Sangpencerah.web.id | MAKASSAR – Lewat narasi lembut nan puitis berjudul "Cerita Senja", Salmawati mengajak kita kembali menyusuri tanggul Pantai Losari. Bukan sekadar mengenang aroma pisang epe yang melegenda, Salma melalui tokoh Renjana, membukakan mata kita tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak di balik kemegahan gedung-gedung kota.
"CERITA SENJA"
Salmawati, S.Pd.
Hari mulai senja, lampu – lampu sepanjang pantai Losari mulai menyala. Cahaya jingga diufuk barat pun semakin indah menghiasi cakrawala. Suasana pantai losari semakin ramai pengunjung. Aroma khas pisang epe pun semakin menusuk hidung dan ikut mengundang selera makan.
Hari ini Renjana sudah janjian dengan Sahabatnya untuk bertemu di Pantai Losari. Menikmati Sunset sambil makan pisang epe.
“Dulu Pantai Losari sangat alami. Para pengunjung menggunakan tanggul sepanjang pantai, melihat sunset sambil menikmati makanan khas pisang epe yang dijual disepanjang pinggiran pantai ini. Karena itu, Pantai Losari diberi julukan sebagai meja terpanjang di dunia,” Cerita Renjana kepada Sahabatnya mengenang Pantai Losari dimasa lalu.
‘Betul sekali, dulu hampir tiap hari sabtu kita habiskan sore hari disini, menunggu senja sampai ditelan gelapnya malam. Usai sholat magrib kita masih lanjut duduk disini. Saya ingat sekali bagaimana pengunjung berjejeran dari ujung sana samping Hotel itu sampai di ujung sana orang duduk menikmati udara sejuk, sunset, pisang epe atau bercengkrama dengan keluarganya,” Sahabatnya menjelaskan sambil mengarahkan tangannya ke arah Hotel MGH dan kearah ujung selatan pantai.
“Tapi Sejak direklamasi Pantai Losari mengalami banyak sekali perubahan baik dari segi fungsi maupun pemnfaatannya. Saya suka Pantai Losari sekarang tapi Rindu dengan suasana pantai losari yag dulu. Air laut yang jernih, udara yang segar. Sekarang air laut disini sudah tercemar,” jelas Renjana.
Sahabatnya tersenyum sambil menyeruput Jus Alpukat ditangannya. Pesanan Pisang Epenya juga sudah diatar. “Mudah-mudahan rasa pisang epe favorite kita belum berubah,” kata sahabatnya diikuti dengan tawa riang mereka.
“Hanya ini yag tidak berubah. Padahal yang menjual sudah generasi kedua dari Deng Mariama. Sekarang jualannya dipegang oleh anaknya Deng Marinti. Deng Mariama sudah tua, jadi dilanjutkan oleh anaknya. Tapi rasanya masih seperti dulu,” Renjana memotong pisang epe dipiringnya dan mulai menikmati kudapan khas Makassar itu. Sementara Sahabatnya sudah hamper habis satu buah.
“Aku masih seperti yang dulu…,” Sahabatnya melantunkan salah satu lirik lagu mewakili rasa pisang epe favorit mereka yang rasanya masih sama waktu mereka SMA.
“Betul betul betul. Kata Ipin Upin. Padahal sudah 4 tahun kamu meninggalkan Makassar demi mengejar cita-cita di Tanah Jawa,” timpal Renjana.
Sejak tamat SMA Sahabatnya memilih Kuliah di IPB sementara Renjana memilih kuliah di Makassar dan mengambil jurusan komunikasi.
“Bukan hanya pisang epeknya yang tetap sama. Kamu juga masih sama, ceriah, asyik. Persahabatan kita juga tetap sama. Saya kira kamu sudah melupakan diriku setelah bertemu dengan teman-teman baru di kampus,” ungkap sahabatnya sambil melempar batu-batu kecil ke air laut yang ada didepan mereka.
“Justru saya yang berpikir begitu, kamu pasti sudah mendapat teman baru yang jauh lebih baik, lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar, lebih...lebih segala galanya dan melupakan aku yang sederhana ini,” timpal Renjana.
“Renjana itu hanya satu di dunia ini. Ratusan teman-teman disana tidak ada yang sama seperti dirimu, Makanya begitu ada liburan dan kesempatan ke Makassar yang pertama saya temui, tentunya setelah orang tua dan orang di rumah ya dirimu,” Renjana tertawa mendengar kata-kata sahabatnya.
“kenapa kamu tertawa, apanya yang lucu?,” “Kedengarannya lucu, sedikit lebai..tapi saya senang mendengarnya,”
“Apa rencanamu setelah kuliah nanti?”
“Saya?” Renja menunjuk dirinya sambil senyum senyum ke arah sahabatnya.
“Iya Siapa lagi. Ini nih yang tidak bisa dimiliki orang lain. Disaat orang bertanya serius kamu malah bercanda?”
