Ngaji Layar Kaca: Menakar Kedalaman Agama Gen Z di Tengah Arus FYP

Sangpencerah.web.id| SELAYAR,—Dahulu, pencarian ilmu agama menuntut kehadiran fisik. Orang-orang melangkah ke masjid, pesantren, majelis taklim, dan duduk bersimpuh menimba ilmu langsung di hadapan ulama. Kini, lanskap itu bertransformasi total. Cukup lewat satu usapan jari di layar smartphone, berbagai tayangan ceramah, bedah tafsir, bacaan zikir, hingga ketetapan fatwa langsung tersaji secara instan. Dunia telah bergeser: aktivitas ngaji kini tidak lagi terbatas pada dinding masjid, melainkan telah meluas ke ranah digital.

Bagi Generasi Z, interaksi dengan ajaran agama berlangsung di sela-sela aktivitas scrolling, swiping, liking, dan dinamika alur For You Page (FYP). Fokus utamanya bukan lagi tentang ada atau tidaknya konten keagamaan di media sosial, melainkan model keberagamaan seperti apa yang dibentuk dan disodorkan oleh algoritma kepada generasi muda?

Di situlah letak krusial permasalahannya. Algoritma bekerja mengandalkan intensitas perhatian pengguna. Apa yang sering ditonton akan terus disuapkan secara berulang. 

Pola ini berisiko mengurung seseorang dalam echo chamber. Sebuah ruang isolasi digital yang hanya memantulkan pandangan, gagasan, dan keyakinan yang sejalan dengan dirinya sendiri. Dalam kehidupan beragama, kondisi ini memicu sikap merasa paling benar karena setiap hari ia hanya disuguhi narasi yang membenarkan persepsinya sendiri.


Padahal, hakikat beragama bukanlah tentang pembenaran diri. Beragama adalah sebuah ikhtiar berkelanjutan menuju kebenaran sejati, kearifan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Buya Hamka pernah menekankan pentingnya membumikan nilai agama dalam realitas kehidupan. Menurut Hamka, Islam tidak boleh berhenti pada batas ritual formal, melainkan harus memancarkan keluhuran akhlak dan mendorong kemajuan peradaban. Spiritualitas yang sehat semestinya melahirkan ketundukan jiwa dan kerendahan hati, bukan dorongan untuk menghakimi sesama. Oleh sebab itu, ngaji digital tidak sepatutnya diukur dari seberapa banyak video yang telah disaksikan atau berapa banyak kutipan religius yang dibagikan. Tolok ukur utamanya adalah transformasi perilaku dan akhlak.

Sejalan dengan pemikiran Nurcholish Madjid, agama mesti memosisikan diri sebagai pendorong pembebasan serta penegak nilai kemanusiaan. Agama tidak boleh disempitkan sekadar sebagai simbol identitas. Kematangan dalam beragama justru mewujud dalam sikap terbuka, toleran, adil, dan menjunjung tinggi martabat sesama. Di tengah kepungan algoritma yang rentan memicu tajamnya polarisasi, pemikiran ini menjadi kian krusial: semakin mendalam pemahaman keagamaan seseorang, sepatutnya semakin luas pula tenggang rasa dan rasa kemanusiaannya.

Di sisi lain, Komaruddin Hidayat kerap mengingatkan bahwa beragama bukan cuma persoalan kepatuhan formal, melainkan kelana batin dalam pencarian makna hidup. Gen Z bertumbuh di tengah arus zaman yang menuntut serba cepat, sementara dimensi batin manusia tidak selalu bisa dipaksa selaras dengan akselerasi teknologi. Seseorang bisa saja mengumpulkan ribuan followers, namun tetap merasa kesepian di dalam jiwanya. Ia bisa saja mengantongi jutaan views, tetapi kehilangan makna hakiki dalam hidupnya.

Pada titik inilah spiritualitas menemukan urgensinya. Teknologi memfasilitasi konektivitas, namun agamalah yang menyediakan arah dan orientasi.

