Suami Harus Tahu! Begini Cara Nabi Musa a.s. Hadapi Krisis Dan Kepanikan Istri

Editor Gambar: Sitti Nur Jannah

Sangpencerah.web.id| Selayar,--Menghadapi situasi genting di tengah ketidakpastian, adalah ujian nyata bagi setiap kepala keluarga. Lewat goresan penanya, Zico Alviandri mengingatkan kita bahwa setiap bahtera rumah tangga pasti akan menemui ombaknya masing-masing. Namun, bagaimana sikap seorang pemimpin keluarga saat krisis itu datang mengancam? 

Anggota Pimpinan Ranting Muhammadiyah Grand Depok City ini, mengajak kita meneladani sikap proaktif dan komunikasi terbuka yang ditunjukkan oleh Nabi Musa a.s. saat membawa keluarganya keluar dari krisis.

Setelah Nabi Musa a.s. menyelesaikan kontraknya, bahwa ia bekerja untuk Nabi Syu'aib a.s. selama 10 tahun untuk kemudian dinikahkan dengan salah satu putri Syeikh Madyan tersebut, Nabi Musa a.s. pun kemudian mengajak pasangannya untuk "pulang kampung" ke Mesir menjumpai ibunya.

Tapi naas, mereka sempat tersesat di tengah jalan dalam keadaan malam yang berselimut gelap dan cuaca yang dingin. Yang dimaksud dengan kata krisis pada judul tulisan adalah keadaan seperti ini, bukan prahara rumah tangga.

Saya rasa setiap keluarga pernah juga menghadapi masalah yang mengancam. Entah itu krisis keuangan, diusir dari kontrakan, anak tiba-tiba sakit, atau tersesat di jalan seperti yang dialami sang nabi, atau hal lainnya. 

Untuk peristiwa yang dialami Musa a.s. ini, setidaknya tiga kali Allah menceritakannya dalam al-Qur'an, yaitu dalam Surat Thaha ayat 10, Surat an-Naml ayat 7, dan Surat al-Qashash ayat 29.

Cerita yang lengkap ada pada ayat yang terakhir:

"Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan". (QS al-Qashash: 29)

Tentu ada pelajaran agung yang bisa kita tadabburi dari ayat-ayat yang menggambarkan sepenggal episode sebelum kemudian Musa a.s. diangkat menjadi nabi di lembah Thuwa tersebut.

Pertama, ketiga ayat itu mengetengahkan komunikasi kepala rumah tangga kepada tanggungannya terkait rencana yang hendak ia tempuh untuk menanggulangi krisis. Secara tersurat, ada kalimat "Musa berkata kepada keluarganya".

Memang, naluri seorang pria biasanya diam ketika menghadapi masalah. Pada kisah lain di mana Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan Hajar dan Ismail a.s. di lembah Mekah yang tandus, ia diam ketika ditanya sang istri terkait alasan ia berbuat begitu. Beberapa kali pertanyaan ia respon diam dan baru menjawab ketika pertanyaannya berupa "Apakah Allah yang memerintahkan?"

Mungkin masalah yang dihadapi Nabi Musa a.s. tidak seberat Nabi Ibrahim a.s.? Allahua'lam. Yang jelas, kita bisa meneladani tanggung jawab seorang pemimpin dari sikap nabi yang konon cadel atau gagap itu untuk menjamin rasa tenang anggotanya.

Komunikasi yang terbuka bisa membuat suasana krisis yang mencekam sedikit cair. Meski wanita diminta untuk memahami kecenderungan pria yang diam ketika berpikir mencari solusi, tetapi lelaki pun dituntut untuk meredakan kecemasan pihak lain dengan membuka percakapan. Sehingga semuanya berada di "jalan tengah" ketika bersama menghadapi problema.

Bayangkan bila suami tak mau membicarakan masalah malah asyik dengan gawainya; atau pergi meninggalkan keluarga untuk mancing, turing atau hobi lain; atau memang sibuk berpikir tapi menepiskan perhatian istri dengan kalimat: "udahlah gak usah ikut campur, percaya aja sama saya"; tentu keadaan makin runyam. 

Kedua, kata "sesungguhnya aku melihat api" menandakan upaya proaktif Musa a.s. mencari solusi. Ia mengamati sekelilingnya, bukan fokus melihat ke satu arah saja atau menunduk lalu pasrah.

Di sini terdapat keteladanan seorang pemimpin rumah tangga yang tak menyerah ketika bahtera yang ia nahkodai mengalami masalah.  Musa a.s. menolak untuk berkata, "ya udahlah mau gimana lagi" atau "liat nanti ajalah".

Ketiga, Musa a.s. berkata kepada keluarganya "tunggulah di sini" atau "tinggallah kamu". Artinya ia sendiri yang akan beranjak menuju sumber api.

Kemungkinan istrinya sudah berada di tempat yang aman, sementara perjalanan untuk menuju lokasi api itu penuh risiko. Musa a.s. tidak mau mengorbankan keluarganya.

Mungkin ada para suami yang takut memasang gas. Tapi ya jangan juga menyuruh istri atau anak. Malu dengan Nabi Musa a.s. Suruh saja penjualnya saat mengantar gas ke rumah, minta sekalian dipasangkan.

Selain itu, Musa a.s. pun menjemput sendiri peluang solusi yang ia lihat, bukan ngebos menyuruh anggotanya untuk menghampiri ke asal cahaya dan ia santai di tempat yang aman.

Ibarat kata, ia bukan seorang suami yang membiarkan istrinya bekerja sementara ia sehari-hari mengisi waku menganggur dengan mancing, main burung, nongkrong, atau effort paling besar hanyalah antar/jemput istri ke pabrik.

Keempat, dalam kalimatnya itu tersirat bahwa Musa a.s. mengerti target usaha yang akan ia tempuh, yaitu mendapatkan informasi perjalanan atau membawa sesuatu yang bisa menghangatkan keluarganya. 

Petunjuk jalan adalah kebutuhan utama, tapi kalaupun gagal didapat, Musa a.s. memberikan garansi untuk hasil minimalnya yaitu mencegah keluarganya sampai merasakan hipotemia. Dengan cara ini sang Nabi membangun keyakinan pada anggota keluarganya. Seorang pemimpin harus membangun rasa optimis bagi anggotanya. Apalagi dalam krisis yang menggerogoti rasa percaya diri. 

Kelak, sikap ini diperlihatkan oleh Musa a.s. lagi saat ia dan pengikutnya sedang di ujung tanduk hampir ditangkap Fir'aun di tepi Laut Merah.

"Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”" (QS asy-Syu'ara: 61-62)

Inilah teladan bagi para suami untuk memimpin istrinya agar senantiasa optimis dengan lebih dahulu menampakkan keyakinannya akan masa depan dan target-target usaha yang ia lakukan.

Begitulah pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat tersebut. Inilah luar biasanya al-Qur'an, tidak ada cerita yang dinukil tanpa ada pelajaran di dalamnya. (Zico Alviandri)

Lebih baru Lebih lama