Menyibak Pesona Selayar, Surga yang Menanti Dunia Datang

Harlina Hamid, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog – Doctoral Candidate Universitas Negeri Makassar.

Sangpencerah.web.id |SELAYAR,-- Perjalanan terbaik sering kali dimulai dari rasa penasaran. Dan rasa penasaran itulah yang akhirnya membawa saya menjejakkan langkah di Kepulauan Selayar. Dari ketinggian langit, gugusan pulau itu perlahan muncul di antara hamparan laut biru yang luas. 

Pulau-pulau kecil tampak seperti serpihan zamrud yang bertebaran di permukaan laut. Pemandangan itu membuat saya tertegun. Dalam sekejap saya menyadari bahwa di ujung selatan Sulawesi tersimpan keindahan yang tak kalah memikat dari gugusan pulau terkenal seperti Raja Ampat.

Siapa sangka, di ujung selatan Sulawesi, tersembunyi gugusan pulau yang keindahannya tak kalah memukau.


Setibanya di darat, saya dijemput oleh seorang teman. Penampilannya saja sudah cukup menggugah jiwa petualang. Santai, penuh energi, dan seolah menyatu dengan alam pulau ini. Percakapan kami pun segera mengalir. Ia bukan sekadar penduduk asli biasa. Dari tutur katanya, saya merasakan bahwa ia benar-benar memahami Selayar. Sejarahnya, komoditas unggulannya, hingga karakter masyarakatnya yang sangat kuat memegang nilai budaya.



Keesokan harinya, perjalanan menyusuri Selayar pun dimulai. Tujuan utama saya datang ke pulau ini sebenarnya sederhana: mencari rempah terbaik yang tumbuh di tanahnya. Kami mulai bergerak menuju beberapa desa di Bontomanai, sebuah kecamatan yang dikenal sebagai pusat pertanian rempah. Di wilayah inilah pala, cengkeh, dan kenari tumbuh subur, menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Perjalanan menuju desa-desa itu menghadirkan sisi Selayar yang berbeda dari bayangan awal saya. Jika di kawasan Benteng aroma laut dan pantai begitu mendominasi, maka di wilayah pedalaman lanskapnya berubah drastis. Jalanan berkelok tajam menembus perbukitan. Kadang menanjak curam, lalu tiba-tiba menukik turun dengan sudut yang membuat adrenalin ikut bergerak.

Di tengah perjalanan itu, aroma yang sangat khas mulai tercium. Aroma pala yang kuat dan tajam. Tidak lama kemudian saya melihat hamparan biji-biji pala yang sedang dijemur, lengkap dengan bunganya yang berwarna merah menyala.


Di sinilah saya mulai menemukan salah satu harta paling berharga dari Selayar: pala. Aromanya memang berbeda. Lebih kuat, lebih tajam, dan terasa sangat khas. Para petani yang saya temui menjelaskan bahwa pala Selayar termasuk salah satu yang berkualitas terbaik. Produksinya pun cukup besar, bahkan menjadikan wilayah ini salah satu penyumbang pala penting di Indonesia setelah Maluku.

Mendengar itu, saya semakin yakin bahwa perjalanan ini bukanlah kebetulan. Tidak hanya pala. Perlahan aroma lain ikut hadir di udara. Aroma cengkeh yang hangat dan menenangkan. Di banyak halaman rumah, cengkeh terlihat dijemur di bawah sinar matahari. Selain itu, masyarakat Selayar juga menghasilkan kenari dan melinjo dalam jumlah yang melimpah, menjadikannya komoditas penting dalam kehidupan ekonomi mereka.

Namun yang paling menarik bagi saya bukan hanya hasil bumi pulau ini, melainkan karakter masyarakatnya. Selayar memiliki masyarakat yang sangat homogen. Ikatan kekerabatan terasa begitu kuat. Hampir semua orang saling mengenal satu sama lain. 