Gagasan Budhy Munawar-Rachman mengenai Islam yang humanis, inklusif, dan terbuka juga sangat relevan untuk dihadirkan dalam diskursus digital. Jagat media sosial selayaknya tidak dijadikan medan pertempuran identitas, melainkan ruang bertukar pikiran yang sehat. Keragaman tafsir dan perbedaan perspektif tidak semestinya berujung pada tindakan pengucilan (cancel culture). Perbedaan justru merupakan bagian dari kekayaan khazanah intelektual dan pengalaman spiritual manusia.


Sementara itu, Muhammad Sabri AR., yang berfokus pada persinggungan antara agama, filsafat, dan spiritualitas, menekankan pentingnya merawat daya reflektif dalam kehidupan beragama. Pemahaman agama tidak cukup berhenti pada batas pengetahuan; ia harus diendapkan dalam perenungan dan dihayati dalam tindakan. Pengetahuan agama yang hampa refleksi riskan terdegradasi menjadi sekadar tumpukan informasi. Sebaliknya, latihan spiritual yang berjalan tanpa landasan pengetahuan dapat kehilangan pijakan.

Atas dasar itu, tantangan terbesar Gen Z sejatinya bukan terletak pada minimnya akses informasi keagamaan. Persoalan sesungguhnya justru berada pada kelimpahan informasi yang tidak diimbangi dengan kedalaman pemahaman.

Saat ini, seseorang sanggup menyimak sepuluh video ceramah dalam sehari, namun belum tentu menyisihkan waktu sepuluh menit untuk merenungkan kandungan isinya. Begitu mudah orang membagikan potongan ayat, namun belum tentu mampu menginternalisasikan pesan moralnya. Begitu banyak yang mampu menghafal kutipan para ulama, tetapi belum tentu mampu menghormati mereka yang berbeda pandangan.

Sebab itu, diperlukan kesadaran akan pentingnya tabayyun digital: yaitu kecakapan dalam memverifikasi keabsahan sumber, menyelami konteks, memilah antara keilmuan dan opini pribadi, serta tidak tergesa-gesa menyimpulkan suatu hal hanya dari cuplikan video berdurasi singkat.

Menjadi religius tidak menuntut Gen Z untuk mengisolasi diri dari perkembangan teknologi. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi justru harus diarahkan sebagai instrumen untuk memperdalam pemahaman agama.

Melakukan scroll boleh saja, asal tidak sampai kehilangan kejelasan arah. Tren FYP boleh terus berganti, tetapi pegangan prinsip tidak boleh goyah. Mengejar keviralan boleh saja, namun standar akhlak tetap menjadi yang utama. Ngaji lewat media layar sangat dimungkinkan, namun tautan hati harus tetap tertuju kepada Sang Pencipta.

Pada akhirnya, isu utamanya bukanlah platform apa yang kita gunakan untuk ngaji. Apakah itu TikTok, YouTube, Instagram, atau sarana digital lainnya. Pertanyaan paling mendasar adalah: apakah setelah melalui proses ngaji tersebut, kita bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik?

Sebab, ajaran agama yang benar-benar meresap ke dalam sanubari tidak sekadar menambah wawasan kita tentang Tuhan, melainkan membimbing kita untuk semakin mengenali diri, menghargai sesama manusia, mencintai kehidupan, dan senantiasa rendah hati di hadapan Sang Pencipta.

Di tengah maraknya era FYP, boleh jadi inilah esensi ngaji yang paling mendesak: bukan sebatas membanjiri beranda digital dengan muatan konten agama, melainkan memadati relung hati dengan cahaya kebijaksanaan. (SNJ) 


​Tulisan ini dirumuskan dari pemikiran Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag. (Akademisi & Direktur PUNCAK UIN Kendari) bersama M. Ishaq Mattoali (Pengurus MD KAHMI Selayar) sebagai bahan refleksi bersama di era digital.


Lebih baru Lebih lama