“Kamunya saja yang selalu serius. Serius itu kalau lagi belajar, lagi di kampus kuliah atau lagi konsultasi skripsi dengan dosen. Kalau lagi ngobrol begini santai lah,”.
“Ok, jadi apa rencanamu setelah kuliah nanti,” Sahabatnya mengulang kembali pertanyaanya.
“mmm, Rencananya sih melanjutkan rencana yang sudah direncanakan. Yang…saat ini sementara berjalan,”
“Melanjutkan rencana yang sudah direncanakan. Sekarang apakah bahasamu sudah hilirisasi juga ya?, maksunya bagaimana? Melanjutkan rencana yang sudah direncanakan dan…,”
“Dan sementara berjalan. Betul,” Renjana memotong pembicaraan sahabatnya.
“Kamu lihat disana?. Itu sebelah jembatan ada Rununawa yang indah sekali. Didepannya ada gedung megah CCC dan gedung yang lebih mewah lagi PIPO Mall dan Hotel The Rindra,” Renjana menunjuk kearah yang dimaksud dan sahabatnya pun mengikuti arah pandangannya ke sana.
“Iya, terus apa yang ada di sana? Kamu berencana buka usaha disana?” Tanya sahabatnya dengan bingung.
“Iya, nah dibelakang Rusunawa itu tepatnya sekitar 1 Km dari Rumah Jabatan Walikota Makassar ada puluhan anak-anak yang tidak tau membaca dan menulis. Tapi mereka pintar mencari uang,” papar Renjana dengan wajah serius.
“Terus buat apa? Kan mereka sudah pintar cari uang. Tujuannya akhir dari semuanya kan itu bagaimana orang bisa mandiri, bagaimana orang bisa mendapatkan penghasilan sendiri,” tutur sahabatnya.
“Nah ini nih pemikiran yang kurang tepat. Kamu tahu bagaimana mereka mencari uang? Kalau bukan memulung sampah, mencari tude, mereka mengemis. Ingat mereka adalah generasi masa depan kita. Pendidikan itu bukan hanya milik sebagian orang saja tetapi hak semua warga,” papar Renjana.
“Lalu apa yang kamu rencanakan untuk mereka,”
“Saya sedang Membuka Sekolah Alam Untuk Mereka. Lokasinya ditengah-tengah pemukiman penduduk. Setiap sore saya mengunjungi mereka dan menemani mereka belajar,”
“Kedengarannya sangat menarik. Ok Lanjutkan saya ingin mendengarnya. Otakmu semakin encer ya kuliah di UNIFA. Ini pasti efek air dingin yang selalu disiramkan ibumu dikepalamu juga. Makanya ide-idemu semakin cemerlang,”
“Eits, jangan heran, itu masih kulanjutkan sampai sekarang, kalau lagi buntu. Aku siram kepalaku dengan air es, hhahahahaha,”
“Ok saya semakin penasaran dengan rencana cemerlangmu itu,”
“Ok, kalau begitu simak baik-baik ya. Ini seriussss, lebih serius daripada konsultasi dengan dosen pembimbing,”
“Baik. Jadi dalam 6 bulan ini rata-rata mereka sudah pintar membaca dan menulis. Usia mereka jika sekolah itu setara dengan murid kelas 4 atau 5 SD ada juga yng seharusnya sudah tamat SD. Nah karena sudah pintar membaca dan menulis, sambil mempelajari dasar-dasar matematika saya mengajari mereka keterampilan sesuai dengan bakat dan minatnya masing – masing,”
Sahabatnya menagngguk – angguk mendengar penjalsan Renjana “Semakin menarik rupanya program yang kamu jalankan ini,” ucapnya.
“Ya, Saya juga sudah bekerjasama dengan salah satu PKBM untuk mengambikan mereka Ijazah paket A. Dan berhubung kamu ada di sini saya ingin kamu menjadi tamu istimewahnya besok sore di sana. Ajarkan mereka keterampilan bertanam cabe. Biar hidupnya kelak tak lagi sepedis cabe rawit,”
“Ok, besok kita kesana,” jawab sahabatnya. Hari sudah mulai gelap. Adzan magrib sudah berkumandang. Mereka meninggalkan Pantai Losari dan membawa cerita di Senja itu untuk diwujudkan diesok hari.
Di bawah langit Makassar yang kini bertabur bintang, sebuah rencana mulia telah dipahat. Karena bagi Renjana, rindu yang paling nyata bukan hanya tentang masa lalu, melainkan tentang membangun masa depan yang lebih cerah bagi sesama.
Senja mungkin telah tenggelam, namun percakapan sore itu membuktikan bahwa seperti rasa pisang epe' yang tak berubah, ketulusan persahabatan dan kepedulian Renjana terhadap tanah kelahirannya akan tetap abadi.
(W/Sitti Nur Jannah)