![]() |
| Ilustrasi. |
Rindu dipeluk Ibu - Chapter 1
Salmawati, S.Pd.Gr
Hari sudah mulai sore, Matahari pun sudah perlahan berjalan turun bersembunyi dibalik pohon kenari samping rumah. Beberapa warga sudah pulang dari kebun. Sudah menjadi kebiasaan di kampung Pakkopiang, sesibuk apapun warga dikebun, mereka selalu pulang ke rumah sebelum adzan Ashar dikumandangkan di surau.
“Bagaimana kabar Ibunya Airah Pak?, sudah semakin membaik?” Tanya Om Damar saat lewat depan rumah kepada Ayah, sambil memberikan beberapa sisir pisang raja, yang mungkin sudah disiapkan dari kebun. Saya mengambilnya dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah, sementara Ayah masih bebincang dengan Om Damar.
“Qadarullah, belum ada perkembangan sama sekali. Semoga Allah memberikan keajaibannya sehingga Ibunya Airah bisa sehat kembali seperti sedia kala. Do’akan ya Mar” Saya mendengar jawaban ayah sayup-sayup dari jauh. Om Damar adalah sepupu satu kalinya ayah, rumahnya pas disamping surau kampung kami.
Hari ini adalah sebulan sudah Ibu baring ditempat tidur. Kata Orang-Orang di Kampung Ibu terkena Stoke. Ibu tidak bisa berbicara dan menggerakkan seluruh badannya. Hanya matanya atau gerakan alisnya yang memberi isyarat, saat ditanya mau makan atau mau apa yang dibutuhkan.
Setelah saya menyimpan Pisang yang diberikan Om Damar di dapur saya menemui Ibu di Kamar. “Assalamualaikum Ibu,” dengan pelan saya membuka pintu kamar Ibu. Saya melihat Ibu memalingkan kepalanya menoleh ke arahku. Ibu tersenyum dan memandangku dengan hangat mengikuti langkahku menuju tempat ia berbaring sebulan ini. Perlahan saya duduk dikursi dan meraih tangannya.
“Ibu bagaimana keadaanya, Ibu kuat ya, Aira Rindu Ibu” tanyaku sambil mencium punggung dan telapak tangan Ibu. Ibu hanya menatapku saja tanpa sepatah katapun.
“Ibu, hari ini kita bisa makan pisang goreng. Tadi Om Damar kasih kita 3 sisir pisang raja saat pulang dari kebun. Pisangnya masak dipohon. Pasti enak sekali kalau di goreng bu, sudah lama Airah tidak makan pisang goreng buatan Ibu. Aira belum bisa masak pisang goreng seenak buatan Ibu,” kutemani Ibu ngobrol, walau ibu tidak bisa menjawabnya. Ibu mengelus elus punggung tanganku dan kembali tersenyum.
“Ibu Cepat Sehat ya, Aira sudah rindu masakan Ibu, Aira sudah rindu nyuci baju bersama ibu kayak dulu, tumbuk kenari sama-sama dan Aira rindu dipeluk ibu seperti dulu. Setiap pagi saat dibangunkan Aira dipeluk Ibu, sebelum tidur kalau malam hari Aira juga dipeluk Ibu. Aira Rindu Itu semua Ibu,” Aku terus berbicara sambil membersihkan wajah dan lehernya dengan kasin basah. Sudah mau masuk ashar, jadi saya membantu ibu berwudhu sambil berbaring. Ibu memberi isyarat, menutup kedua kelopak matanya sekejap. Sayapun mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan mencium keningnya. “Cepat Sehat ya bu,” bisikku.
Satu bulan bukan watu yang singkat bagi kami. Sejak Ibu Sakit Rumah terasa Sepi. Biasanya penuh dengan kehangatan, keceriaan dan suara ibu setiap hari. Kini sudah 30 hari kami tidak mendengar suara nyaring Ibu dan juga suasana yang biasa kami rasakan di rumah.
Ayah sendiri sudah berdiri didepan pintu kamar. “Airah cepat ya ambil wudhunya,” Ucap Ayah “Baik Ayah” Jawabku dan bergegas ke kamar mandi.
Sejak Ibu Sakit, kami selalu berjamaah di rumah, di dalam kamar Ibu dan Ayah. Ayah jadi Imam. Ibu juga ikut sholat berbaring.
“Ya Allah, Aira Rindu dipeluk Ibu. Sehatkan Ibu kembali ya Allah. Aira janji akan menjadi anak yang baik untuk Ibu dan Ayah” salah satu do’aku disetiap sholat dalam sebulan terakhir.
Saya mencium tangan Ayah. Ayah sangat kuat menghadapi semua ini. Saya yang belum bisa mengerjakan banyak pekerjaan rumah tangga, sehingga setiap pagi ayah yang menyiapkan sarapan. Pagi hari Ayah tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarku. Ayah tidak ingin saya keleahan sehingga tertidur di sekolah nanti.
“Pagi hari itu Aira foKus saja di sekolahnya, foKus belajar. Kalau Aira kecapean nanti aira di sekolah bukannya belajar malah tidur,” begitulah jawaban ayah setiap saya mau membantunya di pagi hari.
Seperti biasa, selesai berdo’a Saya pun mencium tangan ayah “Ayah, Aira Rindu suasana rumah kita yang dulu saat Ibu sehat. Aira ingin ibu sehat. Aira rindu dipeluk Ibu,” ucapku sambil menatap wajah ayah yang teduh, tenang.
“Insya Allah Ibumu akan sehat kembali Aira. Do’a-do’a yang kita langitkan Allah akan ijabah suatu hari nanti. Hanya saja saat ini kita harus sabar dan terus melangitkan do’a-do’a kita lebih khusyuk lagi. Jika hari ini Aira belum mendapat pelukan Ibu. Maka peluklah Ibumu nak. Berikan pelukan seperti Ibumu memelukmu,” mata ayah berkaca. Kami berdua mendekati Ibu dan memeluknya. “Kami sangat menyayangi Ibu,” bisikku lirih ditelinga ibu. (Bersambung)
Senyum Ibu sore itu menjadi jawaban bisu yang paling hangat, sekaligus menyisakan sepotong rindu di hati Airah. Rindu akan suara Ibu, rindu akan masakan Ibu, dan yang paling utama, rindu yang teramat dalam untuk kembali didekap erat dalam pelukan Ibu yang utuh. Simak kelanjutan kisah perjuangan dan ketabahan Airah merawat Ibunya dalam Rindu dipeluk Ibu - Chapter 2 hanya di Sangpencerah. (Sitti Nur Jannah)
