Babak Baru Pengabdian Alumni HMI di Tanah Selayar

Suasana Talkshow di acara pelantikan pengurus MD KAHMI dan Forhati oleh para akademisi dan enterpreneur

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Langkah-langkah kaki pengurus baru bergerak mantap menuju podium pada Sabtu (1/8), membawa misi besar yang melampaui sekadar seremoni pergantian struktur organisasi. Suasana khidmat menyelimuti ruangan gedung kementrian Haji dan Umrah (Kemenhaj) di Kabupaten Kepulauan Selayar saat Pengurus Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) dan Forum Alumni HMI Wati (MD FORHATI) Kepulauan Selayar periode 2025–2030 resmi mengucap janji pengabdian.

Prosesi pelantikan berjalan berurutan. Muhammad Arsyad secara resmi memimpin MD KAHMI Selayar setelah dilantik oleh Koordinator Presidium Majelis Wilayah KAHMI Sulsel, Ir. Fadriaty AS. Tak lama berselang, giliran Hj. Rosmiati yang dikukuhkan sebagai nakhoda MD FORHATI Selayar oleh Koordinator Presidium FORHATI Wilayah Sulsel, Hadriana Hanafie.

Bagi Kepulauan Selayar, agenda ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul para alumni kampus. Kehadiran Bupati Kepulauan Selayar, H. Muhammad Natsir Ali, bersama jajaran Forkopimda dan Anggota DPRD Sulsel Hj. Mariani Ali, menegaskan betapa pentingnya peran intelektual insan cita di daerah ini. Pemkab Selayar secara terbuka membuka pintu kolaborasi, menempatkan KAHMI dan FORHATI sebagai mitra berpikir dan bertindak untuk mengawal pembangunan lokal.

Pesan bernada reflektif disampaikan oleh Fadriaty AS. Di hadapan para kader dan tokoh masyarakat, ia mengingatkan bahwa kepengurusan baru ini memikul amanah moral untuk menjaga sintesis nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan. Jaringan alumni yang tersebar di berbagai sektor diharapkan tidak hanya berhenti pada gagasan di atas kertas, melainkan mewujud dalam aksi nyata yang dirasakan langsung oleh warga.

Menariknya, komitmen pengabdian ini menyentuh pula ranah domestik dan pemberdayaan berbasis daya dukung lingkungan. Hadriana Hanafie menyoroti pentingnya peran perempuan Selayar dalam menopang ketahanan ekonomi keluarga. Melalui penguatan literasi keuangan hingga pengembangan UMKM, FORHATI didorong untuk mengoptimalkan kekayaan bahari dan lingkungan, dua pilar utama yakni ekonomi biru dan ekonomi hijau yang menjadi napas hidup masyarakat kepulauan.

Guna mempertajam arah pemikiran dan kontribusi alumni, suasana kegiatan semakin dinamis dengan digelarnya talkshow tematik yang menghadirkan sederet akademisi, praktisi, dan tokoh lintas disiplin. Diskusi tersebut membedah berbagai gagasan strategis secara luas dan mendalam.

Dr. Rosnaini Daga, S.E., M.M., CPHCM., mengawali bahasan dengan menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk pertanian lokal melalui sentuhan inovasi pengolahan serta optimalisasi pemasaran digital. Gagasan ini kemudian diperkuat oleh Rudi, S.Pt., yang membedah pentingnya penguatan kebijakan dan regulasi daerah demi mendongkrak daya saing Kepulauan Selayar secara keseluruhan.

Perspektif pengembangan sumber daya manusia turut menjadi sorotan utama. Prof. Dr. Drs. Akbar Silo, M.S., M.H., memaparkan perlunya kolaborasi erat antara dunia pendidikan dan pasar kerja agar lahir SDM Selayar yang berdaya saing tinggi. Di tengah laju modernisasi, Dr. H. Nur Aswar Badulu, S.Ag., M.Si., mengingatkan pentingnya menjaga harmoni antara nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan lokal Selayar sebagai fondasi ketahanan sosial masyarakat.


Atmosfer diskusi semakin hangat ketika H. Saiful Arif, S.H., menyampaikan pemikirannya dengan mempertanyakan secara kritis perihal pencapaian serta tolok ukur indeks kesalehan sosial masyarakat saat ini. Kegelisahan serupa mengenai identitas daerah disuarakan oleh Fahmi Rahman Ghany, yang memberikan sorotan tajam terhadap fenomena budaya lokal Selayar yang kian hari kian ditinggalkan dan mengalami pergeseran sedemikian rupa, hingga berisiko kehilangan karakteristik aslinya sebagai pilar kebudayaan daerah.

Sebagai daerah kepulauan, potensi sektor bahari tidak luput dari pemikiran mendalam. Zul Janwar, S.Kel., M.Si., mengulas secara tajam berbagai peluang, inovasi, dan masa depan sektor perikanan dan kelautan sebagai pilar utama ekonomi daerah. Sorotan tajam juga datang dari H. Muh. Yakub, S.I.Kom., seorang pebisnis jual beli monyet, sebuah bidang usaha unik yang di luar ekspektasi masyarakat Selayar. Dalam pemaparannya bertajuk Crazy Entrepreneur, ia menyentuh realitas pengelolaan sumber daya laut dengan menyoroti minimnya pemahaman publik terkait regulasi konservasi. Menurutnya, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa dari sekian banyak spesies kima, hanya beberapa jenis saja yang dilindungi undang-undang di Selayar sementara sisanya dapat dimanfaatkan secara legal. Ia pun mengkritik dugaan upaya pembodohan oleh segelintir pihak yang membatasi potensi ekonomi masyarakat akibat kesimpangsiuran informasi tersebut.


Kemeriahan dan keseriusan agenda tersebut ditutup dengan pelantikan Koperasi Insan Cita sebagai wadah kemandirian ekonomi, serta pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda). Lewat perumusan program kerja lima tahun ke depan, KAHMI dan FORHATI Selayar menegaskan kesiapan mereka untuk terus berlayar dan berkontribusi nyata bagi kemajuan daerah. (Sitti Nur Jannah) 

Lebih baru Lebih lama