Tepi Jurang dan Nyanyian Sanjungan yang Menina-bobokkan

 


Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Dalam sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib, terdapat sebuah pesan mendalam tentang cermin kualitas diri: “Kritiklah orang yang berakal, niscaya ia akan mencintaimu. Namun, jangan mengkritik orang bodoh, sebab ia akan membencimu.” Pesan singkat ini tidak sekadar membicarakan respons personal, melainkan memotret ukuran kedewasaan seseorang sekaligus tolok ukur kedewasaan suatu masyarakat.

Kedewasaan sejati tidak diukur dari deretan gelar akademis, tingginya jabatan, atau banyaknya buku yang telah dibaca. Kedewasaan diuji pada saat ada suara yang tidak menyenangkan datang menyapa. Kritik hampir selalu hadir tanpa hiasan. Bahasanya kadang tidak rapi, dan orang yang menyampaikannya pun belum tentu kita sukai. Namun, di balik ketidaknyamanan itu, selalu ada kemungkinan hadirnya celah yang perlu diisi atau langkah keliru yang perlu diperbaiki.

Orang berakal akan memerhatikan isi dari sebuah kritik, bukan sibuk mempertanyakan siapa pengucapnya. Sayangnya, lingkungan yang belum dewasa kerap berbuat sebaliknya. Sebelum mendengarkan isi pikiran, pertanyaan pertama yang muncul adalah mengenai status, jabatan, atau kelompok asal sang pembicara. Dalam masyarakat seperti ini, kebenaran seolah membutuhkan pangkat agar layak didengar.


Kondisi tersebut melahirkan pergeseran cara berpikir. Koreksi dari bawahan dianggap tidak tahu diri, pertanyaan kritis mahasiswa dinilai tidak sopan, dan tanggapan warga dicurigai sebagai bentuk kebencian. Kita akhirnya tidak sedang mendidik manusia untuk berpikir jernih, melainkan melatih mereka untuk merasa takut. Masyarakat yang belum dewasa hidup dengan logika kekuatan, di mana kebenaran ditentukan oleh kepemilikan harta, jabatan, atau kemampuan menghukum.

Sebaliknya, kekuatan logika tidak membutuhkan ancaman. Ia bersedia diperiksa, dibantah, bahkan ditumbangkan apabila ditemukan alasan yang jauh lebih kuat. Logika tidak membedakan apakah sebuah ide datang dari profesor atau petani, pejabat atau rakyat biasa. Ia hanya mempertanyakan apakah pikiran tersebut masuk akal, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Ketika energi lebih banyak dihabiskan untuk membungkam pengkritik demi mempertahankan wibawa, di situlah kekuasaan mulai kehilangan akal sehat. Padahal, kritik bukanlah lawan dari penghormatan, melainkan bentuk penghormatan yang paling jujur. Orang yang sama sekali tidak peduli akan membiarkan kita berjalan menuju kesalahan sambil memberi pujian. Sahabat yang baik justru akan menegur sebelum kita terperosok.

Seorang pimpinan tidak akan kehilangan kehormatan hanya karena mendengarkan saran, sebagaimana seorang pendidik tidak akan runtuh kewibawaannya karena mengakui kekeliruan. Justru melalui keberanian untuk menerima kritik dan mengoreksi diri, kita membuktikan bahwa pengetahuan belum berubah menjadi kesombongan dan kekuasaan belum membunuh rasa kemanusiaan.


Lebih baru Lebih lama