Sangpencerah.web.id | SELAYAR,-- Suksesnya eksekusi program gerakan menanam lima juta pohon kelapa (GEMERLAP) Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar (14-15/11), tidak berhenti disitu saja, baru-baru ini kembali direncanakan tentang program (GEMETAR) gerakan menanam "batara" (Jagung), sebagai upaya pemaksimalan penguatan ketahanan pangan Selayar dimasa yang akan datang dan pemberdayaan masyarakat.
Mengingat banyaknya lahan masyarakat yang tidak mampu diberdayakan, dalam hal ini karena alasan biaya oprasional maupun sumberdaya manusianya, menjadi salah satu alasan yang kerap kali membuat lahan-lahan tersebut tidak dimanfaatkan sepenuhnya hingga bertahun-tahun.
Kebutuhan yang mendesak dan ketidakmampuan mengelola, kerap kali membuat lahan-lahan tersebut akhirnya dijual sebagai bentuk keputusan terakhir sang pemilik lahan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebagai Gen Z, saya tentu mengapresiasi program gerakan menanam batara di Kepulauan Selayar ini sebagai langkah yang smart dan sangat relevan. Di tengah isu krisis pangan global, Selayar justru mengambil langkah konkret. Jagung bukan cuma alternatif nasi, tapi simbol ketahanan.
Sebagai generasi yang peduli keberlanjutan, melihat daerah punya "stok" pangan sendiri, serta masyarakat yang diberdayakan, tentunya memberikan rasa aman. Daripada lahan dibiarkan kosong, lebih baik jadi aset produktif. Ini seperti passive income buat daerah.
Program ini tentunya akan semakin keren kalau di masa depan ada sentuhan teknologi (AgriTech). Misalnya, pemantauan lahan pakai drone atau sistem distribusi berbasis aplikasi. Ini bisa menarik minat anak muda Selayar buat balik membangun desa (bukan cuma kerja di kota).
Di Amerika Utara, penggunaan teknologi pertanian presisi telah membawa hasil yang signifikan. Petani di AS dan Kanada menggunakan data dari sensor IoT, citra satelit, dan analitik data untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya.
Penerapan teknik presisi pada lahan jagung dan gandum terbukti berhasil menurunkan emisi CO2 hingga 15% per hektar dan mengurangi biaya produksi secara signifikan, sekaligus meningkatkan hasil panen.
Negara-negara dengan keterbatasan sumber daya air atau lahan subur, seperti Mesir dan Singapura, juga telah sukses mengadopsi sistem hidroponik dan pertanian vertikal.
Keberhasilan di Mesir: Startup agritech seperti Cultivech memperkenalkan sistem hidroponik yang menghemat lebih dari 90% air dan menghasilkan sayuran yang sehat serta bebas bahan kimia di ruang terbatas.
Singapura memiliki target ambisius "30 by 30" yang berhasil (memproduksi 30% kebutuhan pangan secara lokal pada tahun 2030) yang didukung oleh ekosistem agritech yang kuat, termasuk pertanian vertikal dalam ruangan, untuk mengatasi keterbatasan lahan. Teknik ini juga cocok di aplikasikan di wilayah pusat kota (Benteng), yang tidak memiliki banyak lahan, sehingga menambah hasil pangan bukan hanya di Desa tetapi juga di Ibu kota.
Dari ide-ide inilah yang kemudian bisa meningkatkan lapangan pekerjaan dimasa depan khususnya bagi para sarjana, agar mampu mengaplikasikan ilmu yang telah di selami terkhusus lulusan pertanian.
Melihat banyaknya pemuda sukses yang mengembangkan hasil pertanian di negara seberang, tentu membuat kita juga tak ingin berdiam saja, mengingat tanah kita tanah Air, tanah yang kaya, "tongkat kayu dan batu jadi tanaman".
Ketika Gemerlap dan Gemetar dipadukan, Istilah baru yang menggelitik muncul yakni "GEGE" yang jika diterjemahkan artinya (tertawa/tersenyum), diharapkan ketika program ini berhasil menguatkan pangan, ekonomi, serta pemberdayaan masyarakat, maka kedepannya kehidupan masyarakat Selayar akan lebih sejahtera, dan memunculkan senyuman dan tawa disetiap masyarakat Selayar. (Sitti Nur Jannah)