Menemukan Kembali Harmoni Manusia dan Semesta

 

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Pernahkah terlintas di benak kita, mengapa dunia terasa makin melelahkan justru saat peradaban manusia berada di puncak kecanggihannya? Hutan-hutan kehilangan rimbunnya, cuaca tak lagi menentu, sementara di layar ponsel, riuh ujaran kebencian dan disinformasi saling berkejaran setiap detik. Kerusakan demi kerusakan seolah mengepung dari segala penjuru, memicu pertanyaan mendasar tentang di mana letak kesalahan perjalanan kita sebagai manusia.

Jawabannya ternyata terpaut indah dalam Surah Al-A‘rāf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Struktur yang terbangun dalam ayat ini sungguh memikat. Ada alur batin yang runtut, dimulai dari perintah menahan diri dari kerusakan, disusul panggilan membangun komunikasi spiritual melalui doa yang seimbang antara rasa takut dan harap, hingga akhirnya mengantarkan manusia menjadi sosok muhsin yang layak menyambut dekapan rahmat Allah.

Peringatan untuk tidak berbuat kerusakan ini ditegaskan pula dalam Surah Al-Qaṣaṣ ayat 77:

وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”


Jika kita menyelami tatanan bahasanya, kata fasād, yang diterjemahkan sebagai kerusakan, berarti keluarnya sesuatu dari keadaan baik atau hilangnya keseimbangan. Lawannya adalah ṣalāḥ, yang bermakna memperbaiki dan mengembalikan segala hal ke titik harmonisnya. Perusakan di sini tidak melulu soal menumbangkan pepohonan atau mencemari sungai. Seseorang juga bisa merusak tatanan sosial, merobek kepercayaan, meracuni akhlak, bahkan menghancurkan kedamaian dalam pikirannya sendiri.

Kerusakan yang merambah alam dan kehidupan ini bukan terjadi tanpa sebab. Al-Qur'an secara lugas menyindir bahwa krisis ekologis sejatinya bersumber dari keserakahan manusia itu sendiri, sebagaimana difirmankan dalam Surah Ar-Rūm ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”

Bumi, atau al-arḍ, pun tidak boleh dipersempit maknanya sebatas tanah yang kita pijak. Ia adalah ruang kehidupan, rumah bersama bagi seluruh makhluk yang mencakup udara, laut, hingga jaringan sosial masyarakat. Kunci utamanya terletak pada frasa ba‘da iṣlāḥihā, yang mengingatkan bahwa bumi ini pada mulanya telah diciptakan dalam keteraturan yang presisi. Manusia hadir bukan sebagai pemilik mutlak yang bebas berbuat sekehendak hati, melainkan sekadar pengelola dan penjaga amanah. Dampak buruk dari pengabaian amanah ini diwanti-wanti dalam Surah Al-Baqarah ayat 205:

وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan dia merusak tanaman-tanaman dan keturunan, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.”


Tafsir dari para ulama klasik hingga pemikir kontemporer mempertemukan kita pada satu muara: krisis ekologi dan sosial sebenarnya berakar dari krisis spiritual. Sebelum manusia merusak alam dengan alat-alat berat, yang lebih dahulu rusak adalah cara pandangnya. Ketika alam dipandang sekadar komoditas eksploitasi, hilanglah rasa hormat kepada Sang Pencipta. Dalam pembacaan sufistik, kerusakan di luar hanyalah cerminan dari kerusakan di dalam batin. 

Tangan yang merusak lingkungan sering kali digerakkan oleh batin yang belum selesai berdamai dengan keserakahan dan egois. Sungguh sia-sia sibuk membenahi tanah di bawah kaki jika bumi di dalam hati dibiarkan tandus.


Untuk memperbaiki kerusakan tersebut, Al-Qur'an menyandingkan larangan merusak dengan perintah berdoa melalui dua sikap mental: khauf (rasa takut) dan ṭama‘ (harapan). Dalam tradisi tasawuf, keduanya bagaikan sepasang sayap burung. Tanpa rasa takut akan dosa dan murka-Nya, manusia akan jatuh pada kesombongan dan bertindak ugal-ugalan. Sebaliknya, tanpa harapan akan ampunan dan rahmat-Nya, manusia akan terseret ke dalam keputusasaan. Keseimbangan inilah yang melahirkan kewaspadaan sekaligus optimisme dalam merawat kehidupan.

Relevansi pesan ini kian terasa tajam di era modern. Bentuk kerusakan hari ini telah bermutasi ke ruang digital dan ranah kecerdasan buatan. Unggahan yang mengandung fitnah, perundungan siber, atau manipulasi informasi berbasis AI adalah wujud fasād kontemporer yang sanggup merusak kedamaian masyarakat dalam hitungan detik. Teknologi yang semakin canggih tidak otomatis membuat manusia semakin bijak. Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi soal seberapa pintar AI yang bisa diciptakan, melainkan apakah manusia yang mengendalikannya memiliki kesadaran ihsan, sebagaimana ditegaskan Nabi ﷺ dalam hadis riwayat Muslim:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”


Pada akhirnya, Surah Al-A‘rāf ayat 56 memanggil kita untuk menjadi sosok muṣliḥ, yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga aktif membawa perbaikan bagi lingkungannya. Peradaban sejati tidak diukur dari seberapa megah bangunan yang kita dirikan atau seberapa cepat mesin yang kita ciptakan, melainkan dari sejauh mana kita mampu menjaga harmoni dengan Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta.

Ayat ini ditutup dengan janji yang menenangkan:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Sebuah penutup yang menyisakan refleksi mendalam bagi kita semua: jangan menjadi manusia yang meninggalkan jejak kerusakan di belakang, tetapi jadilah pribadi yang ketika kelak melangkah pergi, bumi dan kehidupan terasa sedikit lebih baik karena pernah disinggahi oleh kehadiran kita.

Disadur dari tulisan: Dr. Muh. Ikhsan AR., M.Ag. (Dosen UIN Kendari & Ketua Komisi KUB MUI Sultra)


Lebih baru Lebih lama