Sangpencerah.web.id|—Deru angin berdebu mengiringi langkah pasukan Abu Qudamah saat melintasi Benteng Maslamah bin Abdul Malik. Di tengah derap langkah prajurit, seorang pemuda menunggang kuda dengan tergesa-gesa menyusul dari belakang. Wajahnya yang bersinar bagaikan bulan purnama memancarkan cahaya ketaatan yang teduh. Di usianya yang masih amat muda, ia memohon dengan sangat agar diizinkan bergabung dalam barisan perjuangan, menolak untuk pulang meski Abu Qudamah sempat mengkhawatirkan usianya yang masih sangat hijau.
Kehadiran pemuda belia itu segera mencuri perhatian seluruh anggota pasukan. Di tengah keletihan perjalanan panjang, ia selalu menjadi orang pertama yang sigap melayani kebutuhan rekan-rekannya dan senantiasa menundukkan hati dalam zikir. Hingga pada suatu malam menjelang pertempuran besar, tatkala pasukan tengah beristirahat dalam keadaan berpuasa, pemuda tersebut tertidur pulas karena keletihan. Di tengah lelapnya, senyum mengembang indah di bibirnya, menyisakan prasangka manis bagi siapa saja yang melihatnya.
Saat terbangun, dengan mata berbinar ia menceritakan keindahan mimpi yang baru saja menyapa tidurnya. Ia merasa melangkah di dalam sebuah istana perak bertahtakan permata yang megah, lalu disambut oleh sesosok bidadari cantik bernama Al-Mardhiyah. Ketika ia hendak mendekat, bidadari tersebut menahannya dengan lembut seraya berbisik bahwa pertemuan sejati mereka baru akan terjadi esok hari tepat setelah waktu zuhur berlalu. Mimpi anggun itu menyuntikkan keberanian luar biasa dalam jiwanya, mengubah rasa takut menjadi kerinduan yang membuncah.
Keesokan harinya, kecamuk perang pecah dengan dahsyat. Di antara dentingan pedang dan kepulan debu yang membumbung tinggi, sang pemuda bertempur dengan ketangkasan yang menakjubkan di barisan terdepan.
Tepat ketika matahari mulai bergeser dari puncaknya usai waktu zuhur, Abu Qudamah menemukan tubuh berselimut darah itu terbaring tenang di medan laga. Sebelum mengembuskan napas terakhir dengan senyum di bibir, pemuda itu berbisik lembut bahwa bidadari dalam mimpinya telah datang menjemput.
"Paman, lihatlah, bidadari yang pernah kuceritakan padamu ada di dekatku. Dia menunggu ruhku keluar. Dengarkanlah kata-katanya; 'sayang, bersegeralah. Aku rindu.'
"Paman, demi Allah, tolong bawalah bajuku yang berlumuran darah ini untuk Ummi. Serahkanlah padanya, agar beliau tahu aku tak pernah menyia-nyiakan petuahnya. Juga agar beliau tahu aku bukanlah pengecut melawan kaum kafir yang busuk itu. Sampaikanlah salam dariku dan katakan hadiahmu telah diterima Allah. Paman, saat berkunjung ke rumah nanti, kau akan bertemu adik perempuanku. Usianya sekitar sepuluh tahun. Jika aku datang, ia sangat gembira menyambutku. Dan jika aku pergi, ia paling tidak mau kutinggalkan."
"Saat aku meninggalkannya kali ini, ia mengharapkanku cepat kembali.
Oleh Al-Akh Yahya Al-Windany
Diterjemahkan dengan beberapa editing tanpa merubah tujuan dan makna dari Kitab ‘Uluwwul Himmah indan Nisaa’, 212-217.
Lihat juga:
1. Masyari’ul Asywaqi ila Mashori’il Usysyaqi: 1/285-290.2.
Sifatush Shofwah: 2/369-3703.
Tarikh Islam: 1/214-215
————————————————–
Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.
Di kutip dari: Postingan abu Tsabit di Majmu’ah WIC (warta ikhwah cikarang)
WA TIC (Tholibul Ilmi Cikarang)
http://www.darussalaf.or.id/sirah/paman-lihatlah-bidadari-yang-pernah-kuceritakan-padamu-ada-di-dekatku-dia-menunggu-ruhku-keluar/
