Selayar Adalah Carefure Tidak Ada Alasan Bagi Orang Selayar Untuk Minder

 
Suasana Brain Storming KAHMI di Warkop Kopita. (F/SNJ)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Sebagai wadah untuk menggerakkan energi baru, jejaring, dan aksi nyata di tengah masyarakat, KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) Selayar kembali melaksanakan pertemuan di Warkop Kopita Jl.Kemiri Nomor 21A, Kec. Benteng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Selasa (23/12) sebagai bentuk brain storming (Curah gagasan) , mengingatkan tentang apa saja yang menjadi keresahan untuk membangun Selayar, 

Acara ini dihadiri oleh putra-putra terbaik Selayar yakni, Prof. Dr. Drs. Akbar Silo, MS, Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M. Hum, Rifai Kepala Desa Kaburu, Irwan Camat Pasilambena, Amin Camat Pasimasunggu, Joe Sekertaris desa Tarupa, Iskandar Komisioner KPU, Arsyad Ketua Kahmi, Sulfinas Indra Presidium Kahmi, Amran Kabid Perikanan, Abdul Halim Rimamba (Ketua Nelayan),  dan tokoh-tokoh pemuda lainnya Serta Prof Sugianto yang turut ikut melalui Zoom di Jakarta. 

Ditengah-tengah acara, Prof. Dr. Akbar Silo mengatakan bahwa, dengan banyaknya Pakar yang ada di Kahmi, dapat menjadi Aset yang akan berkontribusi sesuai bidangnya masing-masing.

"200 pakar dalam wadah Kahmi, siap berkontribusi dalam bidang masing-masing. Idemu apa, kalo ada kelebihan Pendapatan beri", ungkapnya

"(udang vaname) dan bibit kopi (sementara gagal), ingat-ingatko semua para pakar untuk kembali ke Selayar. Diharapkan dari Dewan Pakar dan Mahasiswa ikut di Kempetisi penalaran, main lagi ke selayar. Kahmi harus memanfaatkan kemitraan, tambahnya.

"Prof. Mardi, dalam giat Kebudayaan (Sekolah adat dan budaya). kita perlu bikin buku muatan lokal untuk semua studi dalam bentuk modul (Buku pegangan Siswa) mulai dari SD hingga Menengah, Yang akan menulis semua yang hadir, ceritakan semua yang ada di selayar dalam hal budaya dan adat Selayar dan dibukukan, jika tidak bisa menulis, maka menceritakan. Inventarisasi Budaya dan adat orang tua yang sekarang sudah hilang", 

"Perda (Pengakuan adat) KUHP dan KUHAP sudah diakui pengakuan hukum adat, dan menjadi Komoditi Internasional, semua kegiatan diikuti kearifan lokal. Karakter ke Selayaran, Adat menjadi komoditi internasional, agar banyak orang Selayar tidak malu menyebut identitasnya, karena kita tidak bisa memetakan peta dunia ke Selayaran",

“Banyak orang diluar sana yang tidak mau mengakui ke-Selayarannya karena kita tidak mampu membuat citra di dunia bahwa selayar itu ada”

"Kita belum mampu mengangkat Citra Selayar, itu adalah awal secara kohesif, sosiologi, antropologi, untuk memulai membangun Selayar", Tutupnya.

Prof. Mardi turut menjawab pernyataan Prof Akbar Silo, ia mengatakan bahwa Selayar memiliki sejarah dan potensi yang besar untuk dikembangkan. 

"Tidak ada alasan bagi orang Selayar untuk minder berinteraksi dengan siapapun, Selayar adalah "Carefure" (Persimpangan) jalan,  Australia, Malaka, dll. Selayar sudah masuk dalamnya, kerajaan Luwu' kuno begitu juga Kerajaan Bone, mereka ke SELAYAR dulu baru ke yang lain. Selayar sudah lama disebut-sebut, saya tidak tau sejak kapan minder itu, itu modus orang luar untuk mengalahkan Selayar. Buktinya kita ada Gong, Jangkar, adalah tanda "Carefure", ujar Prof Mardi.

"Selayar bukan lagi tukang roti dan sumbu kompor, mereka mengikuti anaknya Sekolah di Makassar, dan itu pandangan hidup orang Selayar dulu, Karena terbatas biaya hidup dimasanya", ungkapnya.

dalam perbincangan tersebut juga turut dibahas tentang para petani dan peternak yang bisa hidup saling berdampingan tanpa adanya pertikaian yang berbanding terbalik dengan kebanyakan daerah di Selayar.

Adapun disebutkan bahwa, para petani di luar itu bisa bertani dan beternak tanpa ada konflik atas gangguan (Sapi) yang merusak kebun, itu di sebabkan karena adanya hama Manusia (Pencuri ternak), sehingga para pemilik ternak enggan membiarkan ternaknya berkeliaran.

Hal tersebut secara tidak langsung membuat para petani tidak lagi merasa terganggu akan adanya kerusakan di kebun-kebun karena ulah ternak yang dibiarkan sehingga para petani bebas menanam dimana saja lahan yang disediakan.

Ishaq Mattoali ikut bercerita tentang para Petani yang sukses di kota orang, yang bahkan menguasai sebagian besar hasil perkebunan seperti di Ambon dan juga Bandung. hal tersebut membuat Prof Akbar Silo mencetuskan "Ide Gila".

"Saya punya ide gila". 

Dalam ide tersebut Prof Akbar menyampaikan keinginannya membawa pulang para petani Selayar yang ada di luar ke Selayar lalu bertani di Selayar, ia berharap, pemerintah akan menyiapkan  lahan dan di buatkan rumah hunian, lalu kemudian di bina. Karna di kota orang, mereka ada yang membina sehingga mereka bisa menguasai pertanian.

Dalam diskusi ini juga turut di bahas perihal Agenda pengolahan Pendukung Gemerlap, yakni (Gemetar) Gerakan menanam "Batara" (Jagung).

Acara ini diharapkan dapat menjadi awal bagi pembangunan Selayar yang lebih baik. (IM/SNJ)

Lebih baru Lebih lama