Pagi itu tak seperti biasanya. Saya terbangun dengan perasaan yang senang seperti ada hal yang menyenangkan yang sedang menunggu saya di kampus. Hari itu Kampus Institute Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah Selayar (ITSBM) Mengadakan Kuliah Umum yang mana mengundang Prof.Dr.H. Gagaring Pagalung, M.Si.Ak.C.A. sebagai pemateri kali ini.
Yang tak ku sangka,..pertemuan ku dengan beliau adalah hal yang cukup mengesankan. Bagaimana tidak.. Semua yang beliau sampaikan hampir tak ada yang membuat mataku berhenti takjub apalagi sampai membuatku terkantuk-kantuk karena bosan. Tidak.. Sepanjang penjelasannya mataku berbinar seperti menemukan seseorang yang punya fikiran, punya ide yang sama denganku.
Prof. Gagaring Pagalung dikenal luas sebagai seorang akademisi tangguh dan pakar akuntansi yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pengembangan ilmu keuangan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Lahir di Makassar pada 16 Januari 1963, perjalanan intelektualnya dimulai dari kampus merah Universitas Hasanuddin (Unhas), tempat ia meraih gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 1987. Tidak berhenti di sana, dahaga akan ilmu membawanya ke Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menyelesaikan gelar Magister Akuntansi (1993) dan meraih gelar Doktor Akuntansi pada tahun 2006.
Kecintaannya pada dunia pendidikan dibuktikan dengan pengabdiannya sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Unhas sejak tahun 1988. Karier akademiknya melesat hingga ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Teori Akuntansi Keuangan pada Maret 2009. Selain mengajar, beliau pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas, sebuah peran yang mempertegas kapasitas kepemimpinannya di dunia pendidikan tinggi.
Pengalaman Prof. Gagaring melampaui batas-batas ruang kelas. Beliau memiliki rekam jejak yang mengesankan sebagai praktisi dan konsultan profesional. Kapasitasnya diakui secara internasional melalui perannya sebagai service provider untuk lembaga bergengsi seperti USAID (LGSP) dan Bank Dunia (World Bank). Di tingkat regional, ia aktif berkontribusi sebagai Dewan Riset Daerah (DRD) Sulsel dan memegang jabatan strategis sebagai Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh Makassar.
Prof. Gagaring Pagalung saat itu membawakan materi dengan tema "Bisnis Berbasis Kearifan Lokal; Mengangkat potensi daerah jadi produk Global" ia menyampaikan bahwa berbisnis itu seperti Pohon. Yang pertama harus diperkuat adalah Akarnya, kemudian batangnya, lalu daunnya agar menghasilkan buah yang bagus.
Jika aku mengartikan analogi tersebut, kita bisa bayangkan sebuah pohon yang tumbuh di tanah kita sendiri.
Mulai dari Akar: Menghujam pada Jati Diri
Bayangkan sebuah benih yang baru ditanam. Hal pertama yang ia lakukan bukanlah tumbuh menjulang, melainkan mengirimkan akar-akarnya jauh ke dalam tanah. Begitulah bisnis dimulai. Akar ini adalah Kearifan Lokal.
Sebelum kita bicara tentang pasar dunia, kita harus memperkuat "akar" kita. Yaitu pemahaman mendalam tentang potensi daerah, nilai-nilai kejujuran, dan keunikan budaya yang kita miliki. Jika akarnya rapuh, pohon itu akan tumbang saat ditiup angin persaingan. Jadi, kuatkan dulu prinsip dan identitasnya; pastikan kita tahu betul apa yang menjadi "ruh" dari produk daerah kita.
Lalu kemudian membangun Batang: Tegak dalam Profesionalisme
Setelah akarnya kuat, mulailah tumbuh batang yang kokoh. Batang inilah yang menjadi jembatan antara akar di bawah dan daun di atas. Dalam bisnis kita, batang adalah Sistem dan Manajemen.
Batang harus lurus dan kuat agar bisa menyalurkan energi dengan baik. Di sinilah kita bicara soal bagaimana mengelola usaha secara profesional, menjaga kualitas yang konsisten, dan membangun organisasi yang tangguh. Tanpa batang yang stabil, potensi daerah yang bagus tadi (si akar) tidak akan pernah sampai ke puncak; ia hanya akan menjadi tanaman semak yang kerdil dan berantakan.
Rimbunnya Daun: Menyapa Dunia dengan Inovasi
Ketika batang sudah tegak, barulah daun-daun mulai bersemi dengan rimbunnya. Daun inilah yang menangkap cahaya matahari dan membuat pohon itu terlihat indah dari kejauhan. Inilah Branding dan Pemasaran.
Daun harus adaptif; ia bergerak mengikuti arah cahaya. Begitu juga bisnis kita, ia harus mengikuti perkembangan teknologi dan tren global agar dikenal luas. Daun yang rimbun menunjukkan bahwa bisnis kita "hidup" dan siap berinteraksi dengan siapa saja, dari mana saja. Di tahap inilah potensi daerah kita mulai dipoles agar terlihat menarik di mata dunia.
Hingga Akhirnya Berbuah: Hasil yang Mendunia
Jika akar sudah menghujam, batang sudah kokoh, dan daun sudah rimbun, maka pohon itu tidak perlu dipaksa untuk berbuah. Buah akan muncul dengan sendirinya sebagai hasil alami dari proses yang benar.
Buah ini adalah produk unggulan yang akhirnya diakui secara global. Ia manis rasanya, berkualitas bentuknya, dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Namun ingat, buah yang baik selalu berasal dari pohon yang dirawat sejak dari akarnya.
