berikutnya datang.
Yang berubah hanyalah nama kapalnya.
Yang berubah hanyalah daftar korbannya.
Yang berubah hanyalah keluarga yang menangis.
Bukankah ini ironi yang sangat menyakitkan?
Kabupaten Kepulauan Selayar adalah daerah kepulauan. Laut bukan sekadar bentang alam. Laut adalah jalan raya masyarakat. Laut adalah sekolah bagi anak-anak yang menyeberang. Laut adalah pasar bagi pedagang. Laut adalah ruang kerja bagi nelayan. Laut adalah nadi kehidupan.
Justru karena itulah, keselamatan pelayaran seharusnya menjadi urusan yang paling serius.
Nyawa manusia tidak boleh diserahkan kepada keberuntungan.
Keselamatan tidak boleh bergantung pada doa semata.
Keselamatan tidak boleh berhenti pada slogan.
Tragedi ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak boleh dihindari.
Apakah setiap kapal yang berlayar benar-benar telah dipastikan laik laut?
Apakah pemeriksaan mesin dilakukan secara profesional, atau sekadar memenuhi formalitas administrasi?
Apakah kapasitas penumpang diawasi secara ketat?
Apakah setiap penumpang memperoleh alat keselamatan yang memadai dan memahami cara menggunakannya?
Apakah informasi cuaca benar-benar menjadi dasar dalam memutuskan keberangkatan kapal?
Apakah sistem pengawasan kita cukup kuat untuk mencegah kecelakaan, atau baru bergerak setelah korban berjatuhan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah upaya mencari kambing hitam. Justru inilah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah kehilangan nyawa. Sebab penghormatan terbesar kepada para korban bukan hanya doa, melainkan keberanian memperbaiki sistem yang gagal melindungi mereka.
Yang lebih menyakitkan, ini bukan kali pertama.
Selayar telah berkali-kali diuji oleh tragedi pelayaran. Namun setiap musibah seolah hanya menghasilkan evaluasi sesaat. Kita pandai membuat berita acara. Kita pandai menyusun laporan. Kita pandai mengucapkan belasungkawa.
Tetapi kita belum cukup berhasil memastikan bahwa tragedi yang sama tidak terulang.
Padahal setiap korban bukanlah angka statistik.
Di balik satu nama terdapat satu kehidupan.
Ada anak yang kini tumbuh tanpa ayah.
Ada ibu yang menunggu anaknya pulang hingga harapan itu tenggelam bersama ombak.
Ada istri yang tak pernah lagi mendengar suara suaminya.
Ada orang tua yang harus menguburkan masa depan yang mereka besarkan dengan penuh kasih sayang.
Lalu sampai kapan kita akan mengatakan bahwa semua ini hanyalah musibah?
Tidak semua musibah lahir dari kelalaian manusia.
Namun setiap musibah harus menjadi pelajaran bagi manusia.
Jika setelah tragedi besar sistem tidak berubah, maka kita sedang menunggu korban berikutnya.
Keselamatan pelayaran harus menjadi budaya, bukan sekadar kewajiban administratif.
Pengawasan harus diperkuat, bukan hanya saat sorotan publik sedang tinggi.
Inspeksi kapal harus benar-benar independen.
Perawatan armada harus menjadi kewajiban yang diawasi secara berkala.
Awak kapal harus mendapatkan pelatihan keselamatan yang memadai.
Manifes penumpang harus akurat.
Alat keselamatan harus tersedia, layak pakai, dan siap digunakan kapan pun.
Sistem informasi cuaca harus menjadi acuan utama sebelum kapal diberangkatkan.
Karena sesungguhnya biaya terbesar bukanlah memperbaiki kapal.
Biaya terbesar adalah ketika sebuah keluarga kehilangan tulang punggungnya.
Biaya terbesar adalah ketika seorang anak harus tumbuh tanpa pelukan ayahnya.
Biaya terbesar adalah ketika seorang ibu menunggu seseorang yang tak akan pernah kembali.
Laut Selayar telah terlalu banyak menyimpan air mata.
Jangan biarkan ombak terus menjadi saksi bahwa kita terlambat belajar.
Jangan biarkan setiap kecelakaan hanya melahirkan belasungkawa tanpa perubahan.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah sistem transportasi bukanlah seberapa banyak kapal yang berlayar.
Melainkan seberapa banyak penumpang yang pulang dengan selamat.
Semoga mereka yang telah berpulang mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Dan semoga tragedi KM Nurul Salsa menjadi pengingat terakhir bahwa keselamatan manusia harus selalu lebih berharga daripada kelalaian, pembiaran, atau sekadar rutinitas birokrasi.
Sebab laut tidak pernah meminta korban. Kitalah yang berkewajiban memastikan setiap orang yang berlayar dapat kembali ke rumah dengan selamat. (Supriadi)
