Rindu Dipeluk Ibu Chapter 2.


Sangpencerah.web.id|MAKASSAR—Setelah melewati bab pertama yang penuh haru tentang kerinduan Airah pada pelukan ibunya yang kini hanya bisa terbaring lemah akibat stroke, kisah Rindu di Peluk Ibu karya Salmawati, S.Pd. Gr kembali hadir dengan luka yang berbeda. Jika sebelumnya hati pembaca dibuat sesak oleh hambar dan sunyinya rumah tanpa suara seorang ibu yang tak lagi mampu memeluk anaknya, maka di chapter kedua ini emosi akan dibawa pada kekesalan, kecewa, dan amarah yang pecah di dalam rumah sederhana mereka. Di tengah kondisi ibu yang belum pulih, standar samping motor ayah yang rusak justru menjadi awal dari konflik besar antara Airah dan kakaknya. Bagaimana keluarga kecil itu menangani konflik yang terjadi ditengah luka yang belum sembuh? Ikuti chapter 2: Ketika Ayah Memilih Tersenyum.


Ketika Ayah Memilih Tersenyum
Salmawati, S.Pd.Gr.

Sore itu langit tampak redup sejak pulang sekolah. Angin berembus pelan membawa bau tanah basah dari kebun belakang rumah. Saya baru saja selesai menjemur pakaian ibu ketika mataku menangkap sesuatu yang aneh di teras rumah.

Motor ayah distandar dua. 

Tidak seperti biasanya.

Saya yang sejak kecil terbiasa memperhatikan hal-hal kecil langsung mendekat. Saya menurunkan ember kecil yang masih kupegang lalu jongkok memeriksa bagian bawah motor.

Mataku membulat.

“Ya Allah…”

Standar samping motor ayah patah.

Saya menatap potongan besi kecil yang tergeletak di lantai semen. Dadaku langsung terasa panas. Motor itu bukan motor baru. Sudah cukup tua bahkan bunyinya kadang kasar saat dinyalakan pagi-pagi. Tapi motor inilah yang dipakai ayah bekerja setiap hari, mengambil hasil kebun, membawanya pulang lalu menjualnya ke pasar. Juga mengantar ibu berobat sebelum sakitnya makin parah, ataupun membeli kebutuhan rumah kami. Saya juga sering pakai motor ini jika ada keperluan dan kakak atau ayah tidak ada di rumah.

Saya buru-buru masuk ke dalam rumah.

“Ayah, Ayah, Ayah,” kupanggil ayah berkali kali tapi tidak ada jawaban. Saya lupa kalau ayah belum pulang dari kebun.

Saya terus keliling rumah, cari Kakak. 

“Kak Aiman!” suara saya terdengar nyaring.

Tidak ada jawaban.

Saya berjalan cepat menuju kamar depan. Benar saja, Kak Aiman sedang rebahan sambil memainkan ponselnya dengan santai.

“Kakak rusak motor ayah?”

Aiman menoleh sekilas lalu kembali melihat layar ponselnya. “Sedikit.”

“Sedikit gimana? Itu standar sampingnya patah kak!”

“Ya nanti juga bisa diperbaiki.”

Saya langsung kesal mendengar jawaban itu.

“Kok kakak diam saja? Kenapa nggak bilang?”

Aiman mendesah malas. “Belum sempat.”

“Belum sempat dari tadi pulang sekolah?”

Nada suaraku mulai meninggi. Ya, saya memang anak yang lembut, tapi kalau soal tanggung jawab, saya sangat sensitif. Sejak ibu sakit dan hanya bisa berbaring di kamar, saya merasa semua orang harus lebih peduli pada keadaan rumah kami.

Sedangkan Kak Aiman sering terlihat santai. Pulang sekolah langsung masuk kamar main HP. Untung tidak pernah ketinggalan sholat jamaah setiap waktu di surau. Di rumah, paling ngurus ayam kalau sudah sore. 

“Ayah capek kerja, Kak. Kalau motornya rusak, gimana? Airah juga nggak bisa standar dua motornya kak.” Saya sangat kesal. Kak Aiman hanya fokus melihat layar ponselnya, sedikitpun tak menoleh ke arahku. 

