Kurang Riuh dari Biasanya: Perayaan HUT Ke-81 RI di Selayar Diwarnai Ketiadaan Barisan Instansi dan Puluhan Siswa Tumbang

 

Sangpencerah.web.id|SELAYAR— Lapangan Pemuda Benteng pagi itu (11/8) tidak seperti biasanya. Perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia yang kerap disambut dengan gempita parade riuh, kali ini menyisakan celah yang lumayan terasa. Derap langkah kaki yang saban tahun memadati alun-alun kota tampak berkurang. Tak ada lagi rombongan rapi dari instansi pemerintah maupun swasta yang biasanya meramaikan suasana. Kebijakan efisiensi anggaran memaksa barisan instansi absen tahun ini, sehingga panggung perayaan sepenuhnya diisi oleh aksi siswa-siswi sekolah.

Kendati demikian, di tengah carut-marutnya kondisi perekonomian Indonesia saat ini, gelaran tahunan ini tetap menjadi oase hiburan gratis yang begitu dinantikan oleh masyarakat Selayar. 


Kehadiran warga yang memadati tepi jalanan menjadi penanda bahwa rasa memiliki terhadap hari kemerdekaan tak pernah benar-benar luntur. Senyum dan tepuk tangan penonton mengalir polos, mencari sedikit penawar dahaga di tengah riuhnya panggung politik negeri yang kerap membingungkan.

Di bawah sengatan matahari Selayar yang cukup terik, pertunjukan tetap berjalan dengan keteguhan para pelajar. Dentum drumband dan tegaknya formasi baris-berbaris dari siswa-siswi menjadi cerminan bahwa tradisi menjaga kehormatan merah putih tetap dijunjung tinggi, tak peduli seberapa membakar cuaca hari itu. Namun, fisik manusia ada batasnya. Satu per satu siswa mulai tumbang dan harus diapit ke tepi jalan akibat kelelahan dan kepanasan.

Di tengah jalannya parade, kondisi fisik yang menurun juga dialami oleh Muhammad April (18), salah seorang peserta drumband dari SMAN 1 Benteng. Saat sedang melangkah dalam barisan, April sempat tersandung dan terbentur. Rasa pusing serta lelah yang menumpuk membuatnya harus diistirahatkan dan dibawa ke Klinik Polres Selayar untuk mendapatkan penanganan serta pemeriksaan ringan.


Absennya barisan instansi yang membuat suasana terasa berbeda, ditambah banyaknya siswa yang kelelahan di lapangan, menjadi catatan tersendiri pada perayaan tahun ini. Namun, di balik segala keterbatasan dan insiden tersebut, keteguhan para pelajar di lapangan serta ketulusan warga yang bertahan menonton membuktikan bahwa makna kemerdekaan di tingkat akar rumput selalu punya jalannya sendiri untuk tetap menyala. 

Menurut keterangan  dari PMI, jumlah siswa yang pingsan ada total 13 orang siswa. Delapan orang dilarikan ke Rumah Sakit karena Gejala Sesak, tiga ditangani di Posko Kesehatan di Lapangan Pemuda, satu di klinik polres, sementara satu lainnya diantar ke Sekolahnya di SMA Muhammadiyah. (SNJ/IM) 

Lebih baru Lebih lama