![]() |
| Sitti Raflia Mahasiswa Universitas Negeri Makassar |
Sangpencerah.web.id|MAKASSAR,— Di tengah riuhnya dunia yang sering kali sulit dimengerti oleh anak-anak dengan spektrum autisme, sebuah jembatan literasi kini hadir menawarkan harapan baru. Siti Raflia, seorang Mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Khusus, Universitas Negeri Makassar (UNM), berhasil merancang sebuah inovasi media pembelajaran bertajuk Smart Book.
Bukan sekadar tumpukan kertas, Smart Book lahir dari sebuah kepedulian mendalam untuk membantu anak-anak autis meniti jalan dalam memahami bahasa. Bagi anak-anak ini, satu kata sering kali menjadi labirin yang rumit. Siti Raflia mencoba memecah kerumitan itu melalui pendekatan yang bertahap—mulai dari pengenalan abjad yang paling mendasar, mengeja, hingga merangkai kata demi kata dengan penuh makna.
"Alasan membuat produk yaitu untuk membantu anak-anak autis membangun pemahaman kosakatanya melalui pengenalan abjad, mengeja hingga membaca kata demi kata secara bertahap. Buku ini didesain dengan tampilan yang lebih modern seperti terdapat akses audio melalui kode QR untuk mengajarkan pengucapan huruf, mengeja kata, mengenalkan nama-nama buah dan hewan serta bilangan puluhan sederhana. Buku ini juga dapat diakses non digital maupun secara digital yang menyesuaikan minat belajar anak melalui buku ataupun gadget," ungkap Siti Raflia saat menunjukkan karyanya.
Inovasi ini menonjol karena kemampuannya mengawinkan metode konvensional dengan teknologi modern. Smart Book didesain untuk tidak membiarkan anak belajar dalam kesunyian. Di dalamnya, tersemat kode QR yang menjadi gerbang menuju akses audio. Melalui pemindaian sederhana, suara-suara instruksional akan muncul, mengajarkan cara pengucapan huruf yang tepat, pengenalan nama-nama hewan dan buah, hingga pemahaman bilangan puluhan sederhana.
Integrasi audiovisual ini dirancang bukan tanpa alasan. Siti menjelaskan bahwa stimulasi ganda seperti visual dan pendengaran, diharapkan mampu meningkatkan fokus belajar yang selama ini menjadi tantangan besar bagi anak autis.
"Anak tidak hanya diajak melihat tulisan atau gambar, tetapi juga mendengarkan suara. Ini adalah upaya untuk merangsang penguasaan kosakata mereka secara lebih utuh," tambahnya.
Memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang unik, Siti merancang Smart Book dalam dua wajah: versi fisik dan versi digital. Hal ini memungkinkan media tersebut diakses melalui gadget bagi anak yang memiliki minat tinggi pada teknologi, atau tetap menggunakan buku cetak bagi mereka yang lebih nyaman dengan media konvensional.
Kehadiran Smart Book tidak hanya ditujukan bagi sang anak semata, namun juga sebagai instrumen bagi para pendamping. Baik guru di sekolah luar biasa maupun orang tua di rumah dapat menggunakan buku ini sebagai media pendampingan pembelajaran mandiri.
Di balik sampul yang ceria, Smart Book membawa misi besar: memastikan bahwa keterbatasan komunikasi bukanlah dinding yang permanen. Melalui inovasi dari tangan dingin mahasiswa Pendidikan Khusus UNM ini, dunia kata-kata kini terasa lebih dekat dan lebih ramah bagi mereka yang istimewa.
Lahirnya Smart Book adalah pengingat bagi kita semua bahwa teknologi dan empati, jika disatukan, mampu menciptakan ruang yang lebih inklusif. Apa yang dilakukan Siti Raflia bukan sekadar pemenuhan tugas akademik, melainkan sebuah dedikasi nyata bagi dunia pendidikan khusus. Semoga jejak ini menjadi pemantik bagi lahirnya inovasi-inovasi lain yang tidak membiarkan satu anak pun tertinggal dalam sunyi, karena setiap anak berhak menemukan suaranya melalui bahasa. (Sitti Nur Jannah)
