Sangpencerah.web.id | LOKAL | SELAYAR,-- Di tengah fluktuasi iklim yang memengaruhi pola migrasi serangga, pemahaman mengenai siklus hidup hama dan penerapan pengendalian terpadu menjadi harga mati bagi petani.
Seiring berkembangnya teknologi, para petani di Selayar justru mengalami pemerosotan. Hal ini karena profesi petani yang semakin berkurang peminat utamanya generasi milenial dan gen Z.
Hal tersebut diketahui dari wawancara terhadap beberapa masyarakat yang tidak ingin disebutkan namanya, yang sudah berprofesi sebagai petani sejak dulu.
Usianya tak kurang dari 70 tahun, peci hitam sedikit bulukan nangkring di kepalanya, walaupun sudah udzur tapi jiwanya tak kalah dari Gen Millenial, 2 jam obrolan pagi yang didominasi Tetta Ponggawa Petani Kolo-Kolo.
Guratan keriput di wajah dan urat-urat di lengan, menunjukkan dia petarung dari muda hingga kini, tak mau kalah dengan usia.
"Konni hattu nak, alasan Sapi jua untukimo Koko, utamana ana' riboko". (Sekarang ini, anak milenial tidak mau lagi bertani hanya karena alasan hama sapi, Apalagi generasi sekarang (Gen Z). Di zaman kami itu Tedong, bahi, gelepa maraeng, (Di zaman kami hama itu ada kerbau, sapi, babi, belum hama yang lain). Terangnya (10/1).
Kalubinting (tupai) , kahu'u (kumbang), Kahuasa (tanaman menjalar dan menyebabkan gatal), kalumanti (semut api), KUD (Koperasi Unit Desa) yang Curang dan manipulatif terhadap petani, Tedong (Kerbau), Bahi (Babi), semuanya adalah hama.
Dan sekarang Pencuri kelapa dimana-dimana, lebih parah lagi mereka merusak "bombonna" (tongkol daun muda) yang menyebabkan matinya kelapa, sementara menanam dan merawatnya sungguh melelahkan.
Setelah hampir 2 bulan berjibaku dengan program Pemerintah Gemerlap dan Gemetar,gerakan menanam lima juta kelapa dan Gerakan menanam batara (jagung). Ada banyak hal yang ingin saya muntahkan karena banyaknya inspirasi dari warga tani dan sebaliknya juga dari pemerintah untuk Masyarakat.
Kita tidak kekurangan lahan, kita juga tidak kekurangan Sumber daya Manusia, kita juga tidak kekurangan dana apalagi bantuan pemerintah.
Kita hanya kekurangan orang rajin atau kita didominasi rasa malas. Dari atas malas mengevaluasi, mendampingi, mengontrol, sedangkan dari bawah kurang kreatif dalam bekerja. Selalu mengharap bantuan dan bahkan terlena dengan BLT.
Dunia pendidikan formal ataupun non formal, tak ada spirit, support untuk kembali ke ladang, ke kebun, atau ke sawah, sehingga beberapa tahun lagi, Petani Selayar akan punah.
Bukan karena kurangnya SDM tetapi tidak adanya generasi muda yang maniak berkebun. Karena memang belum ada contoh petani sukses.
Miris, lahan melimpah tetapi tidak ada yang akan mengelolah, belum lagi kita masih disibukkan dengan gaya bertani zaman purba, padahal seharusnya kita sudah disibukkan dengan teknologi tepat guna. (Ishaq Mattoali)