Ketika Yang Dicuci Kedua Tangan Tapi Yang Basah Justru Kedua Mata


Evakuasi korban bencana banjir bandang sumatera. 
Sumber gambar (LensaPurwakarta.com)

Sangpencerah.web.id | Opini, -- Di tengah situasi pasca bencana banjir bandang yang melanda Sumatera, ada sebuah cerita pilu yang dikisahkan oleh salah satu relawan Tsabat, yakni Ustadz Fawwaz, pejuang kemanusiaan yang juga melihat dan merasakan langsung kepedihan para korban bencana dilokasi.

"Ketika isya tadi, jumpa tamu awam yang datang ke posko ma'had At-Tashfiyah Aceh Tamiang, sambil wudhu dia tanya, "Pak saya boleh sholat? celana saya kena lumpur sedikit." Oh, bisa pak diusap aja kotoran lumpurnya. Kotoran lumpur tidak najis, maka ia membalas "iya pak saya baru dari rumah bapak saya di bukit Tempurung, rumah bapak tenggelam. Bagaimana kondisi tempat bernaung kita malam ini? bagaimana keadaan tidur kita malam ini.

Ia kembali menambahkan, "Dua hari yang lalu ketika tim relawan Stabat, pasukan bersih sedang membersihkan rumah Ikhwah dan ibunya. Saat itu bekal makan siang kami sudah sampai di titik lokasi, saya pun mencuci tangan yang berlumpur di sumur belakang, sumur yang kemarin saya ceritakan di manfaatkan oleh 10 KK (kepala keluarga) di sekeliling rumah tersebut. Ketika itu Ikhwah yang kami bersihkan rumahnya membawa lebih nasi bungkus untuk diberikan ke tetangganya, yang saya dengar dari bilik sumur suara anak kecil, perempuan, suaranya lirih, Ikhwah tadi menawarkan, "ini ada nasi," anak kecil itu menjawab "iya mau nasi, satu aja, mau," sambil menangis dan suara gemetar,"

"Allahuakbar, Ya Allah Ya Rabb yang terlintas di kepala saat itu hanya teringat anak perempuan saya di rumah, bagaimana jika itu suara anak saya? bagaimana jika yang sedang kelaparan itu anak saya?. Saat itu yang dicuci kedua tangan saya , namun yang basah justru kedua mata." ungkapnya mengakhiri cerita.

Dalam situasi ini menyadarkan kita bahwa, bukan tidak mungkin ada banyak suara-suara kecil di sudut sana yang membutuhkan pertolongan namun tak tahu harus meminta pada siapa, tak ada siapapun yang ia temui ataupun yang menemukan nya. Tanpa pelukan yang menenangkan, tanpa makanan, tanpa cahaya, dan sosok yang dahulunya memberikan itu semua, entah sudah tergeletak tak bernyawa diantara himpitan kayu, dalam derasnya aliran air dan di bawah tumpukan lumpur. 

Masihkah sibuk mementingkan egoisme? masihkah keserakahan itu memeluk erat dan merasuki hati?

Sementara itu, 80 Ton bantuan lenyap tak tahu kemana hilangnya, tak tahu kepada siapa dan kearah mana perginya. Yang jelas dari keterangan gubernur Aceh, Muallem, 80 ton bantuan tersebut hilang di Bener Meriah. Mereka meminta Kapolda dan Pangdam turun tangan untuk menyelidiki kasus ini.  Muallem dengan kecewa dalam sebuah vidio yang di upload oleh instagram @Voktis.id. Ia mengatakan, 

Gubernur Aceh Muallem

"Kalo kita fikir-fikir yah sudah maksimal. Tapi itu nanti turun lapangan tepat sasaran atau tidak. Saya dengar berita, nah berita burung atau tidak valid yah, ah ni ada 80 ton yang hilang entah kemana. Kita turunkan semua di Benda Meriah, dan banyak donatur-donatur yang menyumbangkan. Tapi seperti itu tidak tepat kepada sasaran. Jadi kita mohon, kepada semua, apa orang-orang di situ, relawan di situ, yang tepat sasaran lah. Dan juga kita memohon kepada bapak Sagor, Bupati Bener Meriah, supaya dengan seadil-adilnya yah membagi sembako, karna kita tahu bahwa Bener Meriah tempat, apa mereka hantar karena disitu ada Bandara, yang boleh kita gunakan."


-M. Ishaq mattoali-

-Sitti Nur Jannah-



Lebih baru Lebih lama