Menyelami Makna Kegigihan Dalam Goresan Prof. Veni Hadju

Prof. Veni Hadju {F/istimewa)

Sangpencerah.web.id | SELAYAR,-- Sebuah Simfoni Keberanian. Di tengah badai yang mengguncang, Sebuah semangat membara, tak pernah padam. Kegigihan dan perjuangan, dua kata yang menjadi mantra, membawa kita melesat maju, tak peduli rintangan dan kesulitan. Seperti api yang membakar, semangat yang tak pernah redup, membawa kita ke puncak, melewati jalan yang berliku. Dengan setiap langkah, dan setiap helaan napas.

Ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi tentang bagaimana kita masih berusaha berdiri, bagaimana kita berjuang saat menghadapi semua rintangan dan kesulitan, semua tantangan dan ujian.

Sebuah goresan Prof. Veni Hadju berjudul "GIGIH" ini, yang akan mengantar kita untuk lebih memahami gambaran kegigihan.

"Namanya Fatimah (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa S2 yang baru saja menyelesaikan ujian akhir. Saya merasa bahagia melihat kelulusannya. "Anak ini GIGIH," ucap saya dalam hati. Saya teringat saat mewawancarainya untuk tes masuk Program S2; pada saat itu saya melihat kemauannya yang kuat. Jarang sekali mahasiswa yang baru lulus S1 langsung mendaftar ke program S2.

Ketika saya bertanya tentang kesiapan biaya kuliahnya, dia menjawab dengan mantap bahwa orang tuanya telah berjanji untuk menyiapkannya. Namun, pada malam hari batas akhir pembayaran UKT (dulu  namanya SPP), dia mengirim pesan WhatsApp kepada saya untuk memohon maaf, karena ternyata biaya kuliahnya belum tersedia dan tidak dapat melanjutkan studi.

Saya terdiam dan membayangkan semangat yang *GIGIH,* namun sayangnya terbentur masalah biaya. Saya menjawab pesan WhatsApp-nya dan menyampaikan bahwa besok dia harus bertemu saya di kantor. Saya segera menghubungi teman-teman yang mungkin bisa membantu. Saya bertekad agar dana UKT sebesar 9 juta rupiah harus terkumpul besok pagi sebelum batas pendaftaran berakhir. Alhamdulillah, pertolongan datang tepat waktu. Saya bahkan terkejut bagaimana dana tersebut bisa terkumpul dalam waktu yang sangat singkat. Ketika dia menghadap saya keesokan harinya, saya langsung memberitahukan bahwa dana UKT-nya sudah ada, namun dengan syarat dia harus bekerja paruh waktu sebagai ganti dari dana tersebut. Dia tersenyum, terlihat agak kaget, namun juga sangat bahagia. 

Tidak banyak orang yang melakukan sesuatu tanpa kesiapan dana terlebih dahulu. Hanya mereka yang "GIGIH" dan memiliki mimpi besar yang mampu melakukan hal seperti itu. Sebenarnya manusia telah diberi akal dan nafsu untuk mencapai apa yang mereka cita-citakan. Namun terkadang muncul rasa ketakutan sehingga mereka tidak berani untuk melakukannya. Padahal Allah sangat dekat dengan manusia dan mengetahui setiap keinginan hamba-Nya. 

Tentunya akan ada ujian dalam setiap kebaikan, dan manusia harus kuat untuk menghadapinya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ÙˆَÙ„َا تَÙ‡ِÙ†ُواْ ÙˆَÙ„َا تَØ­ۡزَÙ†ُواْ ÙˆَØ£َنتُÙ…ُ ٱلۡØ£َعۡÙ„َÙˆۡÙ†َ Ø¥ِÙ† ÙƒُنتُÙ… Ù…ُّؤۡÙ…ِÙ†ِينَ

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 139)

"Jangan menyerah bila datang hambatan, karena ada DIA yang Maha Kuasa".

Pesan Dakwah 16 Rajab 1447 H. 

Prof. Veni Hadju 

GIGIH (104)

Lebih baru Lebih lama