Sangpencerah.web.id | SELAYAR,--Lima bulan lebih sudah berjibaku dengan petani, hutan, kebun, semak belukar, bukit, lembah, puting beliung, hujan, panas, dan alam lainnya.
Semenjak "GEMETAR" di telurkan di Musda KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahsiswa Islam),yang juga hampir bertepatan dengan hari jadi Selayar dan di eksekusi oleh Bupati Natsir Ali.
Maka semenjak itu team Elit Gemetar bergerilya di setiap sudut hutan, kampung, kota, kantor-kantor dan warkop untuk mewujudkan Revolusi pangan pertama semenjak Selayar ini ada.
Suka duka bergumul dengan rakyat, pemerintah Desa, penyuluh pertanian, birokrat, akademisi, pebisnis, terjadi tiap hari.
Para petani yang masih banyak "Patah pulpen" dan parahnya Perangkat Desa dan Penyuluh yang banyak "Patah Otak dan hati".
Ironi memang, tapi inilah fakta yang siap kita telan pahit - pahit berharap jadi obat manjur dalam memerangi kemiskinan dan kemelaratan tersistem.
Kemelaratan kultural dan akut. Butuh amputasi budaya dan pola pikir ekstrim.
Ada yang menarik dari kultural yang ada, bukan Sekedar hal negatif yg menghalangi kemajuan, tapi disana juga ada budaya positif yang harus kembali di hidupkan. Bahkan dikampanyekan massif, konsisten dan terpola.
Yaitu Budaya "A'rera" lampareng dalam budaya berkebun.
Ketika To Silajara selalu menunggu Contoh orang Sukses baru ngikut, beda dengan To China (Orang China), yang justru sebaliknya. Menjadikan dirinya contoh tanpa menunggu contoh dari orang lain.
Nah budaya A'rera a'lampareng dengan momentum gemetar adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan budaya positif revolusi pangan progresif yg membawa kedepan pintu gerbang kemerdekaan pangan dan ekonomi daerah.
Walau tantangan tentu ada, utamanya warga Desa banyak yang urbanisasi ke kota.
Sehingga warga desa makin sedikit lahan tidur makan banyak dan "nyenyak".
Hingga, bukan hanya punahnya petani kolonial tapi tidak ada generasi Petani milenial apalagi Gen-z.
Karena mereka terlanjur jadi masyarakat urban tanpa pernah melihat kebun, apalagi menggarapnya. Ini tantangan khusus, yang harus segera diatasi bersama. (Ishaq Mattoali)