![]() |
| Ilustrasi |
Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Di tengah gegap gempita kemajuan zaman, Fahruddin Achmad, S.T., hadir membawa refleksi kritis yang menghentak kesadaran kita. Baginya, teknologi memang telah menembus batas ruang dan waktu, namun di balik kemudahannya, ia menyimpan ancaman yang mampu meruntuhkan pilar paling fundamental manusia: hubungan dengan Tuhan dan keluarga. Melalui ulasan mendalam ini, Fahruddin membedah bagaimana pornografi digital telah menjelma menjadi "narkoba lewat mata" yang merusak struktur saraf otak secara permanen. Sebuah seruan dari seorang teknokrat untuk menyelamatkan jiwa generasi masa depan.
PORNOGRAFI MERUSAK OTAK
Perkembangan tekonologi masa kini menembus batas ruang dan waktu. Teknologi telah menjadi bagian tak terpisah dari aktifitas keseharian manusia. Sulit sekali mendapati tempat, acara, perlengkapan, peralatan, dan media apapun tanpa sentuhan teknologi; -kekikinian- di dalamnya.
Pendidikan dengan seluruh level dan perangkatnya, sosial dengan seluruh sistem dan ber-kebangsaannya, budaya dengan segala adat istiadat suku ras dan keberagamannnya, ekonomi dengan segala sistem pasar-jual-beli-dagang dan persoalan membelitnya, pertahanan dengan segala pasukan, alutsista, dan ketahanan negara dalam perspektifi teritorial dan filosofi , hingga spiritualitas dengan aneka keyakinan dan ritualnya, pun selalu hadir teknologi menyertainya. Ia memudahkan banyak hal, terguna di banyak momen.
Di sisi lain, kesadaran pasif orang pada umumnya; -kita- meyakini, tekonologi memiliki dampak negatif. Sangat banyak contoh konkrit yang telah dan sedang terjadi ketika teknologi mengantarkan nilai-nilai mistik, sifat, dan sikap abnormal; asosial; a-interaksi, bahkan hal dua hal paling fundamental -seharusnya- pada seseorang menjadi rentan rapuh, rusak, berantakan, dan hancur; 1) hubungan kekerabatan; keluarga; orangtua dan anak; suami dan isteri, dan 2) manusia dengan Tuhan-Nya.
Lebih mendalam, sisi negatif teknologi dapat merusak sifat dan sikap seseorang dalam jangka panjang, bahkan secara permanen. Satu diantaranya diakibatkan oleh pornografi oleh teknologi.
Pornografi telah sangat mudah diakses dalam semua bentuk media on-line maupun off-line. Terkhusus media on line; internet; melalui media sosial apa saja, jika kita menyebut hari ini: google, facebook, instagram, twitter, youtube. Mengetik satu kata yang berhubungan dengan nama, perilaku, seseorang, dan apasaja yang bisa dikaitkan dengan pornografi secara teks, gambar, foto, video, hingga film, maka mengalirlah tak terbendung “penampakan” pornografi, dilengkapi dengan link, situs, blog, ataupun website alamat konten penyedia porno aksi.
Dalam banyak artikel dan penjelasan ilmuan, pornografi secara nyata merusak otak. Ringkasnya, relasi pornografi merusak otak disebabkan tiga hal bekerja terus menerus pada otak manusia:
1). Dopamine, rasa sensasi (biasanya pengalaman pertama) menimbulkan rasa ingin mengulangnya. Anak usia dini, jelang baligh, maupun baligh awal paling rentan dengan gambar dan video porno dari lingkungannya. Ketika itu telah sampai ke mereka, rasa jijik pada awalnya akan mengubahnya menjadi rasa sensasi, karena menyaksikan sesuatu yang baru, bersifat rahasia, berhubungan dengan suhu tubuh, bertemunya rasa takut dan rasa penasaran.
2). Neurophiniprin, rasa candu akibat tingginya frekuensi dopamine. Sampai di sini, hal ini sama dengan candu pada narkotika dan obat-obat terlarang, termasuk rokok. Disulut sedikit saja, dengan mudah akan terpengaruh dan ingin melakukannya lagi. Pada pornografi, pakaian seksi apa saja pada wanita -meski dalam kadar sedikit menurut banyak orang -bahkan bukan seksi dalam ukuran tertentu banyak orang, dapat menghalusinasi; membayangkan dalam keadaan lebih dari seksi.
3). Serotonin, rasa harus menyalurkan keinginan saat itu juga. Perokok baru akan puas jika menghirupnya saat itu juga. Itu sebabnya banyak perokok tak memedulikan sedang berada di mana -termasuk di keramaian atau di depan anak-anak atau ibu hamil- jika ingin merokok. Pecandu narkoba dalam stadium tertentu akan mengalami sakaw jika tak menggunakannya detik itu juga, karena tersiksa dengan perasaan, halusinasinya, dan fisik yang ditimbulkan oleh rusaknya saraf dan aliran darah. Demikian halnya pornografi, menyebabkan rasa sangat ingin menyalurkannya menjadi aktifitas seks. Maka terbiasalah seseorang melakukan onani, masturbasi. Rusaknya, melakukannya sambil melihat gambar atau menonton video porno. Bersatunya sensasi, candu, dan perbuatan.
4). Oksitosin, puncak dari perpaduan sensasi, candu, melakukannya berulang-ulang, membuat seseorang merasakannya sebagai kebutuhan. Dunia serasa hampa, tak semangat, dan “ada yang hilang” bila belum melakukannya. Lihatlah perokok. Lihatlah pengguna narkoba. Dan lihat pula pecandu pornografi. Namun pada pornografi, sisi negatif ini tak tampak. Karena tak perlu ada rokok yang dibakar sehingga tak ada asap yang mengepul, tak ada alat isap dan bakar sehingga tak ada yang perlu disembunyikan, dan tak perlu takut menggelepar sakaw. Cukup disembunyikan sendiri, dinikmati sendiri, beraktifitas sendiri, di suatu tempat sendiri. Justru ketika itu terjadi, kerja-kerja otak menjadi tertutup untuk beraktifitas lain.
Pornografi adalah ancaman besar pada jiwa generasi masa depan ummat; anak-anak masa kini, anak-anak kita. Anak Kita Masa Depan Kita. Ayo Selamatkan! (Fahruddin)
Demikian ulasan mengenai dampak destruktif teknologi dan pornografi terhadap saraf manusia. Semoga menjadi bahan refleksi bagi orang tua dan pendidik dalam mengawal tumbuh kembang generasi di era digital.
Tentang Penulis:
Fahruddin Achmad, S.T. merupakan seorang profesional yang aktif mendedikasikan pemikirannya dalam pengembangan sumber daya manusia. Beliau saat ini menjabat sebagai Anggota MPKSDI PWM Sulsel serta dikenal luas sebagai seorang Trainer dan Konsultan Pendidikan yang menaruh perhatian besar pada isu-isu teknologi, karakter, dan masa depan generasi umat. (Sitti Nur Jannah)
