Gadget, Distraksi Dan Krisis Konsentrasi

gambar ilustrasi gadget, distraksi dan krisis konsentrasi

Sangpencerah.web.id | Opini, -- Semakin pesatnya perkembangan teknologi digital, sebagian besar pelajar mengorbankan nalar dan identitas demi viewers. Meramu berbagai konten provokatif dan kosong dari substansi. Menjadi budak algoritma demi sebuah popularitas. Notifikasi, likes dan komentar, menjebak dalam lingkaran tanpa akhir, membuyarkan segala fokus pada tujuan, serta menangguhkan kreativitas pelajar. 

Kurangnya pengetahuan tentang nilai sebuah konten bukan berasal dari banyaknya jumlah viewers, melainkan dampak serta makna yang terkandung didalamnya. Peduli apa dengan kebenaran? Perhatian dan pengakuan adalah hal yang utama. Mengunci diri dalam permainan popularitas yang tidak ada habisnya. Instagram, Facebook, dan Twitter, yang seharusnya menjadi sumber informasi dan inspirasi berubah menjadi sumber kecemasan dan stres yang berkepanjangan.

Media sosial tidak lain hanyalah kehidupan dalam jaringan. Namun banyak yang mengorbankan interaksi sosial dalam kehidupan nyata. Perlunya pemahaman bahwa ukuran keberhasilan yang sebenarnya dari sebuah konten adalah makna serta terjalinnya hubungan sosial dengan orang lain yang membentuk identitas serta mencapai tujuan yang lebih berarti. Sehingga substansi menjadi prioritas daripada sekedar mengejar sensasi.

Media sosial adalah sarana untuk mempermudah segala aktivitas manusia, sarana untuk berekspresi dan juga sarana untuk edukasi secara global yang menciptakan efisiensi dari berbagai aspek kehidupan. Media sosial mampu memberikan informasi secara langsung lisan maupun tulisan, sehingga sebagai manusia yang berakal seharusnya kita mampu menggunakan media sosial secara bijak. 

Lalu bagaimana multitasking dapat menjadi alasan depresi kalangan pelajar dan umum?. Bukankah justru mempermudah dan mengefektifkan proses pekerjaan?. 

Kemampuan multitasking dalam media sosial mampu meringankan, memudahkan tapi sekaligus mengurangi fokus serta kualitas pekerjaan. Dari hasil studi yang dilakukan oleh Miller (2013) dapat disimpulkan bahwa multitasking dapat menurunkan produktivitas organisasi namun dengan mengurangi multitasking, justru dapat meningkatkan visibilitas menjadi semakin baik. Beberapa artikel dari femina Pesonna juga mengatakan bahwa multitasking dapat memicu depresi. Kecenderungan melakukan kesalahan ketika berpindah dari satu tugas ke tugas yang lainnya memperkuat alasan tersebut. Multitasking menurunkan kemampuan memory bagian otak yang pertama kali mengolah informasi yang masuk untuk di simpan dalam ingatan. 

Proses pengerjaan serta berfikir beberapa hal dalam waktu bersamaan, menyebabkan stimulasi berlebihan pada otak. Dampaknya atensi pun berpindah-pindah sehingga tidak dapat memilah mana informasi penting dan tidak penting, Mudah lupa yang menimbulkan stress dan mudah tersulut emosi marah. Kondisi stres berkepanjangan, merusak sel otak yang memunculkan gejala yang kita sebut dengan Alzheimer.  

Lalu bagaimana instansi pendidikan menghadapi hal ini? .  

Apakah sudah melupakan tujuan utama yaitu memberikan pendidikan yang berkualitas, lebih mementingkan popularitas dan kesenangan pribadi. Mengacak-acak kemampuan berpikir kritis dengan dalih pemberontakan dan ketidakhormatan. 

"Tak perlu susah payah belajar untuk menyelesaikan tugas, toh semua sudah ada di google? Nilai adalah segalanya, tak peduli halal atau haram. "Dunia hanya peduli pada hasil."  Lalu untuk apa sekolah? Jika mencuri jawaban boleh, kenapa mencuri barang tidak? bukankah sama-sama mencuri?. Lalu apakah mungkin sekolah adalah tempat belajar mencuri yang baik? Karena orang yang tidak sekolah mencuri ayam, sedang kan yang berpendidikan tinggi mencuri uang Rakyat.. Pencuri ayam dikeroyok sampai mati... Pencuri uang rakyat di layani sepenuh hati.. Begitukah makna sistem pendidikan saat ini?.

Sekolah seharusnya menjadi langkah awal untuk menciptakan manusia berkualitas dengan intelektual dan daya saing yang tinggi, yang melahirkan Pemuda-pemudi tangguh pembangun bangsa, alangkah mirisnya jika malah melahirkan tikus-tikus penghancur negara.

Mari kembalikan pendidikan kejalan yang benar stop menormalisasikan hal yang buruk di sekolah demi terwujudnya Indonesia emas di masa yang akan datang.


-Sitti Nur Jannah-

Lebih baru Lebih lama