Pulau ini mungkin memiliki banyak desa, tetapi hubungan sosialnya terasa seperti satu keluarga besar. Rasa aman di sini juga begitu terasa. Tidak ada kekhawatiran berlebihan tentang kejahatan kecil. Kendaraan sering kali dibiarkan terparkir di luar rumah tanpa dikunci, bahkan berhari-hari, dan tetap aman. Tradisi dan nilai budaya yang masih kuat membuat masyarakatnya memegang teguh nilai kejujuran dan saling percaya.

Perjalanan saya di Selayar juga tidak hanya berhenti pada pencarian rempah. Saya diajak menapaki jejak sejarah pulau ini. Menurut cerita yang berkembang, Selayar telah dihuni manusia sejak sekitar 2500 SM. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya batu menhir, susunan batu besar yang dahulu diyakini sebagai altar persembahan dan pusat peribadatan masyarakat kuno.

Di tempat lain, saya juga menemukan sebuah meriam kuno yang konon berasal dari masa Majapahit. Meriam itu tersimpan sederhana di rumah seorang warga. Rumahnya sendiri sangat menarik—bangunan kayu yang tampak sederhana, namun diyakini telah berdiri selama ratusan tahun. 

Perjalanan menuju kampung tempat rumah itu berada tidaklah mudah. Jalanan yang curam harus dilalui dengan penuh kehati-hatian. Namun sebelum sampai ke sana, dari kejauhan sudah terlihat sebuah pemandangan yang unik. Kampung itu berdiri di atas batu besar, muncul di tengah hutan adat yang sangat lebat. Dari kejauhan terlihat seperti pulau kecil di tengah lautan hijau.

Penduduk desa menyambut kami dengan keramahan yang tulus. Mereka hidup sederhana, namun tampak sangat menikmati kehidupan mereka. Di tempat ini, uang tidak selalu menjadi ukuran utama kebahagiaan. Kedamaian dan ketenangan justru terasa jauh lebih berharga.


Di salah satu sudut desa, saya menemukan sebuah pendopo kecil yang menghadap langsung ke lembah hijau. Anginnya berhembus lembut, membawa udara segar yang terasa sangat kaya oksigen. Tempat itu terasa seperti ruang alami untuk menenangkan diri. Di sana, rasanya hanya ada satu keinginan: berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan tubuh larut dalam rasa relaks yang begitu mudah hadir.


Setelah dua hari berkeliling, saya juga menemukan satu hal menarik dalam pola transaksi perdagangan masyarakat Selayar. Di sini, hubungan bisnis tidak dimulai dengan kontrak atau angka. Yang didahulukan adalah kepercayaan.


Relasi dibangun terlebih dahulu hingga sering kali melalui pendekatan kekeluargaan. Bagi siapa pun yang ingin membangun jaringan bisnis jangka panjang di Selayar, memahami budaya ini adalah kunci utama. Ketika kepercayaan sudah terbangun, barulah urusan bisnis berjalan dengan sendirinya, mengalir secara alami.


Akhirnya perjalanan saya di Selayar pun sampai pada penghujungnya. Saat kembali pulang, saya membawa begitu banyak oleh-oleh: pala, cengkeh, kenari, dan berbagai hasil bumi lainnya.


Namun yang paling berat sebenarnya bukanlah koper saya yang overbagasi. Yang jauh lebih penuh adalah pengalaman yang saya bawa pulang. Tentang keindahan alam, kekayaan rempah, jejak sejarah, serta nilai kehidupan sederhana yang masih sangat hidup di pulau ini.Selayar mungkin masih menjadi surga yang belum sepenuhnya dikenal dunia.


Tetapi bagi saya, pulau ini sudah lebih dari cukup untuk meninggalkan jejak yang mendalam. Sebuah gugusan surga yang perlahan membuka dirinya kepada dunia. (Harlina Hamid)

Lebih baru Lebih lama