Kondisi Gedung Terra Drone Indonesia
Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Terra Drone, perusahaan penyedia solusi teknologi drone untuk berbagai industri seperti pertambangan, perkebunan, konstruksi, energi, dan agrikultur, yang menawarkan layanan survei, pemetaan, inspeksi, pemantauan, penjualan drone, serta pelatihan dan konsultasi. Sebagai bagian dari Terra Drone Group yang berasal dari Jepang dan menggabungkan teknologi global dengan keahlian lokal, Terra Drone menyediakan solusi berbasis data yang efisien dan akurat.
Belum lama ini, dikabarkan terjadi insiden kebakaran selasa (9/12) di gedung Terra Drone di Jakarta Pusat yang menewaskan 22 orang dipicu oleh jatuhnya baterai drone.
Dikutip dari liputan6.com, Kepolisian mengungkapkan tidak ada standar operasional prosedur (SOP) terkait penyimpanan barang mudah terbakar di gedung Terra Drone.
"Hasil penyelidikan kami menemukan fakta bahwa tidak ada SOP terkait dengan penyimpanan baterai mudah terbakar," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Polisi Susatyo Purnomo Condro, pada 12 Desember 2025.
Dia menyebutkan perusahaan tidak memisahkan antara baterai rusak, baterai bekas, maupun baterai yang bagus.
"Semua dijadikan satu," ujar Susatyo.
Selain itu, ruang penyimpanan hanya berukuran sekitar 2x2 meter persegi, tanpa ventilasi dan ketahanan terhadap api. Bahkan, generator (genset) dengan potensi panas berada di area yang sama.
Mengutip blommbergtecno.com, Berdasarkan keterangan saksi, terdapat sebuah ruangan berukuran 2x2 meter di lantai 1 Gedung Terra Drone yang berfungsi sebagai gudang. Isinya mulai dari baterai yang masih baik, baterai yang tengah diperbaiki, baterai yang rusak, hingga mesin genset.
Percikan api muncul saat empat tumpukan baterai drone berkapasitas 30.000 mAh terjatuh ke lantai. Ternyata, percikan api tersebut langsung menyulut api dari sejumlah baterai dan barang mudah terbakar lainnya di gudang tersebut. Dalam hitungan waktu yang cepat, api langsung berkobar dan membakar gudang serta sebagian besar lantai 1 gedung tersebut.
"Faktor pemicu langsungnya adalah bahwa baterai Lithium Polymer yang rusak ini, yang ditumpuk tadi itu, di mana terdapat 6 sampai 7 baterai error, baterai rusak, bercampur dengan baterai-baterai lainnya," kata Susatyo.
Dari kejadian tersebut sejumlah isu ikut mencuat mulai dari jumlah dan penyebab korban meninggal dunia; kelayakan gedung; hingga kabar penyimpanan data peta pembalakan liar, peta tambang dan pembukaan kebun sawit di hutan Sumatra.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan tahun 2025, angka deforestasi netto (deforestasi dikurangi reforestasi) yang terjadi di hutan Sumatra pada tahun 2024 sebanyak 78.030,6 hektar. Angka ini menyumbang sekitar 44 persen dari total deforestasi di Indonesia pada tahun tersebut, yang mencapai 175.437,7 hektar.
Provinsi-provinsi di Sumatra dengan tingkat deforestasi tertinggi meliputi, Riau (20.812 ha), Sumatera Selatan (20.184 ha), Jambi (14.839 ha), dan Aceh (8.962 ha). Tentunya para pelaku akan dijerat Sanksi atas pembalakan liar di Indonesia yang diatur dalam berbagai perundang-undangan, terutama Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, yakni pidana penjara dan denda bagi pelaku perorangan maupun korporasi, serta sanksi administratif seperti pencabutan izin, untuk menangani perusakan hutan yang terorganisir maupun tidak.
Merujuk pada isu adanya upaya menghilangkan semua data Terra Drone yang berisi pemetaan kondisi terkini sejumlah hutan di Pulau Sumatra. Data tersebut kabarnya berisi gambar praktik pembalakan liar dan pembukaan kebun sawit secara besar-besaran di Sumatra.
Isu ini menjadi sangat sensitif usai terjadi bencana alam besar berupa banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana ini menyebabkan dampak yang besar hingga lebih dari 1.000 orang meninggal dunia.
