Memungut Serpihan Adat Yang Tersisa.

Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum. (Fg/IM)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR, --Low profil, total bersahaja.. "Geleja kau ittu Mardi?" (Mardi, bukan kah itu kamu?), Pak Jamaluddin efendi menegurnya setengah memanggil diacara GAS (Gerakan ahad subuh) yang diprakarsai Muhammadiyah Cabang Benteng.

Pagi ini Prof. Pakar Budaya yang hampir larut dalam Muhdi Akbar , Binanga Benteng. Ajaran yang menurut sang Profesor itulah ajaran Kepercayaan asli orang Selayar.

Duduk nyantai di depanku, semeja hampir saja sekopi, disamping kananku ada Ibu Andi Marwiyah, seorang Ibu yang tubuhnya didominasi energi api, selalu semangat dalam hidupnya.

Hampir tak pernah kulihat ayunan tangan Profesor setiap dia berbicara, aura mendominasi dan menggurui sama sekali tak ada. Bagaimana dengan diriku?, entahlah...

Andaikan Muhammadiyah tidak merangsek ke daratan Sulawesi di era 1923 dan ke Selayar di tahun 1927, maka dunia ke Selayaran mungkin berbeda dengan hari ini.

Slogan TBC benar - benar meluluh lantakkan budaya "Pattorioloang" (orang tua dulu) nyaris tak ada lagi, kecuali segelintir titik seperti di Tanabau Tenro. Desa Bontolempangang yang masih mempertahankan budaya dan adat istiadat leluhur mereka A'dinging - dinging, atau Attuana turiere di Jo'ong. Desa Parak. Attuda ri Gantarang, Desa Bontomarannu dan Bissorang, Desa Bonea timur.

Kembali ke Mukhdi Akbar yang banyak melahirkan "Kristen" Selayar dan Soppeng yang bermuara pada "Sayye" (Sayyid) yang jika ditafsirkan serampangan mereka konon adalah Keturunan Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

Para Sayye' yang banyak menyebar di Parak. Desa Parak, Tiletile. Desa Patikarya, dan di Desa Khusus Bahuluang adalah Da'i Binanga Benteng, Mukhdi Akbar, aliran Asli Kepercayaan orang Selayar menurut Prof. Mardi. Aliran rasa Hindu, rasa Kristen dan juga aroma rasa Islam ada pada keyakinan ini.

 Tidak terasa perbincangan kami sejak pagi hingga siang ini (24/12) di Raihan hotel tak juga menunjukkan akhir.

Bersambung.. (IM)

Lebih baru Lebih lama