Membaca Masa Lalu Selayar Bersama Supriadi, S.Sos., M.Si

Supriadi, S.Sos., M.Si

Sangpencerah.web.id| SELAYAR,--Jauh sebelum hiruk-pikuk modernitas menyentuh pesisir, Kepulauan Selayar telah menorehkan tinta emas dalam peta ekonomi Nusantara melalui pohon kehidupan. Sejak abad ke-11, lambaian pohon kelapa bukan sekadar peneduh pantai, melainkan urat nadi peradaban yang menghidupi negeri. Terinspirasi dari literatur The Green Gold of Selayar, Supriadi memotret kembali sejarah panjang ini sebagai refleksi kritis bagi arah pembangunan ekonomi berbasis sumber daya lokal di masa kini.

Jejak Emas Hijau: Kisah Petani Kelapa Yang Menghidupi Negeri.

Terinspirasi dari buku The Green Gold of Selayar.

Oleh: Supriadi,S.Sos.,M.Si

Di bentangan kepulauan Kepulauan Selayar, kisah tentang “emas hijau” bukan sekadar cerita modern tentang rumput laut yang mendunia. Jauh sebelum itu, jejak kejayaan sumber daya alam telah lebih dahulu ditorehkan oleh para petani kelapa yang hidup pada abad ke-11 hingga ke-13 Masehi. Mereka adalah pelopor ekonomi pesisir yang menjadikan alam sebagai sandaran hidup sekaligus penggerak peradaban lokal.

Awal Mula: Kelapa sebagai Sumber Kehidupan

Pada abad ke-11, masyarakat Selayar telah mengenal pola hidup agraris-maritim. Kelapa tumbuh subur di sepanjang garis pantai, menjadi tanaman yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat saat itu, kelapa bukan hanya bahan pangan, tetapi juga sumber minyak, bahan bakar, hingga komoditas barter.

Para petani mengolah kelapa secara tradisional mulai mengeringkan daging buah menjadi kopra, memeras minyak secara sederhana, dan memanfaatkan seluruh bagian pohon. Dari akar hingga daun, semuanya bernilai. Inilah bentuk awal “ekonomi hijau” yang berjalan secara alami, jauh sebelum istilah itu dikenal dunia.

Jalur Perdagangan dan Nilai Strategis

Memasuki abad ke-12 hingga ke-13, Selayar mulai terhubung dengan jalur perdagangan maritim Nusantara. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran antara Sulawesi dan Nusa Tenggara menjadikan hasil kelapa sebagai komoditas bernilai tinggi.

Kopra dan minyak kelapa mulai diperdagangkan ke wilayah lain. Para pelaut membawa hasil bumi Selayar sebagai bagian dari jaringan ekonomi yang lebih luas. Di titik ini, kelapa telah menjadi “emas hijau” pertama bagi masyarakat Selayar hingga menciptakan kesejahteraan sekaligus membuka interaksi dengan dunia luar.

Petani sebagai Penjaga Peradaban

Petani kelapa bukan hanya penghasil komoditas, tetapi juga penjaga keseimbangan alam dan budaya. Mereka memahami musim, angin, dan siklus alam. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun, membentuk identitas masyarakat Selayar sebagai komunitas yang selaras dengan alam.

Dalam konteks ini, peran petani menjadi sangat strategis. Mereka adalah fondasi ekonomi sekaligus penjaga keberlanjutan. Tanpa mereka, tidak akan ada “emas hijau” yang menopang kehidupan masyarakat.

Refleksi ke Masa Kini: Dari Kelapa ke Rumput Laut

Apa yang terjadi pada petani kelapa di masa lalu memiliki kemiripan dengan fenomena yang diangkat dalam buku The Green Gold of Selayar. Jika dahulu kelapa menjadi primadona, kini rumput laut mengambil peran tersebut sebagai komoditas unggulan.

Namun esensinya tetap sama: masyarakat Selayar mampu mengolah potensi alam menjadi sumber penghidupan. Baik kelapa di masa lampau maupun rumput laut di era modern adalah simbol ketahanan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Tantangan dan Harapan

Meski memiliki sejarah panjang, petani kelapa di Selayar saat ini menghadapi berbagai tantangan.Mulai dari fluktuasi harga, perubahan iklim, hingga pergeseran minat generasi muda. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah “emas hijau” kelapa akan tetap bersinar?

Jawabannya terletak pada bagaimana nilai sejarah ini dihidupkan kembali. Dengan inovasi, dukungan kebijakan, dan penguatan kapasitas petani, kelapa masih memiliki peluang besar untuk kembali menjadi komoditas strategis.

Penutup

Jejak petani kelapa Selayar di abad ke-11 hingga ke-13 adalah bukti bahwa kekayaan sejati suatu daerah terletak pada kemampuannya mengelola alam secara bijak. Dari kelapa hingga rumput laut, “emas hijau” selalu hadir dalam bentuk yang berbeda, namun dengan makna yang sama: kehidupan.

Kisah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pelajaran bahwa masa depan dapat dibangun dari kearifan masa lalu. Selayar telah membuktikannya dan dunia hanya tinggal menunggu untuk kembali menyadarinya.(Edt/Sitti Nur Jannah)

Lebih baru Lebih lama