Kasih Ibu Sepanjang Zaman, Kasih Anak Sepanjang Jalan.

Pelukan hangat ibu pada anaknya sebelum masuk jeruji. (F/Bukabaca.id)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- IBU. Bait puisi terindah yang pernah dituliskan takdir; setiap katanya adalah pengorbanan, setiap frasanya adalah harapan. Di matanya tersimpan hikayat kesabaran, dan di senyumnya bersemayam surga yang dijanjikan.

Layaknya mercusuar yang sinarnya menembus kabut keraguan, memandu langkah-langkah anaknya kembali ke dermaga keselamatan. Ia adalah akar kokoh yang menopang pohon kehidupan keluarga, memastikan ia tumbuh menjulang meski badai menerpa.

Kasih ibu bagaikan samudra tak bertepi, gelombangnya adalah doa yang tak henti membasahi pantai nasib anak-anaknya. Kelembutan tangannya seperti sutra yang membalut luka, dan suaranya laksana melodi pengantar tidur yang mendamaikan jiwa.

Ibu, rela ia memanggul beban semesta di pundaknya, asalkan anak-anaknya bisa menari di atas awan kebahagiaan. Pengorbanannya seluas cakrawala, tak terukur meteran dunia.

Seorang Ibu mampu merawat dan membesarkan puluhan anaknya dengan penuh kasih sayang, tapi puluhan anak belum tentu mampu merawat satu orang ibu.

Ridho seorang ibu bahkan disebut sebagai Ridho ilahi. Diumpamakan senyumnya sebagai senyum Tuhan.

“Wahai Ibnu Umar, kalau kamu ingin membuat wajah Allah SWT tersenyum kepadamu, maka buatlah senyum di wajah ibumu.”

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Selamat Hari ibu. Ingatlah ia setiap hari, karna bahkan ketika seluruh manusia di bumi ini meninggalkanmu, satu-satunya yang tetap berada disisimu adalah Ibumu, bahkan ketika raganya telah hilang termakan waktu, darahnya tetap mengalir dalam tubuhmu, dan jiwanya yang memeluk erat dibalik keriuhan dunia. (SNJ)

Lebih baru Lebih lama