Sangpencerah.web.id | Makassar, -- Sejenak saya termenung memandangi barang-barang yang tersusun rapi untuk dibawa menuju Makassar. Bukan untuk liburan, kuliah, KKN, ataupun untuk mengikuti sebuah event organisasi.
Kali ini untuk menemani tante yang akan dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo di Makassar, setelah seminggu sudah ia dirawat di Rumah Sakit K.H Hayyung Selayar.
Kulirik jam yang ada di Handphone sudah menunjukkan pukul 03.15 seketika semua yang tadinya tertidur terbangun untuk bersiap menunggu Ambulance yang akan mengantar kami.
Sekitar Pukul 04.00 Ambulance pun tiba, kami pun berlalu meninggalkan Rumah Sakit menuju Pelabuhan Pamatata.
Perjalanan menuju kesana tidak mudah, banyaknya jalan yang berlubang, dan laju cepat Ambulance, seketika membuat kami terguncang begitu hebat, bukan selayaknya membawa pasien, tapi lebih cocok disebut membawa kambing atau sapi ternak di truk-truk pickup yang berhimpitan seiring tanjakan dan loncatan ban mobil.
Sebenarnya tak begitu peduli dengan keadaan aku dan om, tapi tante yang rusuknya terasa sakit saat begitu banyak gerakan apalagi guncangan saat ada jalan yang berlubang, sungguh membuat saya merasa khawatir, diikuti dengan isi perutku yang sudah sampai di kerongkongan.
Ditengah perjalanan itu, azan subuh terdengar berkumandang. Bagaimana yah jika sampai pagi mobil ini belum sampai di Pelabuhan? sementara kami belum melaksakan sholat shubuh.
Pertanyaan itu mulai menghantui pikiranku selama perjalanan. Angin yang bertiup kencang menambah keresahan. Akankah kapal tetap berangkat ditengah angin yang seperti ini?.
Sesampainya di Pelabuhan, supir ambulance yang membawa kami tiba-tiba memberi kabar bahwa kami tidak bisa berangkat karena cuaca yang buruk, sehingga kami harus kembali ke Rumah sakit.
Sejenak om, perawat, dan sopir ambulance turun dari mobil kecuali aku yang mulai merasa pusing, dan tante yang terbaring lemas.
Saat itu aku katakan kepada tante, "kalau kita tidak jadi berangkat, mungkin kita masih diberikan pertolongan atas bahaya yang mengancam di laut," ujarku menenangkan. Tante hanya bisa mengangguk setuju.
Kurebahkan tubuhku di kursi panjang samping tante. Seketika aku teringat belum melaksanakan shalat subuh, namun kepala yang berat dan perut yang tidak nyaman, membuat aku memilih melaksakan sholat di dalam mobil saja.
"Ya Allah.., aku datang, mohon tenangkanlah anginMu..agar kami bisa secepatnya membawa tante ke Rumah Sakit..hanya kepadaMulah aku memohon, dan hanya kepadaMu aku meminta pertolongan".
Selepas sholat, beberapa menit kemudian om, perawat, dan sopir kembali ke mobil. Tiba-tiba sopir mengabarkan bahwa kapal sudah bisa berangkat.
Terbesit rasa syukur yang amat besar dalam hatiku, merasa bahwa Allah mendengar doaku bahkan saat aku memilih melaksanakan sholat dengan posisi yang seharusnya masih sanggup aku laksanakan diluar mobil mengikuti om. Namun, rasanya khawatir jika harus meninggalkan tante sendirian, dan juga tubuhku yang sudah terkapar di kursi itu.
Setelah beberapa menit berlalu, mobil ambulance pun naik ke kepal. Isi perut yang tadinya sudah turun, kembali naik ke kerongkongan. Segera kuminta antimo dari perawat. Namun, belum sempat obat itu terminum, semua sudah menyembur keluar dari mulut tanpa aba-aba. Rasanya tersisa rohku saja yang berhasil bertahan dari aroma khas mobil-mobil dalam kapal.
Ekspresiku?? oh jangan ditanya.. jika kau pernah liat wajah kucing sehabis tercebur air...mungkin begitulah gambaran wajahku.
Setelah drama pencabutan nyawa itu,.. akhirnya aku terlelap dalam tidur, entah itu tidur atau pingsan, seingatku saat terbangun kapal sudah sampai di Pelabuhan Bira.
Mobil kembali melaju kencang hingga akhirnya kami sampai di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (21/01) sekitar pukul 12.00 dalam keadaan basah, bahkan tante juga basah, karna jendela Ambulance yang entah tak mampu menahan deras hujan, atau memang Ambulancenya yang bocor.
Segera tante di dorong menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat) dan ditangani oleh Dokter.
Syukur Alhamdulillah tak henti mengalun di bibirku saat itu. (Sitti Nur Jannah)
(Bersambung..)