Dalam sejumlah foto dan video, banjir bandang ini turut membawa ratusan hingga ribuan kayu gelondongan yang diduga hasil pembalakan liar di hulu atau kawasan hutan sekitar daerah terdampak.
"Karena memang kan drone ini kan untuk mapping gitu ya. Nah tentunya alat ini digunakan memang adalah untuk agriculture ya, untuk mapping area perkebunan, bahkan juga untuk kegiatan-kegiatan pertanian," ujar Susatyo.
"Tetapi kami memang fokus ya pada penyebab kebakaran yang menyebabkan meninggal dunianya jumlah yang cukup fantastis."
Namun, kata dia, polisi dipastikan akan turut memeriksa dugaan kesengajaan kebakaran Gedung Terra Drone dengan upaya penghilangan data mapping deforestasi Sumatra. Toh, menurut Susatyo, Satgas PKH yang tengah mengusut deforestasi di tiga provinsi Sumatra juga belum meminta Polres Jakarta Pusat memeriksa data Terra Drone.
"Bila memang ada, pasti penyidik dari pada yang sedang melaksanakan kegiatan penyidikan bencana alam di Sumatera tentunya juga akan berkoordinasi dengan kami. Tapi sejauh ini tidak ada permintaan dan sebagainya dari tim penyidik bencana alam di Sumatera," kata dia.
Dilansir dari youtube, Rieke Diah Pitaloka, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan untuk periode 2024-2029, yang viral, dalam vidio tersebut Rieke mengatakan,
"Kami tidak terima kalau persoalan hanya dipersempit tentang kematian 22 korban. Tetapi ada persoalan yang lebih luas lagi. Di mana data geospasial yang sudah dimiliki oleh Teradron? Karena itu data pertahanan, data keamanan, data kedaulatan negara dengan terbakarnya gedung Teradron ini catatan untuk pemilik ya. Bukan berarti kami percaya bahwa data itu hilang. Anda pasti punya backup. Oleh karena itu, saya mendesak pemerintah agar mengambil seluruh data yang telah dipetakan secara geospasial oleh Teradrone. Karena data itu bukan hanya data soal hutan di Sumatera. Di situ ada ekosistem hayati. Karena kami tahu drone itu dengan teknologi yang ada, algoritmanya benar-benar disusun dengan teknologi dengan pengetahuan yang baik. itu bisa secara presisi memetakkan seluruh sumber daya dan potensi Indonesia. Bukan hanya pohon, tapi mineral, pertambangan, bahkan ada data yang namanya manusia di situ. Oleh karena itu sekali lagi mohon dukungannya Indonesia. Kita berikan support kepada kepolisian yok ini kasus serius, mungkin akan melibatkan interpol, karena saya yakin data itu menjadi sangat penting",
"Sekali lagi pak Presiden Prabowo, mohon atensi terhadap kasus ini, mohon diselidiki apakah ada indikasi Terra Drone memperjual belikan data Geospasial Indonesia". Tutupnya.
Hal tersebut mengingatkan kita perihal drone milik china yang sempat ditemukan di perairan Bonerate Kepulauan Selayar (20/12/2020) dikutip dari Kompas.com
Benda yang awalnya diduga rudal oleh nelayan, merupakan seaglider yang juga diduga milik China. Di seaglider itu ditemukan aksara China yang bertuliskan nama China Shenyang Institute of Automation, Chinese Academy of Sciences.
Keberadaan seaglider milik negara lain tentu mengusik keamanan dan pertahanan nasional Indonesia. Sebabnya, seaglider memiliki kemampuan perekaman data strategis. Sejumlah data strategis yang bisa direkam seaglider di antaranya data salinitas, arus, temperatur, dan kontur bawah laut.
Data tersebut sangat penting untuk operasi kapal selam yang merupakan persenjataan strategis angkatan laut, karena sifat operasinya yang senyap dan bisa masuk ke belakang garis pertahanan lawan. Pengetahuan tentang salinitas, arus, dan temperatur di suatu kedalaman akan berpengaruh terutama pada kesenyapan kapal selam tersebut. Kapal selam bisa bersembunyi di sebuah titik karena di kondisi tertentu, sinyal sonar sulit menembus lantaran dibiaskan salinitas, arus, dan temperatur.
Keberadaan seaglider tersebut patut diwaspadai karena berada di rute maritim utama yang menghubungkan Laut China Selatan dan Samudra Hindia ke arah daratan Australia. (SNJ)
Tags
News