Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Pemahaman yang sempit mengenai konsep toleransi dalam Islam, melahirkan istilah toleransi kebablasan (Gado-gado keyakinan). Islam mengajarkan keterbukaan terhadap perbedaan dan menghormati keyakinan orang lain, tanpa harus merendahkan keyakinan kita sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip ukhuwah insaniyyah (persaudaraan manusia), di mana umat Islam diharapkan menjalin hubungan yang baik dengan seluruh umat manusia, apapun agamanya.
Jika melirik sejarah dunia, ditemukan pola yang berulang dan konsisten. Ketika umat Islam melemahkan identitasnya demi toleransi, justru saat itulah mereka paling rentan disingkirkan. Bukan karena Islam mengajarkan kebencian, tetapi karena hilangnya batas identitas yang membuat umat kehilangan daya lindung sosial, politik, dan solidaritas.
Berdasarkan data dan fakta sejarah dapat dilihat sebagai berikut,
1. Andalusia (Spanyol Islam) – 711–1492
Selama hampir 8 abad, Muslim hidup berdampingan dengan Kristen dan Yahudi. Muslim memberi kebebasan beragama, banyak Muslim melebur budaya, bahasa, dan adat setempat. Namun identitas Islam makin tidak ditampakkan demi harmoni sosial. Ketika kekuasaan Islam runtuh, terjadi Inkuisisi Spanyol. Muslim yang sulit dibedakan identitasnya justru lebih mudah diburu, dipaksa murtad, dibantai, diusir, atau dibakar hidup-hidup.
Fakta yang ada dalam sejarah tersebut membuktikan, tak peduli seberapa “Spanyol”-nya seorang muslim, saat kekuasaan berganti, ia tetap dibunuh karena Islamnya.
2. Bosnia – 1992–1995
Sebelum perang Balkan, saat itu muslim Bosnia dikenal sangat liberal, Natal dirayakan bersama, Pergaulan lintas agama nyaris tanpa sekat, identitas Islam dianggap urusan privat, Namun saat Yugoslavia runtuh, Nasionalisme Serbia Ortodoks bangkit dan Muslim Bosnia ditetapkan sebagai target pembersihan etnis
Akibatnya, ada ±100.000 Muslim dibantai, ±2 juta mengungsi, hingga Genosida Srebrenica (1995) yang membuat >8.000 Muslim pria & anak laki-laki dieksekusi. Ironinya, toleransi tidak menjadi perisai. dan hilangnya identitas justru membuat mereka terlambat bersatu dan melawan.
3. Ambon – Indonesia (1999–2002)
Sebelum konflik, Muslim dan Kristen hidup bercampur, Identitas agama sering disamarkan serta banyaknya yang bangga berkata “sudah tidak ada sekat agama”
Namun ketika krisis nasional 1998, provokasi politik dan milisi mulai masuk dan isu agama dimobilisasi. Akibatnya, kampung muslim dibakar, ada ribuan muslim dibunuh, hingga wilayah dipisah secara paksa.
Fakta yang terjadi di lapangan, banyak korban awal adalah Muslim yang paling cair identitasnya, sehingga tidak siap menghadapi konflik agama.
4. Rohingya – Myanmar
Selama puluhan tahun, muslim Rohingya hidup berdampingan, tidak menonjolkan identitas Islam, dan mengikuti budaya mayoritas. Namun saat nasionalisme Buddha ekstrem bangkit, Rohingya dicap “asing” dan “pendatang”, yang berujung pada pembantaian massal, pemerkosaan sistematis, dan pengusiran lebih dari 1 juta Muslim.
Pelajaran pahit yang dapat disimpulkan bahwa, Asimilasi budaya tidak pernah menjamin keselamatan ketika identitas agama dijadikan kambing hitam.
5. Xinjiang (Uighur) – Tiongkok
Awalnya muslim Uighur hidup damai dan Identitas Islam ditekan atas nama “harmoni”
yang terjadi kini, Masjid dihancurkan, Al-Qur’an dibakar, serta jutaan Muslim dipenjara di kamp “re-edukasi”. Faktanya, yang ditarget bukan kekerasan, tetapi dentitas Islam itu sendiri.
6. Poso Berdarah ( Sulteng, Indonesia)
Sebelum konflik berdarah Poso pecah pada tahun 1998, masyarakat di sana secara umum hidup berdampingan dengan baik dan harmonis, berlandaskan pada falsafah lokal "Sintuwu Maroso" yang berarti persatuan yang kuat. Pertalian keluarga dan pernikahan antar pemeluk agama sudah umum terjadi dan tidak menjadi masalah.
Konflik Poso, yang berlangsung dari tahun 1998 hingga 2001, bermula dari bentrokan kecil antarkelompok pemuda yang kemudian meluas menjadi kerusuhan bernuansa agama dan etnis, didorong oleh faktor-faktor kompleks seperti persaingan ekonomi, ketimpangan sosial-politik, dan perebutan kekuasaan di tingkat elit lokal.
Serangan terhadap Pesantren Walisongo di Desa Sintuwulemba (Kilo Sembilan) pada 28 Mei 2000. Dalam insiden ini, milisi Kristen melakukan pembantaian sadis yang mengakibatkan gugurnya sekitar 165 hingga 191 santri dan ustaz. Jenazah para korban banyak ditemukan di kuburan massal di sepanjang Sungai Poso
Dari sejarah-sejarah yang diketahui, kita dapat menarik benang merahnya, bahwa di dalam semua peristiwa ini, polanya sama. Mulai dari toleransi tanpa batas, kemudian Identitas muslim dikaburkan, hingga sulit dibedakan mana muslim, mana kafir, yang selanjutnya membuat kekuatan politik berubah, dan berujung pada muslim yang menjadi target pertama.
Dalam hal ini, sejarah membuktikan, yang tidak menjaga batas, akan mudah dihapus.
Islam tidak mengajarkan kebencian. Islam mengajarkan berlaku adil, hidup berdampingan, dan toleran tanpa meleburkan akidah.
Karena sejarah telah berkali-kali menjawab, saat keadaan normal, toleransi dipuji. Saat keadaan berubah, identitaslah yang menentukan siapa yang diselamatkan dan siapa yang dikorbankan.
Toleransi tidak berarti meninggalkan prinsip-prinsip agama kita, tetapi justru menunjukkan kelapangan hati dalam menghormati perbedaan. Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi, toleransi adalah wujud dari kematangan iman, di mana kita dapat berdialog dan bersahabat dengan orang lain tanpa merasa terancam atau terganggu. (IM/SNJ)