Dejavu di Dermaga Rauf Rahman. Ledakan Kapal Berulang, Evaluasi Keselamatan Jadi Pertanyaan

Dua Insiden kapal di lokasi yang sama. KM. Jabal Rahma 2018. KM.Cipta Anugrah 2026 (F/ Edt.Nan)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR, – Peristiwa mematikan yang kembali mengguncang Pelabuhan Rauf Rahman, Benteng. Terbakarnya KM Cipta Anugerah pada Senin (16/3/2026) pagi, bukan sekadar kecelakaan laut biasa, melainkan sebuah pengulangan sejarah kelam yang seolah memberikan sinyal bahwa standar keselamatan pelabuhan masih berjalan di tempat.

Kejadian yang terjadi sekitar pukul 06.30 WITA ini menelan korban jiwa. Dua orang ABK dilaporkan meninggal dunia setelah ledakan besar menghanguskan kapal yang memuat ribuan tabung LPG dan BBM tersebut. Ironisnya, insiden ini terjadi saat kapal justru sedang berada di titik yang seharusnya paling aman: di dermaga, sesaat setelah mesin dinyalakan.

Publik diingatkan kembali pada tragedi serupa yang menimpa KM Jabal Rahma di lokasi yang sama pada 1 September 2018. Secara teknis, kedua peristiwa ini memiliki DNA yang identik. Keduanya terjadi saat kapal dalam posisi sandar, bermuatan bahan mudah terbakar (LPG dan BBM), dan meledak tepat saat mesin baru saja di-starter.

Bedanya, jika pada 2018 hanya mengakibatkan luka bakar, tragedi 2026 ini menunjukkan eskalasi dampak yang jauh lebih fatal dengan adanya korban jiwa. Perbandingan ini memicu pertanyaan mendasar: apakah tidak ada pembelajaran sistematis dari insiden delapan tahun silam?

Secara faktual, titik ledakan selalu berasal dari interaksi antara sistem teknis kapal (mesin/listrik) dengan muatan berbahaya yang tidak terkontrol di ruang tertutup palka. Fakta bahwa ledakan terjadi di area dermaga, bukan di tengah laut. Ini menunjukkan adanya celah besar dalam manajemen risiko di darat.

Dua kejadian ini menunjukkan pola yang sama. Ini menandakan bahwa titik kegagalan utama bukan terletak pada tantangan di laut lepas, melainkan pada sistem pengawasan keselamatan di dalam pelabuhan itu sendiri.

Tuntutan untuk menggeser kapal karena kepadatan dermaga pada pagi itu juga menjadi sorotan. Tekanan operasional yang tidak dibarengi dengan protokol keamanan muatan berbahaya yang ketat disinyalir menjadi katalisator terjadinya kebocoran gas yang berujung maut.

Kini, asap hitam yang menyelimuti Pelabuhan Rauf Rahman memang telah hilang, namun bayang-bayang kegagalan sistemik yang terus berulang menjadi pekerjaan rumah besar bagi otoritas terkait. Jika pola ini kembali berulang di masa depan, maka kata "kecelakaan" mungkin tidak lagi relevan untuk menggambarkan kelalaian yang terstruktur. (Ishaq Mattoali)

Lebih baru Lebih lama