Menjelang Munas PERMAS: Antara Figur, Harapan, dan Arah Baru


Sangpencerah.web.id|​MAKASSAR,— Di tangan Fahmiy Rahman Gani, kegelisahan akan masa depan organisasi tidak sekadar menjadi gumam, melainkan narasi perubahan yang tajam. Sosok eks Kepala Desa Kalepadang dan aktivis KAHMI ini mencoba membedah arah baru PERMAS (Persatuan Masyarakat Selayar) melalui kacamata intelektual syariah dan pengalaman lapangan yang panjang. Baginya, Munas bukan sekadar panggung seremonial, melainkan altar untuk melahirkan kepemimpinan yang berani bekerja dan nyata mengabdi. 

__

Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) PERMAS, berbagai rapat internal terus digelar sebagai bagian dari konsolidasi organisasi. Salah satu yang mencuat adalah kegiatan bertajuk Rapat Persiapan Intensif, yang dihadiri langsung oleh Ketua Umum PERMAS, Syamsu Rizal MI yang juga anggota Komisi I DPR RI, bersama Wakil Ketua Umum.

Waketum, Dikenal sebagai akademisi kehutanan sekaligus tokoh yang aktif dalam isu daerah aliran sungai (DAS) dan lingkungan hidup, Dr. Ir. H. Usman Arsyad, MS. juga memiliki peran strategis dalam berbagai forum lingkungan, termasuk keterlibatannya dalam Forum DAS Sulawesi Selatan.

Kehadiran beliau dalam forum ini menambah bobot perspektif, bahwa PERMAS tidak hanya bicara organisasi, tetapi juga memiliki potensi kontribusi pada isu-isu pembangunan berkelanjutan.

Kehadiran unsur pimpinan inti organisasi dalam forum tersebut menunjukkan keseriusan dalam menjaga kesinambungan dan arah PERMAS ke depan. Ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari upaya memastikan bahwa Munas menjadi momentum yang benar-benar strategis.

Dalam dinamika rapat tersebut, tampak pula keterlibatan sejumlah figur lintas generasi, termasuk tokoh muda Selayar, , yang akrab disapa Deng Mamba. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan kepedulian dan kesiapan untuk ikut bertanggung jawab terhadap perjalanan organisasi.

Sebagai mantan aktivis , Deng Mamba dikenal sebagai sosok yang tegas, lugas, namun tetap bersahaja. Karakter seperti ini menjadi penting dalam fase konsolidasi, ketika organisasi membutuhkan keberanian untuk berbenah tanpa kehilangan kearifan.

Di titik inilah PERMAS diuji. Apakah Munas kali ini hanya akan melahirkan kepemimpinan yang “aman secara sosial”, atau berani menghadirkan figur yang siap bekerja, siap berbeda, dan siap menghidupkan organisasi?

Kita tentu tidak kekurangan nama besar. Namun pengalaman mengajarkan bahwa: tidak semua yang besar mampu bekerja, dan tidak semua yang bekerja diberi ruang untuk memimpin.

Karena itu, kehadiran figur-figur dengan rekam jejak aktivisme, ketegasan sikap, dan kedekatan dengan realitas masyarakat menjadi penting untuk dipertimbangkan secara serius—bukan sekadar pelengkap, tetapi sebagai bagian dari kemungkinan arah baru PERMAS.

Munas kali ini seharusnya menjadi momentum untuk:

1. Memberi ruang pada energi baru tanpa memutus mata rantai pengalaman

2. Menggabungkan ketokohan dengan kerja nyata

3. Mengakhiri pola kepemimpinan simbolik menuju kepemimpinan produktif.. 

Akhirnya, pilihan ada pada kita semua.

Apakah PERMAS akan tetap berjalan seperti biasa, atau mulai melangkah dengan keberanian baru?

Sejarah organisasi seringkali tidak ditentukan oleh siapa yang paling dikenal, tetapi oleh siapa yang paling siap mengabdi dan bekerja.

Dan dari Rapat Persiapan Intensif itulah, arah besar itu mulai terlihat perlahan, namun pasti. (Fahmiy Rahman Gani) 


Sekilas tentang Penulis:

Fahmiy Rahman Gani, seorang intelektual dan praktisi pembangunan yang memiliki kedekatan emosional serta organisatoris dengan dinamika kepemudaan dan kemasyarakatan Selayar. Lahir di Palemba pada tahun 1971, Fahmiy tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam yang kuat, dimulai dari Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara hingga LIPIA Jakarta.

​Kapasitas akademiknya teruji sejak di IAIN Alauddin Makassar, di mana ia menulis skripsi berbahasa Arab bertajuk “Al-Ijtihad wa Dauruh fi Tatawwur al-Ahkam al-Syar’iyyah fi Indonesia” pada Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum. Pengalaman organisasinya ditempa sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar dan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, yang kemudian berlanjut dalam jaringan Majelis Nasional KAHMI di Jakarta.

​Selain pernah mengabdi di Sekretariat Jenderal DPR RI sebagai asisten anggota dewan, mantan Kepala Desa Kalepadang ini juga memiliki rekam jejak kuat dalam dunia pendidikan dan dakwah. Ia pernah mengajar Bahasa Arab di Pesantren IMMIM Makassar serta menjabat sebagai Sekretaris Majelis Tarjih PDM Kota Makassar di bawah kepemimpinan KH. Jalaluddin Sanusi. Dengan latar belakang keilmuan syariah dan pengalaman lapangan dalam pemberdayaan masyarakat desa, Fahmiy menghadirkan perspektif yang kritis namun solutif bagi masa depan PERMAS. 

PERMAS (Persatuan Masyarakat Selayar) adalah organisasi kemasyarakatan yang mewadahi warga asal Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, khususnya di perantauan seperti Makassar. Organisasi ini berperan mempererat silaturrahim, mengadakan bakti sosial, serta mendukung program pembangunan pemerintah daerah Selayar. (M.Ishaq Mattoali/Sitti Nur Jannah) 



Lebih baru Lebih lama