Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Ada yang ganjil dari cara bangsa ini mengejar masa depan. Di balik spanduk megaproyek yang membentang dan angka pertumbuhan ekonomi yang dirayakan di podium megah, ada napas bumi yang kian tersengal. Kita sedang menyaksikan sebuah pertunjukan kolosal ketika kebijakan publik pelan-pelan mengecer alam demi merayakan kemajuan yang semu. Sebagai mahasiswa, sulit untuk tetap berdiam diri di tengah gerahnya ruang kuliah sementara di luar sana, alam sedang diperlakukan seperti barang dagangan yang habis manis sepah dibuang.
Pemerintahan hari ini seperti penyair mabuk yang ketagihan merangkai kata investasi, tetapi buta membaca bahasa alam. Karpet merah digulung lebar untuk mengeruk isi bumi. Hutan primer yang menjadi paru-paru tempat angin berembus dan air disimpan kini ditebas tanpa penyesalan, digantikan barisan mesin dan deretan tanaman homogen yang tak punya jiwa. Eksploitasi digaungkan sebagai mantra sakti penjemput kemakmuran, namun kita perlu bertanya tentang kemakmuran milik siapa yang sedang diperjuangkan.
Data riset dari Global Forest Watch bersama World Resources Institute (WRI) tahun 2024 mencatat bahwa kehilangan tutupan hutan primer di Indonesia justru melonjak 14 persen. Angka ini didorong secara dominan oleh perluasan lahan skala besar dan ekspansi aktivitas pertambangan yang merambah wilayah pesisir serta pedalaman.
Ketika sungai yang dulu jernih berubah pekat oleh limbah dan pesisir pantai tak lagi ramah pada perahu nelayan, yang tersisa hanyalah grafik di atas kertas sementara ruang hidup rakyat hancur berkeping-keping.
Kita juga terlalu sering menyalahkan langit saat banjir datang dan tanah longsor melahap pemukiman, bersembunyi di balik dalih takdir cuaca. Menurut laporan komprehensif dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023 mengenai ekosistem pesisir dan laut, hilangnya benteng vegetasi alami dan rusaknya tutupan lahan mempercepat degradasi iklim mikro serta melipatgandakan risiko bencana antropogenik.
Pemanasan dan pencemaran kawasan perairan merusak rantai trofik laut, memicu penurunan produktivitas biota perairan yang berdampak langsung pada ketahanan pangan masyarakat pesisir. Alam hanya sedang mengembalikan beban yang tak sanggup lagi ditanggungnya. Ketika daerah resapan air ditutup semen dan ditambang tanpa batas, air tak lagi punya jalan pulang selain menerjang rumah warga.
Deforestasi masif pun mengacak-acak mikroiklim hingga petani tak lagi bisa membaca tanda-tanda langit, mengubah musim tanam menjadi perjudian yang sering berakhir duka. Ini bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana kebijakan yang ditulis dengan pena bertinta kekuasaan.
Mahasiswa bukanlah penonton di barisan belakang teater kerusakan ini. Kampus bukan tempat untuk sekadar menumpuk gelar, melainkan benteng terakhir tempat kebenaran dan keadilan ekologis harus dijaga. Jika alam tidak punya suara di ruang sidang paripurna, maka pena dan kelantangan mahasiswalah yang harus bersuara untuknya.
Kita harus membongkar klaim pembangunan ramah lingkungan jika di lapangan alat berat masih terus merobek jantung hutan dan merusak ekosistem perairan. Riset sains yang dikerjakan di laboratorium tidak boleh dibiarkan berdebu di perpustakaan, melainkan harus ditiupkan roh agar menjadi argumen pembelaan bagi tanah dan laut yang dirampas.
Pembangunan sejati tidak pernah memusuhi bumi. Mengabaikan ekologi demi pertumbuhan ekonomi singkat adalah cara paling cepat untuk mengundang bencana. Hari ini, kabut asap kembali mengepung dan kebakaran hutan serta lahan melahap berbagai titik wilayah Nusantara. Langit merah dan napas rakyat yang sesak adalah bukti telanjang bahwa alam kita sedang terbakar oleh keserakahan yang dilegalkan.
Masa depan bangsa ini tidak diukur dari seberapa banyak beton yang sanggup ditancapkan ke perut bumi, melainkan dari seberapa bijak kita merawat warisan tanah dan air untuk mereka yang akan lahir esok hari.
Jika pemerintah hari ini terus memekakkan telinga dari rintihan bumi yang terbakar, maka tugas mahasiswa adalah terus memukul lonceng peringatan sebelum seluruh negeri ini habis menjadi abu. (Jannah)
Warning! : Gambar hanya ilustrasi.




