Sangpencerah.web.id | SELAYAR,-- Bayangkan sebuah garis imajiner yang ditarik melintasi peta dunia, menghubungkan sebuah semenanjung di Teluk Arab dengan sebuah pulau memanjang di ujung Sulawesi Selatan. Selayar dan Qatar, bak kisah tentang kekuasaan laut dan visinya menjadi Pusat Dunia.
Dahulu, Qatar hanyalah daratan tandus yang bergantung pada pencarian mutiara. Kini, ia berdiri sebagai mercusuar kemajuan dengan gedung-gedung pencakar langit yang akarnya tertancap di atas kekayaan gas alam.
Melirik sejarah pada tahun 2017, saat Arab Saudi memutus hubungan dengan tetangganya yang kecil, Qatar. Seluruh perbatasan ditutup, jalur udara diblokir, dan Qatar diisolasi dari dunia internasional. Namun, hanya beberapa tahun kemudian, justru mereka yang meminta Qatar untuk berdamai.
Apa yang sebenarnya terjadi? Saat itu, Qatar belum sekaya dan sekuat sekarang. Hubungan dekatnya dengan Iran membuat negara-negara teluk lainnya marah besar. Kemudian pada 5 Juni 2017, 4 negara Arab, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutus seluruh hubungan diplomatik, perdagangan, dan perjalanan dengan Qatar.
Perbatasan ditutup, pesawat Qatar dilarang melintas, dan warga Qatar diusir dalam semalam. Pesannya jelas, ikuti perintah kami atau kalian akan diputus. Namun, Qatar tidak menyerah, sebaliknya mereka mencari sekutu baru.
Setelahnya, Turki dan Iran segera mengirim bantuan, Qatar akhirnya berhasil membuka jalur perdagangan baru, dan mulai fokus pada ekspor gas alam cair, bukan lagi minyak.
Langkah ini secara perlahan menjadikan Qatar salah satu negara terkaya di dunia. Maskapai Qatar Airways berkembang pesat dan jaringan media Al Jazeera mereka semakin vokal dan berpengaruh di tingkat global.
Puncaknya, Piala Dunia 2022 memperkuat citra Qatar sebagai negara kecil dengan kekuatan besar di dunia. Rencana untuk mengisolasi Qatar justru berbalik arah. Pada Januari 2021, seluruh negara teluk mengakhiri blokade dan memulihkan hubungan diplomatik.
Sementara itu, di belahan bumi lain, Selayar, sang "Tanah Doang" sedang meniti jalur yang sama. Jika Qatar memiliki mutiara di masa lalu, Selayar memiliki "harta karun" berupa kekayaan bawah laut Takabonerate, dan Komoditas Kelapa, Pala, Jeruk, Kenari, Jagung (on proses) dan komoditas lainnya. Serta posisi geografis yang tak ternilai.
Dahulu Cita-cita Bupati Aroe pala, Selayar diibaratkan dengan Singapura. Dengan banyaknya Pelabuhan di Selayar walaupun hanya Perintis. Sekarang Selayar diibaratkan layaknya Qatar.
Persamaan terbesar mereka adalah geografi sebagai takdir. Qatar memposisikan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan Barat dan Timur melalui pelabuhan dan maskapai terbaiknya. Sedangkan Selayar, pada awal 2026 ini, semakin mempertegas posisinya sebagai "titik nol" atau simpul jalur pelayaran nasional.
Keduanya adalah penjaga gerbang; Qatar di Teluk Arab, dan Selayar di persimpangan Laut Flores yang membelah Indonesia Barat dan Timur.
Hal yang semakin menyatukan keduanya adalah ambisi di bidang energi. Saat Qatar terus menyuplai energi dunia melalui gasnya, Selayar mulai bersiap menjadi pusat Energi Baru Terbarukan (EBT).
Pada tahun 2026, pemerintah daerah Selayar giat menawarkan potensi arus laut dan anginnya kepada para investor global, termasuk dari Qatar sendiri. Ada sebuah visi di mana Selayar tidak lagi hanya menjadi penonton di jalur perdagangan, melainkan penyokong energi bagi kapal-kapal besar yang melintas di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.
Pengembangan teknologi tepat guna dan energi terbarukan di Kabupaten Kepulauan Selayar pada tahun 2026 berfokus pada upaya mewujudkan kemandirian energi dan pemenuhan kebutuhan dasar di wilayah kepulauan.
Di sektor kelistrikan, Selayar telah mengoptimalkan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid di Desa Parak yang memiliki kapasitas 1,3 MWp sebagai pilar utama transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi bersih.
Selain itu, perluasan akses listrik ramah lingkungan terus digenjot di wilayah-wilayah terpencil seperti Kecamatan Takabonerate, Pasilambena, dan Pasimarannu melalui pemasangan panel surya skala mikro dan komunal guna mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel yang biaya operasionalnya tinggi.
Pada aspek teknologi tepat guna untuk kesejahteraan masyarakat, inovasi sistem pemurnian air sumur berbasis energi surya menjadi solusi krusial dalam mengatasi keterbatasan air bersih di pulau-pulau kecil.
Teknologi ini memungkinkan masyarakat pesisir mendapatkan air minum layak konsumsi secara mandiri tanpa harus menunggu pasokan dari daratan utama.
Sejalan dengan itu, transformasi digital juga diterapkan sebagai bentuk teknologi tepat guna di sektor birokrasi dan ekonomi kreatif melalui pelatihan literasi digital bagi pelaku UMKM dan aparatur desa untuk meningkatkan daya saing daerah.
Memasuki tahun 2026, pemerintah daerah juga mulai menjajaki integrasi teknologi pengolahan hasil perkebunan, khususnya untuk komoditas kelapa dan pala, guna mendukung keberlanjutan sektor pertanian yang ramah lingkungan.
Seluruh inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi, tetapi juga untuk menjaga kelestarian ekosistem Kepulauan Selayar yang merupakan bagian penting dari Cagar Biosfer Dunia.
Ini bukan sekadar imajinasi. Melalui pertemuan strategis antara pemerintah Selayar dengan para diplomat di Qatar, kini sedang dibangun narasi baru tentang investasi.
Selayar belajar dari Qatar tentang bagaimana mengubah keterbatasan lahan menjadi kekuatan ekonomi melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan infrastruktur pelabuhan yang modern.
Kalo negara tetangga Teluk, maka kabupaten tetangga bagi Selayar.
Seyogyanya, Selayar dari Bira ke Pamatata sudah dijadikan aset wisata, dengan mampirnya di Pelabuhan Pamatata yang merupakan bibir Selayar, begitu juga Pulau Pasi' Pa'lampuang.
Qatar dan Selayar adalah sebuah pembuktian tentang kepercayaan diri dan tekad yang kuat. Bahwa sebuah wilayah yang dikelilingi laut bukanlah wilayah yang terisolasi, melainkan sebuah dermaga luas bagi kemajuan dunia.
Selayar kini sedang menatap masa depannya di cermin keberhasilan Qatar, bermimpi besar untuk menjadi pusat logistik dan pariwisata bahari yang disegani di Asia Pasifik. (Sitti Nur Jannah)