Dalam hal ini kita simpulkan, Prof. Gagaring ingin berpesan bahwa janganlah kita terburu-buru mengejar "buah" (keuntungan besar atau ekspor) jika kita belum mengurus "akar" (etika dan potensi lokal) dan "batang" (manajemen) kita. Sebab, bisnis yang hebat adalah bisnis yang tumbuh besar tanpa melupakan tanah tempat ia bermula.
Dalam materi itu, beliau menyampaikan sebuah ide bisnis yang juga pernah terfikirkan olehku saat masih semester dua. Yang mana bisnis itulah yang saat ini mulai ku bangun akarnya. beliau mengatakan bahwa ia tak menyangka hal itu belumlah menyentuh Selayar. Sementara diluaran sana khususnya di Makassar sudah sangat berkembang pesat. bahkan sudah bermacam-macam jenisnya namun dengan tujuan yang sama.
Beliau mengatakan bahwa ide tersebut memanglah sangat bermanfaat jika bisa dibangun di Selayar karena hal tersebut sangatlah bermanfaat utuk orang banyak. Ketika kita sudah melakukan suatu bisnis yang bersifat menolong orang banyak, maka distulah kita bisa di sebut bertakwa.
Dan yah! itulah tujuan utamaku. Adalah bagaimana agar apa yang aku dapatkan di bangku kuliah ini, bisa bermanfaat bukan hanya untuk diriku sendiri tapi untuk masyarakat Selayar. Bagaimana agar akulah yang menciptakan pekerjaan itu, bagaimana agar ilmu inilah yang membangun Selayar, Bagaimana agar tak ada satupun anak-anak Selayar lagi yang terkubur mimpinya berpendidikan tinggi oleh faktor Ekonomi.
Setidaknya di Selayar sajalah dahulu yang akan membuktikan itu semua. Begitulah harapan yang tertanam dan mengakar dalam jiwaku sebagai seorang yang lahir di Tanah ini dan merasakan bagaimana sesaknya, sempitnya, dan gelapnya hidup di Pulau 3T Ini.
Dahulu, saat aku memikirkan ide tersebut, saya selalu berdoa untuk dipertemukan dengan orang-orang yang punya kapasitas dan ide yang sama dibidang ini. Dan Alhamdulillah.. satu persatu orang-orang yang aku minta itu sudah ku temukan. Termasuk hari itu, pertemuanku dengan Prof. Gagaring, semakin menyalakan api yang ada dalam jiwaku. Bahwa sedikit demi sedikit, Tuhan mengarahkanku pada suatu hal besar yang selama ini aku minta pada-Nya.
Sedikit kutitipkan pesan untuk Prof. Gagaring, karena pesanku yang tak kunjung dibalasnya selama empat hari ini, mungkin karena pesanku sudah tenggelam ditimpa pesan-pesan tugas kuliah Mahasiswanya. Saya harap, suatu saat kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu dan berbincang-bincang. Terimakasih atas ilmunya Prof. Dari Mahasiswa ITSBM Selayar (Sitti Nur Jannah)
Bagi Sitti Nur Jannah, pertemuan dengan Prof. Gagaring bukan sekadar kuliah umum biasa, melainkan sebuah restu alam atas mimpi yang ia rawat sejak lama. Kini, ia kembali melangkah dengan keyakinan baru: bahwa dari tanah Selayar yang sering dianggap terbatas, akan tumbuh sebuah pohon bisnis yang akarnya kuat menghujam bumi, batangnya tegak dengan profesionalisme, dan buahnya mampu dinikmati hingga ke mancanegara. Sebuah janji untuk tidak membiarkan mimpi anak-anak Selayar pupus hanya karena keadaan ekonomi.
Api semangat telah dinyalakan, dan visi telah dipertegas. Kuliah umum hari itu menjadi pengingat bahwa membangun daerah tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru mengejar hasil. Selayar mungkin masih berstatus daerah 3T, namun di tangan generasi yang tak lupa akan tanah asalnya, perubahan besar hanyalah tinggal menunggu waktu.
Profil & Biodata Penulis
Nama Lengkap: Sitti Nur Jannah
Identitas Akademik: Mahasiswa Institut Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar (NIM: 24110147).
Asal Daerah: Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Fokus & Keahlian
Jannah adalah seorang mahasiswa yang mengombinasikan latar belakang akademik di bidang teknologi sains dengan kemampuannya di dunia Jurnalisme Literer. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada pengembangan potensi lokal, khususnya di sektor perikanan dan kewirausahaan berbasis kearifan lokal.
Pengalaman & Rekam Jejak
Pengembangan Media Lokal: Aktif sebagai pengelola dan pengembang konten pada media lokal "SangPencerah_Newslyr". Di sini, ia berperan dalam merancang struktur informasi, rekrutmen kontributor, hingga mengemas berita dengan bahasa yang naratif dan menarik.
Riset Potensi Daerah: Pernah melakukan investigasi dan penyusunan laporan mengenai "Assulo"—metode memanah ikan tradisional di Selayar—sebagai upaya mendokumentasikan nilai sosial-budaya dan teknis masyarakat pesisir.
Aksi & Kontribusi Sosial
Koordinator Pelaksana Pentas Seni & Aktivis Suara Rakyat:
Ia menjadi sosok di balik kegiatan "Demokrasi Dalam Seni" yang diadakan oleh Kelompok Kreatif Mahasiswa ITSBM Selayar pada September 2025.
Melalui acara tersebut, ia menyuarakan tema "Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat" sebagai bentuk perjuangan menjaga kedaulatan rakyat melalui medium seni dan teater.