“Ayah pasti sedih kalau lihat motornya rusak.”

 “Ayah kerja keras cari uang buat kita. Kalau motor rusak begini kan kasihan…”

Kak Aiman akhirnya bangkit duduk. “Airah cerewet banget sih.”

“Aku cerewet karena kakak nggak tanggung jawab!”

“Kakak bilang juga nanti!”

“Tapi kakak malah main HP!”

“Iya, Ayah kan belum pulang dari kebun.”

Suara kami mulai terdengar sampai ke kamar Ibu. Saya balik ke kamar Ibu, berdiri di pintu sejenak dan menatap ibu yang hanya bisa berbaring di kamar. Hanya bisa melirik lemah ke arahku. Tangannya memang sudah mulai bisa digerakkan perlahan, tetapi bibirnya masih sulit mengucapkan kata-kata sejak stroke menyerangnya beberapa bulan lalu.

Mendengar suara saya yang meninggi karena kesal pada kakak, hati ibu pasti terasa nyeri. Bukan karena marah padaku, melainkan karena ibu tahu putri satu satunya sedang belajar memikul terlalu banyak hal di usia yang masih begitu muda.

Dengan napas pelan, ibu mencoba mengangkat tangannya sedikit. Jemarinya bergerak lemah di atas selimut. Matanya menatap ke arah pintu dengan penuh rasa iba. Saya mendekat, duduk disamping tempat tidur, menyandarkan pipi kiriku di lengan kanan Ibu. Mataku basah, hatiku sedih dan kesal.

Di dalam hati, ibu tahu saya marah bukan karena standar motor itu semata. Gadis kecilnya itu hanya takut ayah semakin lelah, takut rumah kami semakin sulit, dan takut sesuatu yang kami miliki rusak ketika keadaan kami belum benar-benar baik. Saya terlalu kecil untuk menyimpan kekhawatiran sebesar itu sendirian.

Ibu memejamkan mata sesaat. Andai Ibu masih bisa bicara dengan lancar, tentu ibu ingin memelukku lalu berkata bahwa tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan. Kadang seseorang hanya perlu dipahami karena ia juga sedang takut.

Namun yang mampu dilakukan ibu hanyalah menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, berharap anak-anaknya bisa saling mengerti meski hidup sedang tidak mudah bagi keluarga kecil kami.

Ibu mengusap kepalaku perlahan beberapa kali. Saya memejamkan mata, menikmati usapan lembut ibu, kurasakan ibu berusaha menangkan hatiku yang sedang kesal. Kadang saya memang merasa harus menjadi lebih dewasa sejak ibu sakit. Membantu memasak, menyapu, mencuci piring, mengantar jualan, bahkan sering mengingatkan ayah minum obat ibu tepat waktu.

Malam mulai turun ketika suara motor lain berhenti di depan rumah. Ayah pulang diantar Om Damar dari kebun.

Saya langsung berlari keluar.

“Ayah…”

Ayah baru saja melepas helm ketika melihat motor di teras berdiri miring. Keningnya sedikit berkerut.

“Lho, standarnya kenapa?”

Kak Aiman yang sejak tadi diam di ruang tamu akhirnya keluar dengan langkah pelan.

“Tadi Aiman jatuh sedikit pas parkir di sekolah…”

“Jatuh sedikit.” Saya menggerutu dalam hati 

Saya melipat tangan di dada, menunggu ayah marah. 

Minimal menegur keras.

Tapi ayah hanya memeriksa bagian bawah motor lalu tersenyum kecil.

“Oh… patah toh.”

Hanya itu.

Tidak ada bentakan. Tidak ada wajah marah.

Ayah malah menepuk pundak Kak Aiman ringan. “Kamu tidak kenapa –kenapa kan? Lain kali hati-hati ya!”

Saya langsung membelalak.

“Hah?”

Ayah masuk ke rumah sambil melepas pakaian seperti tidak terjadi apa-apa. Sedangkan saya berdiri terpaku di teras. Kesal.

Sangat kesal.

