Jendral (Purn) Gatot Nurmatyo. Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia
Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Gatot Nurmantyo (lahir 13 Maret 1960) adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (2015-2017). Sebelumnya, Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman.
Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menggantikan Letnan Jenderal TNI Muhammad Munir. Pada bulan Juni 2015, ia diajukan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon Panglima TNI, menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki masa purna baktinya.
Pada masanya Gatot disebut-sebut pernah berhasil menggagalkan pembelian 5.000 senjata api ilegal dari institusi non-militer yang mencatut nama Presiden Jokowidodo.
Dikutip dari Kompas.com, pada saat itu, beredar kabar bahwa 5000 senjata ilegal yang diungkapkannya tersebut adalah milik Polri,. Namun Gatot membantah kabar tersebut.
Diketahui setelah pada Jumat (22/10/2017) Gatot mengungkapkan ada institusi non-militer yang mencatut nama Presiden Joko Widodo untuk pengadaan 5.000 senjata api ilegal, terjadi peristiwa tertahannya senjata api milik Brimob Polri di Gudang Kargo Unex Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu (30/9/2017).
"Menurut saya, itu kebetulan saja (terjadi pada waktu berdekatan)," ujar Gatot dalam wawancara dengan Rosiana Silalahi yang tayang di Kompas TV, Kamis (5/10/2017).
Gatot menegaskan bahwa dirinya tidak menyudutkan institusi manapun. Dia menolak berkomentar lebih lanjut. Ia mengatakan bahwa Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto yang berhak untuk menjawab mengenai persoalan tersebut.
Baru-baru ini, beredar vidio menampilkan jendral (Purn) Gatot yang viral (21/12) menyampaikan dukungan terbuka kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) sekaligus peringatan keras terkait dampak bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Dalam vidio tersebut, Gatot menilai skala kehancuran banjir bandang kali ini bahkan lebih mengerikan dibandingkan tsunami 2004. Menurutnya, karakter bencana saat ini jauh lebih kompleks dan sulit ditangani.
“Tsunami dulu menghantam wilayah pesisir dan masih bisa diakses lewat laut. Sekarang, bencana ini memutus segalanya. Yang datang bukan hanya kayu, tapi lumpur tebal yang menelan tanah, rumah, sertifikat, ternak, bahkan nyawa,” ujar Gatot dalam video tersebut.
Video yang beredar luas di media sosial menampilkan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, menyampaikan dukungan terbuka kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) (Suber: Rakyataceh.net)
Gatot juga menyoroti kemungkinan jumlah korban yang jauh lebih besar dari data sementara. Gatot meyakini bahwa angka korban bisa mencapai ribuan apabila pencarian dan pendataan dilakukan dengan benar.
“Kalau pencarian dilakukan dengan benar, saya yakin jumlah korban bisa lebih dari 3.000 orang. Ini adalah bencana besar yang membutuhkan perhatian penuh negara,” tegasnya.
“Fokus seharusnya pada korban yang selamat. Namun perhatian itu belum terlihat maksimal. Ini sudah akhir tahun, anggaran daerah menipis, dan transfer dari pusat berkurang. Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah daerah?” katanya.
Pernyataan Gatot semakin menguat setelah menyaksikan wawancara Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam program Mata Najwa. Dalam wawancara itu, Mualem tampak emosional saat menjelaskan keterbatasan anggaran daerah di tengah penderitaan rakyatnya.
“Rumah warga hancur total. Harus dibangun hunian sementara yang aman dan kokoh. Relokasi tidak bisa ditunda, dan biayanya sangat besar. Pemerintah daerah jelas tidak sanggup menanggungnya sendiri,” ujarnya.
Gatot turut mengingatkan bahwa, ancaman lanjutan akibat lumpur dan kayu gelondongan yang masih tersisa di wilayah terdampak. Jika hujan deras kembali terjadi, risiko bencana susulan dinilai sangat tinggi.
“Pemerintah pusat harus serius memikirkan relokasi permanen. Jika tidak, masyarakat akan terus kehilangan kebun, pekerjaan, dan tempat tinggal mereka,” katanya.
Menutup pernyataannya, Gatot menegaskan bahwa kehadiran negara dalam situasi krisis adalah sebuah kewajiban mutlak.
“Pemerintah ada untuk rakyat. Dalam kondisi seperti ini, negara harus benar-benar hadir dan bertindak untuk menyelamatkan warga yang telah kehilangan segalanya,” pungkasnya.
Gatot Nurmantyo menekankan pentingnya jiwa ksatria dan etika dalam berpolitik maupun bernegara. Dengan menyebut Mualem (mantan Panglima GAM) sebagai patriot, Gatot menunjukkan sikap yang mirip dengan Jenderal Sudirman yang sangat menghargai pejuang yang setia pada prinsip dan tanah airnya, meskipun pernah berada di pihak yang berbeda dalam sejarah.
Gatot sendiri pernah menyampaikan bahwa ia memengang tiga jimat yang digunakan jendral sudirman
"Jimat pertama, tidak pernah lepas dari bersuci (menjaga wudhu) Jimat kedua, salat tepat waktu,
Jimat ketiga, melaksanakan semuanya dengan ikhlas untuk bangsa dan rakyat Indonesia, bukan untuk diri sendiri, keluarga maupun kepentingan partai", Ungkapnya dikutip dari Wartakotalive.com. (SNJ)
Tags
News