Di Antara Suara-Suara yang Dirindukan

 

Ilustrasi 

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Malam belum terlalu larut ketika sebuah layar ponsel yang menyala terang mengubah jalannya malam. Di antara senyap yang menyusup, dua nama yang sekian lama tertimbun waktu mendadak terhubung kembali. Dan aku, secara tidak sengaja namun terasa seperti telah diatur oleh semesta, berada tepat di tengah-tengah jembatan yang menyambungkan keduanya.

Semuanya bermula dari sebuah permintaan tolong yang sederhana dari Ali, sosok yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Ia mencari jejak sahabat lamanya, Arif, di rimba maya. Lewat pencarian singkat di Facebook, jejak itu ditemukan. Sebuah pesan singkat dikirim, nomor WhatsApp dipertukarkan, dan tidak butuh waktu lama sampai nada panggil berubah menjadi lingkaran percakapan tiga arah.


Keriangan pecah seketika di udara. Ucapan rasa syukur tak henti-hentinya mengalir dari kedua ujung telepon. Ungkapan alhamdulillah dan selipan napas lega saling bersahutan, merayakan momen langka setelah sekian panjang waktu memisahkan jalan hidup mereka.

"Apalah arti sebuah jarak," tutur Ali dengan nada emosional, "jika justru jarak itulah yang semakin mendekatkan yang jauh."

Nostalgia pun mulai mengalir hangat, membawa ingatan mereka kembali pada delapan tahun penuh warna yang mereka lalui bersama. Ingatan itu berlabuh di masa-masa indah dulu di Ciukuy, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Di sana, mereka pernah menghabiskan hari-hari di lingkungan Tiara School, sebuah kediaman pribadi berkonsep vila dengan fasilitas megah, lengkap dengan masjid mewah serta penjagaan ketat dari Marinir, Angkatan Darat, hingga sekuriti sipil.

Perjalanan mereka bukan main-main. Ali dan Arif sudah kenyang menempuh suka duka bersama, merayap dari bawah hingga berdiri di tempat yang tak pernah dibayangkan. Mereka pernah merasakan pahit manisnya hidup merakyat bersama warga kelas di got, sampai akhirnya mencapai derajat hidup tinggi dan sekelas dengan warga berstatus Bintang 4 di pundak. Dari sudut Jonggol pulalah langkah mereka meluas. Tak hanya menjelajahi sudut-sudut Jakarta dan Jawa Barat, jejak kebersamaan mereka bahkan melintasi batas negara, menyusuri riuk jalanan Kuala Lumpur, Bangkok, hingga Manila.

Namun, di antara deretan perjalanan sepanjang 2011 hingga 2019 itu, kenangan-kenangan konyol tetap menjadi yang paling riuh. Salah satu yang paling membuat dada sesak oleh tawa adalah kisah saat Ali mendadak kekeuh ingin menyaksikan penampilan Selvi di studio Indosiar.

Padahal, keseharian mereka saat itu sarat dengan aktivitas religius, kajian, dan lingkaran syar'i. Namun entah angin apa yang bertiup, Ali dengan gigih mengajak Arif menembus kerumunan anak-anak muda yang gayanya bertolak belakang dengan keseharian mereka. Begitu sampai di sana, Ali malah ikut berteriak histeris seperti bagian dari mereka, berjuang keras demi bisa menemui sang idola.

Suasana makin memanas ketika Ali bahkan sempat meladeni preman Jakarta di tengah kerumunan itu. Dengan penuh ketegasan, Ali berseru, "Tidak! Kali ini saya tidak akan mengalah!"

Ilustrasi

Arif yang panik melihat aksi nekad sahabatnya langsung pasang badan membujuk dan mengajak Ali bergegas pergi. "Sudahlah, menang malu, kalah lebih malu! Ayo pulang! Nanti kalau tersorot kamera di mana-mana, hancur citra kita!" serunya kala itu. Mengingat alasan di balik ajakan pulang yang penuh pertimbangan itu membuat gelak tawa di telepon semakin pecah tak terkendali.

Di tengah tawa yang belum sepenuhnya mereda, sebuah celetukan spontan dari Arif kembali memancing gelombang tawa baru dari seberang telepon.

"Eh, tapi jujur ya," suara Arif terdengar mereka-reka dari kediamannya yang kini berada di Ciuncal, Kecamatan Cileungsi, Bogor, "aku semalam itu mimpi apa coba, kok bisa tiba-tiba hari ini kita teleponan? Padahal sudah lama betul aku rindu..."

Ia hening sejenak, mengingat-ingat garis mimpi yang singgah di tidurnya semalam, sebelum akhirnya terkekeh sendiri.

"Oh iya! Aku ingat! Semalam aku mimpi buang hajat!"

Gelak tawa seketika pecah, tak sanggup lagi kutahan. Bagaimana bisa sebuah peristiwa sekonyol buang hajat dalam mimpi ditafsirkan jadi pertanda bertemunya dua kawan lama? Tapi di situlah letak keindahannya. Kebahagiaan malam itu diwarnai oleh tawa lepas yang begitu polos.

Di sela-sela tawa yang perlahan mengendap, percakapan mereka mendadak menyisakan kedalaman.

"Kita itu tidak perlu repot-repot menjelaskan siapa diri kita ke semua orang," tutur Arif, suaranya terdengar matang oleh pengalaman. "Sebab bagi orang yang membenci, semua penjelasan kita cuma akan dianggap lelucon. Tapi bagi orang yang benar-benar menyukai dan mengenal kita, mereka sudah tahu siapa kita, bahkan ketika kita tak mengucapkan sepatah kata pun."

Ali dan Arif lalu mengenang masa-masa menyenangkan dulu, saat menikmati sepiring tumis kangkung di pinggir sawah. Dulu, bagi Ali, kangkung itu tidak ada istimewanya sama sekali. Namun, Arif menceritakan makanan itu dengan penuh 'seni' dan pembawaan yang memikat, hingga kangkung biasa itu terasa seperti hidangan paling lezat di dunia saat disuap di tepi petakan sawah yang hijau.

"Kamu boleh saja bicara panjang lebar soal standar makanan sehat ini dan itu," lanjut Arif sambil terkekeh. "Tapi kalau kamu memakannya dengan perasaan tidak enak, gundah, atau tertekan, se-sehat apa pun makanan itu, ujung-ujungnya tubuhmu tetap akan sakit. Sebaliknya, saat hatimu senang dan kamu enak makan, tubuhmu akan menerima energi baiknya."

Sebuah pertanyaan retoris terlontar dan tersimpan lekat di ingatanku: "Jadi, kamu mau makan enak, atau mau enak makan?"

Ada begitu banyak kisah dan perjalanan panjang yang tumpah malam itu. Namun, dari sekian banyak riak cerita yang meluncur di sepanjang percakapan mereka, pecahan-pecahan kenangan dan pesan inilah yang paling mengendap dan tertanam kuat di kepalaku. 

Malam itu, aku tidak hanya menyaksikan dua sahabat yang menemukan kembali jalannya untuk pulang, meski takdir kini menuntun Arif menetap di Cileungsi setelah perjalanan panjang mereka, tetapi juga menyerap pelajaran berharga tentang arti ketulusan, perspektif, dan bagaimana tawa masa lalu mampu menyembuhkan kerinduan yang panjang. 


Author: (SNJ) 

Lebih baru Lebih lama