Saat makan malam, saya hanya diam sambil menyendok nasi dengan wajah cemberut. Ayah beberapa kali melirik kearahku.

“Kenapa mukanya ditekuk begitu Airah?”

Saya tidak menjawab.

“Adek marah sama ayah?” tanya ayah sambil tersenyum kecil.

Saya akhirnya meletakkan sendok berisi nasi yang hendak kusuap.

“Kalau Airah yang rusakin barang, ayah pasti marah. Ayah langsung negur Airah”

Suasana meja makan mendadak sunyi.

Kak Aiman yang duduk di samping hanya menunduk pelan.

Ayah menatapku beberapa detik sebelum akhirnya menarik napas panjang.

“Jadi Airah kesal karena ayah nggak marah sama kakak?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kakak salah.”

Ayah mengangguk pelan. “Kakak memang salah.”

“Nah kan…”

“Tapi ayah tahu kakak juga takut.”

Kak Aiman diam semakin dalam.

Saya masih belum puas. “Tetap harus dimarahi. Airah saja putri satu-satunya ayah dimarahi. Kenapa Kakak tidak?”

Ayah tersenyum tipis lalu meminum air putihnya.

“Kadang orang yang sudah merasa bersalah nggak perlu dimarahi terlalu keras.”

“Tapi ayah sering tegas sama Airah.”

“Itu karena Airah jarang mengaku kalau takut.”

Kalimat itu membuatku bingung. Ayah melanjutkan dengan suara tenang.

“Kalau kakak tadi langsung jujur, itu bagus. Walaupun terlambat. Ayah lebih senang barang rusak daripada anak ayah belajar berbohong terus.”

Aku terdiam. Ya memang sih selama ini kalau ada barang yang saya rusak, saat ditanya suka ngeles atau banyak alasan.

Saya melirik Kak Aiman yang masih menunduk sambil memainkan ujung sendoknya.

Untuk pertama kalinya saya sadar, sejak ayah pulang tadi, kakak memang tidak banyak bicara. Wajahnya juga terlihat cemas.

“Tapi motornya rusak Ayah…Airah tidak bisa standar dua kalau Airah pakai itu motor itu…” gumamku pelan.

Ayah tersenyum.

“Motor bisa diperbaiki.”

Lalu ayah menunjuk dada kecilku perlahan.

“Kalau hati penuh kesal dan marah terus, itu lebih susah diperbaiki.”

Saya langsung menunduk malu.

Beberapa saat kemudian, Kak Aiman menyenggol pelan tanganku di bawah meja.

“Besok kakak bantu ayah perbaiki.”

Saya mendengus kecil.

“Jangan cuma janji.”

“Iya, Bos Airah.”

Saya hampir tersenyum, tapi cepat-cepat menahan wajah jutekku dan menghabiskan makanan yang ada didepanku. Selesai merapikan meja makan dan cuci piring, saya langsung cepat menuju kamar ibu. Kurebahkan wajahku perlahan di dada ibu dan memeluk tubuh itu erat-erat.

“Ibu… Airah minta maaf,” bisikku lirih.

Ibu kembali menatapku dengan lembut. Jemarinya yang lemah bergerak perlahan mengusap kepalaku. Tidak ada kata-kata yang keluar, tetapi mata ibu, usapan ibu seolah berkata bahwa ia mengerti semuanya—amarah putrinya, rasa sayangnya pada ayah, rasa sayangnya pada kakak, rasa sayangnya pada keluarga, juga hatinya yang sebenarnya sangat lembut.

Perlahan kuangkat wajahku, dan memegang kedua tangan ibu, menyatukannya dan mencium kedua tangan itu sambil menatap wajah ibu. Tatapan ibu membuat dadaku terasa hangat. Untuk sesaat, rasa kesalku tadi seperti luruh sedikit demi sedikit.

Dari ruang tengah terdengar suara ayah dan Kak Aiman mulai bercanda kecil sambil membahas cara memperbaiki standar motor besok pagi. Suara itu samar, tetapi cukup membuat rumah kecil kami kembali terasa hidup. Bersambung.(Salmawati.,S.Pd.,Gr./Edt.Jannah) 

Lebih baru Lebih lama