September Kelabu Selayar Bumi Nekara Bukan Bumi Neraka

 


Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Di penghujung September bagi bangsa Indonesia bukan sekadar berlalunya bulan seperti biasanya. Di sana ada pesta kekejaman GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh), Tragedi Tanjung Priok, dan tragedi lainnya.

Adapun di Selayar, khusus di September tahun ini, tragedi tabung gas yang seperti hantu: nampak di agen-agen atau bahkan di warung-warung, giliran dicari tidak ditemukan. Begitu juga bahan bakar minyak berupa Pertalite, Pertamax, dan Solar. Kapal tanker jelas bongkar muat di Pelabuhan Benteng, giliran dicari raib entah ke mana. Jangan tanyakan antrean di APMS yang mengular tiap hari. Di pengecer, harga jenis Pertalite mencapai Rp17.000 hingga Rp20.000 per liter.

Mengenai kondisi sosial di masyarakat Selayar bulan ini, baik itu BBM maupun gas, situasi tersebut melengkapi deretan sejarah September Hitam di Indonesia.

Mulai dari peristiwa 30 September 1965 (G30S/PKI) yang merupakan kudeta berdarah menewaskan tujuh perwira tinggi militer sebagai titik awal kelam dalam sejarah politik Indonesia. Kemudian 12 September 1984 dalam Peristiwa Tanjung Priok, di mana ratusan warga tewas dalam aksi represif aparat sebagai pelanggaran HAM berat di Jakarta Utara. Lalu 24 September 1999 pada peristiwa Semanggi II, aksi mahasiswa di Jalan Semanggi berakhir bentrokan hingga sejumlah mahasiswa gugur dalam demonstrasi reformasi.


Catatan kelam berlanjut pada 7 September 2004 saat Munir, aktivis HAM, dibunuh dengan racun arsenik di pesawat hingga menjadi simbol perjuangan keadilan yang belum selesai. Pada 26 September 2015, Salim Kancil sebagai aktivis lingkungan tewas diserang terkait penolakan tambang pasir, memperlihatkan benturan suara rakyat melawan kekuasaan. 

Serta pada September 2019 dalam gelombang Reformasi Dikorupsi, aksi protes mahasiswa secara nasional menolak revisi UU KPK dan RUU bermasalah demi menuntut reformasi total.

Dan Selayar sebagai Negeri Nekara di bulan ini hampir menjadi "Negeri Neraka", utamanya kasus Gas dan BBM di kepulauan yang tembus Rp25.000 sampai Rp35.000 per liter.

Lebih baru Lebih lama