Korban Banjir Bertaruh Nyawa, Korban Netizen Bertaruh Donasi.

Ferry Irwandi 

Sangpencerah.web.id | Opini, -- Ditengah situasi darurat di Sumatera yang mencekam, Ferry Irwandi, Aktivis, selebritas internet sekaligus founder malaka project asal jambi ini yang populer karena konten edukatifnya mengenai politik, keuangan, filsafat stoikisme dan isu sosial belakangan ini menjadi sorotan warganet. Hal ini karena aksinya hampir satu minggu penuh terjun langsung ke lokasi bencana banjir dan turut mendistribusikan bantuan kepada warga yang terkena dampak. 

Ia juga berhasil mengumpulkan donasi untuk korban bencana hingga mencapai Rp.10 Miliar. Ferry turut menyangkal ucapan pejabat BNPB yang mengatakan bahwa bencana tersebut hanya mencekam di internet saja. Ia dan tim nya melihat dan merasakan langsung betapa mencekamnya kondisi para korban bencana di lokasi.

Hal ini memicu banyaknya aksi klarifikasi dari pihak-pihak yang merasa bahwa masyarakat lebih mempercayakan penanganan bencana pada seorang yang disebut-sebut baru muncul dan baru menangani satu posko saja dengan donasi hanya senilai Rp.10 miliar tersebut. Alih-alih menangani dan mementingkan korban bencana, banyak pihak yang malah lebih sibuk memperbaiki citra diri dan menanggapi para netizen yang sibuk membandingkan antara kinerja pemerintah dan influencer.

Hal ini sangat berbeda dengan situasi bencana yang terjadi di masa Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai Wakil Presiden sekaligus Ketua Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) saat itu, Jusuf Kalla dikenal dengan gayanya yang langsung turun ke lapangan dan berani mengambil keputusan cepat. 

JK menekankan bahwa pemimpin tidak boleh lamban dan harus berani mengambil keputusan di lokasi bencana tanpa menunggu rapat berlarut-larut. Fokus pada Tanggap Darurat. Langkah pertamanya saat Tsunami Aceh adalah tanggap darurat yang efektif, termasuk mengurus evakuasi dan logistik. Ia bahkan memborong roti dari Medan untuk korban bencana.

"Open Sky Policy" dalam Aksi. Meskipun kebijakan "Open Sky Policy" (membuka akses bantuan internasional) dicanangkan di bawah kepemimpinan SBY, implementasi cepat di lapangan sangat didorong oleh pendekatan JK yang pragmatis dan efisien.

Ketegasan. JK juga dikenal tegas, bahkan sempat dikabarkan menegur pihak yang dianggap menghambat proses penanganan bencana. 

"Saya tidak mau tau bagaimana caranya, malam ini kumpulkan semua obat yang ada di Jakarta untuk segera kesana dengan Hercules yang disiapkan panglima TNI. Harus berangkat pukul lima pagi,"

"Tapi pak, ini sudah tengah malam, pak. Semua gudang dan tempat penyimpangan barang sudah terkunci & pemegang kuncinya kami tidak tahu tinggal dimana.

" Sekarang berikan alamat gudang-gudang penyimpanan itu. Tidak usah cari yang pegang kunci gembok. Ambil pistol, dan tembak gembok itu". tegas pak JK saat itu.

Sementara itu SBY dengan Kepemimpinan Terstruktur dan Jangka Panjangnya

Sebagai Presiden, SBY memberikan kerangka kepemimpinan yang terstruktur, visioner, dan fokus pada rehabilitasi serta rekonstruksi jangka panjang, yang dianggap sukses secara global. 

Kepemimpinan di Tengah Krisis: SBY memimpin penanganan krisis dengan prinsip quick to see, quick to decide, quick to act, namun dalam konteks komando tertinggi yang terorganisir.

Pembentukan Kelembagaan: Di bawah pemerintahannya, dibentuklah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang memberikan dasar hukum kuat dan kerangka kerja komprehensif untuk manajemen bencana di Indonesia.

Restrukturisasi dan Diplomasi: SBY melakukan restrukturisasi kementerian dan departemen untuk memastikan penanganan bencana terkoordinasi secara menyeluruh. Ia juga memadukan diplomasi dan operasi militer, yang membuka jalan bagi bantuan internasional, selain berhasil menciptakan perdamaian di Aceh pasca-tsunami.

Solusi Permanen: Dalam kasus lain seperti bencana lumpur Lapindo, SBY meminta adanya solusi permanen untuk mengatasi masalah tersebut, menunjukkan fokus pada penyelesaian akar masalah secara berkelanjutan.

Alih-alih memperdulikan komentar warganet mereka justru sibuk memikirkan bagaimana korban bisa di tangani dengan cepat. Sementara saat ini kondisi bencana banjir bandang yang terjadi adalah kondisi yang di anggap lebih buruk daripada Tsunami. Masyarakat mengatakan bahwa pada saat Tsunami, yang terdampak itu masyarakat di bagian pesisir saja sementara banjir bandang ini meluluh lantahkan hampir seluruh kabupaten kota yang ada di Sumatera Utara, Aceh, dan juga Sumatra Barat.

"Waktu Tsunami, Air dari laut itu datang dan kembali kelaut. Sementara Banjir ini, Air datang dari atas gunung terus menerus menyapu seluruh daratan yang dilewatinya, habis semua. waktu tsunami, akses masih ada, orang yang mau memberikan bantuan masih bisa lewat. Tapi saat banjir ini semua akses lumpuh total. Jalan terputus, listrik padam, dan makanan habis. Ada yang meninggal bukan karena dibawa banjir tapi karena kelaparan. Kami pernah kena Tsunami tapi belum pernah kami merasakan kelaparan berhari-hari seperti sekarang". Ungkap salah satu korban.

Hal yang menjadi perbincangan kembali yakni keputusan Mensos yang membuat aturan bahwa penggalangan dana donasi bencana harus izin. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi agar penggunaan dana sumbangan tidak disalahgunakan. Adapun warganet yang berkomentar, "Keburu mati orang."

Salah satu korban seorang ibu dari Aceh tengah, yang berjalan dari Takengon untuk mengambil sembako membongkar realita pahit yang terjadi di lokasi.


" Kondisi masyarakat disana gimana bu?"

"Ya Allah nafsih-nafsih pak. Air minum aja kami minta sama tetangga sebelah pun ga di kasih. kek mana tuh coba. Kami mikir untuk anak kami, anak kami kek mana?. Ada bantuan pun untuk mereka- mereka. Alasan solar ga ada bensin gada, padahal kalo kami dibilang sini ambil, kami pasti datang untuk berbondong-bondong. Tapi maunya kita jangan kasi berbagi di tempat satu-satu rumah itu, kalo bisa dapurnya, biar kami bawa rantang kami makan disitu. Dapur umum, kalo begitu gakan merata pak, dimana-mana nanti diambil tuh mereka-mereka,"

Distribusi bantuan dari pemerintah gimana? 

"Belum ada sampai ke kami. Masyarakat gada makanya kami di takengon kemarin demo juga". Ungkap ibu tersebut dalam vidio instagram @Bangyadi_2689.

Dalam hal ini kita semua berharap agar kita lebih mementingkan bagaimana semua korban bisa mendapatkan bantuan dengan cepat tanpa terkecuali. 


-Sitti Nur Jannah-



Lebih baru Lebih lama