Sangpencerah.web.id|—Di bawah naungan pilar-pilar Masjid Nabawi yang tenang, Abu Qudamah duduk dilingkungi para sahabatnya. Sebagai sosok mujahid yang menghabiskan separuh usianya di atas punggung kuda dan di antara kepulan debu medan laga, beliau senantiasa menyimpan kenangan mendalam dari setiap pertempuran. Namun, ketika salah seorang sahabat meminta beliau menceritakan peristiwa paling mengagumkan yang pernah disaksikannya, ingatan Abu Qudamah terbang jauh ke masa lalu, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Recca.
Kisah itu bermula tatkala Abu Qudamah sedang beristirahat di sebuah penginapan untuk bersiap membeli perlengkapan perang. Ketukan pintu yang perlahan memecah keheningan siang, memunculkan sosok wanita bergaun lusuh namun memancarkan keteguhan yang tak biasa. Tanpa ragu, wanita janda itu menyodorkan seikat kepangan rambut yang telah dibalut debu.
Rupanya, ia telah memotong mahkota terbaiknya demi menjadikannya tali kekang kuda perang. Sebab syariat melarangnya turun langsung ke medan laga, ia hanya berharap sehelai kepangan rambut itu bisa ikut menyapu debu-debu perjuangan di jalan Tuhan.
Tak berhenti di situ, ketulusan wanita tersebut semakin menggetarkan jiwa tatkala ia mempersembahkan putra tunggalnya yang baru berusia lima belas tahun. Pemuda belia yang telah menghafal Al-Qur'an dan lihai berkuda itu dilepasnya tanpa setetes pun air mata keraguan.
Di matanya, sang anak bukanlah aset duniawi yang harus digenggam erat, melainkan titipan mulia yang ingin dikembalikannya dalam kondisi paling indah. Sebelum berpisah, dengan kedua tangan mendongak ke langit, sang ibu memeluk erat buah hatinya seraya berdoa agar kelak dipertemukan kembali di tempat tertinggi di akhirat.
Keteguhan hati wanita itu teruji nyata ketika pertempuran usai dan Abu Qudamah kembali ke Recca untuk membawa kabar. Saat langkah Abu Qudamah terhenti di depan pintu rumahnya, sang ibu tidak menanyakan apakah anaknya masih hidup atau telah tiada. Ia hanya bertanya apakah Abu Qudamah datang membawa kabar gembira atau duka. Begitu mendengar bahwa putranya telah gugur sebagai syahid, wanita itu bersujud penuh syukur. Ketabahan luar biasa ini menjadi cermin abadi tentang makna keikhlasan tertinggi, sebuah ketundukan jiwa yang menempatkan cinta Ilahi jauh di atas segalanya.
Oleh Al-Akh Yahya Al-Windany
Diterjemahkan dengan beberapa editing tanpa merubah tujuan dan makna dari Kitab ‘Uluwwul Himmah indan Nisaa’, 212-217.
Lihat juga:
1. Masyari’ul Asywaqi ila Mashori’il Usysyaqi: 1/285-290.2.
Sifatush Shofwah: 2/369-3703.
Tarikh Islam: 1/214-215
————————————————–
Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.
Di kutip dari: Postingan abu Tsabit di Majmu’ah WIC (warta ikhwah cikarang)
WA TIC (Tholibul Ilmi Cikarang)
http://www.darussalaf.or.id/sirah/paman-lihatlah-bidadari-yang-pernah-kuceritakan-padamu-ada-di-dekatku-dia-menunggu-ruhku-keluar/
