Sanpencerah.web.id |SELAYAR-- Tiga unit mobil merayap meninggalkan kota Benteng tepatnya Selasa (10/3), menuju ke timur, menanjak manapaki Puncak Tanadoang.
Dalam perjalanan tersebut hadir Ishaq Mattoali, Muhammad Arsyad, Zulfinas, Abd. Razak, Winarsa, Fahmi, Asrijal Akib, Ermansyah, Apriadi, Ahmad Shaad, Hj. Rosmiati & FORHATI Team, Sitti Nur Jannah, Ayu, Ilham Nur, Said Arfandi.
Tiba-tiba dari samping kanan, mobil Pajero Sporty itu ngebul, tepat di moncong depan. Nampak jelas kepanikan Joki malam ini, Ketua KAHMI disampingnya ada Ust. Fahmi yang sebenarnya lebih panik, tapi cerdas menyembunyikan rasanya.
Di Masjid Dallemambua' Jamaah sudah menanti, burasa (lontong) dan teh hangat plus Jalangkote' (pastel) berebutan ingin pertama kali disantap.
Selepas Maghrib, giliran makan berat, bakso yang kuahnya masih panas rasanya sangat spesial, apalagi di Timur Selayar ini dinginnya lumayan menusuk tulang, maka bakso rasanya melebihi makanan apapun.
Sayangnya Sekertaris Jendral Kahmi Selayar, Winarsa Surung tidak membersamai kami makan malam saat ini. Rombongannya bersama Ust. Abdurrazak dan Eks Ketua KPU Sulfinas Indra lebih dahulu ke Ibu Kota Desa Bonea Timur. lembang bau.
Safari kedua malam ini diwarnai oleh FORHATI (forum HMI Wati) yang dihadiri oleh HJ. Rosmawati dan team. Sementara itu di Bissorang, kampung tertimur di Bonea Timur, safari kali ini tausiyah diisi oleh Ketua KAHMI (korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) Muhammad Arsyad.
Dalam tausiyahnya ia menekankan pentingnya berbagi dalam keadaan lapang ataupun sempit, keutamaan memaafkan, dan menahan amarah.
Makan berat kedua dimulai, suguhan sambel kacang yang dominan plus saos membuat Ketua KAHMI nambah makan hingga dua kali. Apalagi medan berat, angin kencang, tentu perut makin lapar.
Keseruan ini belum berakhir, ketika angin timur mengguncang rumah ketua RK Bissorang, nampak kepanikan kedua Bung Ketua KAHMI sangat jelas, panik itulah yang justru menambah selera makannya.
Disini hukum fisika tidak berlaku, rumah diatas batu, tanpa cor, berdiri kokoh tetapi berayun ayun laksana kapal di laut Masalembo.
Hembusan angin seperti badai sangat terasa, menampar pipi dan cukup membuat bulu kuduk merinding, apalagi mereka yang belum pernah kesini.
Hembusan badai melewati bukit, ngarai, dan memasuki celah-celah batu dan papan, sejuknya berasa diikuti sedikit misteri. Benar - benar laksana ditengah Samudra padahal aslinya ditengah perkampungan purba dari Zaman batu.
Pukul 23 lewat, barulah team Safari bergeser meninggalkan Bonea Timur karena harus mengisi air Radiator mobil mewah Pajero Sporty itu tapi berasa Kijang Kotak zaman orde lama. Nampak raut wajah bahagia dari team Safari apalagi dengan buah tangan emping melinjo, dan sukun goreng yang menemani. (Ishaq Mattoali)