Bayang-Bayang Bahan Bakar di Tanah Karang

 

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Malam terasa lebih dingin begitu langkah kakiku menaiki tangga kayu rumah. Gemeretak halus di bawah pijakan mengiringi kepulanganku setelah seharian bergelut dengan jadwal kuliah yang padat di kampus. Berjalan kaki menembus dingin malam Selayar membuat tungkaiku makin pegal dan tubuh rasanya mau remuk. Tanpa sempat mengganti baju, aku langsung melempar tas ke sudut meja dan membiarkan tubuhku terlentang pasrah di atas ranjang.

Lampu kamar yang remang menyorot langit-langit, mengiringi napas panjang yang kuembuskan perlahan. Sunyi. Namun, kesunyian itu pecah saat jemariku meraih ponsel dan membuka layar. Seketika, garis masa media sosial dan grup percakapan dipenuhi satu isu gawat yang sedang membakar Selayar: BBM langka total.

Mataku tertahan pada beberapa unggahan berita lokal dan keluhan warga yang bertebaran. Warga Kepulauan Selayar sudah empat hari kebingungan mencari sebotol bahan bakar. Dari ibu-ibu yang mengeluh tak bisa pergi ke pasar, petani yang terhambat membawa hasil kebun, hingga pengecer botolan yang gulung tikar karena kehabisan stok. Di SPBU dan Pertashop, antrean kendaraan mengular panjang bak ular naga, hanya untuk disambut papan tulisan kusam: BBM HABIS.

Penjelasan resmi dari Kabag Ekonomi Pemkab Selayar yang tertulis di layar ponselku justru makin menegaskan kerumitan masalah ini. Stok di pusat ada, tapi penyalurannya terkunci aturan. Warga di pulau-pulau jauh, seperti Pasilambena, Pasimarannu, Taka Bonerate, hingga Pasimasunggu Timur, menjadi korban utama karena aturan larangan distribusi ke sub-penyalur, sementara Pemkab sendiri mati kutu dihimpit keterbatasan kewenangan.

Namun, benarkah ini sekadar masalah sekat birokrasi dan regulasi yang kaku? Di balik narasi resmi itu, desas-desus tentang permainan mafia BBM makin kencang berembus. Ketika rakyat kecil mengantre berjam-jam hanya demi seliter bensin untuk bertahan hidup, ada indikasi kuat tangan-tangan jahat yang sengaja bermain di ranah abu-abu. Pasokan yang mestinya sampai ke tangan masyarakat diduga disedot oleh jaringan penimbun dan mafia BBM yang memanfaatkan celah aturan demi mengeruk keuntungan pribadi di atas penderitaan warga.

Aku mematikan layar ponsel, melemparkannya ke samping bantal, lalu menatap langit-langit kamar kembali.

Tiba-tiba, ingatanku melayang pada prinsip mendasar yang selama ini kupahami tentang apa itu mahasiswa. Maha dalam konteks mahasiswa itu memiliki fungsi moral dan fungsi sosial terhadap kesejahteraan. Pertama, sebagai Agent of change, agen perubahan yang bukan hanya pada diri sendiri tapi perubahan terhadap sosial masyarakat. Kedua, sebagai Iron stock, agen shield atau tameng untuk melindungi masyarakat dari ancaman sosial politik dan ekonomi, di mana ketika hal itu terjadi maka mahasiswa menjadi garda terdepan. Dan ketiga, sebagai Moral force atau penjaga nilai moral; ketika dalam konteks sosial ekonomi dan politik terjadi korupsi serta penyelewengan kekuasaan, maka mahasiswa juga harus menjadi garda terdepan untuk menjaga nilai moral itu. Jadi, mahasiswa yang lulus kemudian masuk dalam pemerintahan tidak melakukan korupsi, karena sudah diberitahu dan diajarkan orientasi yang benar. Jika melakukan, maka patut dipertanyakan gelarnya. 


Namun, kenyataan di Selayar malam ini menampar kesadaran itu keras-keras. Di saat masyarakat menjerit, aku justru teringat perkataan seseorang yang reaksinya begitu membekas dan melekat di kepalaku. "Saat ini kita jangan dulu pentingkan kualitas tapi kuantitas, sebab kita sedang bersaing dengan kampus lain," ucap seorang yang katanya berpendidikan. Sungguh ironis. Ketika dunia akademik sibuk mengejar angka dan kuantitas demi gengsi kompetisi, realitas sosial di luar sana justru sedang sekarat. Ketika tangki-tangki bahan bakar mengering dan rakyat kecil tercekik krisis, fungsi ideologis mahasiswa seolah direduksi menjadi sekadar pabrik pencetak lulusan bertarget.

Di titik inilah kompas moral itu diuji: apakah nilai-nilai idealis tersebut hanya berhenti sebagai retorika manis di ruang kelas, atau membongkar permainan mafia dan pasang dada di tengah krisis yang menghimpit rakyat?

Malam semakin larut, namun rasa kantukku justru menguap sepenuhnya. Di luar sana, warga menjerit di balik deretan jerigen kosong, sementara aturan dipangku dingin dan mafia tertawa di atas penderitaan publik. Lalu, kalau mahasiswa hari ini memilih bungkam, tidur nyenyak di balik tumpukan buku, dan sibuk menimbun nilai demi ijazah semata, lantas apa bedanya kita dengan para perampok hak rakyat yang sedang kita caci itu? Apakah gelar "Maha" itu cuma pajangan kusam di kartu tanda mahasiswa, sementara jiwanya sudah mati sebelum sempat bertarung?. (Jannah) 

Lebih baru Lebih lama