Gunung Nona Vs Bukit Nane


Sangpencerah.web.id|SELAYAR,—Selamat datang di catatan perjalanan kali ini! Menjelajahi keindahan Sulawesi Selatan memang tidak pernah ada habisnya, selalu ada cerita seru dan lanskap memukau yang menanti untuk diulik. Kali ini, mari kita intip sebuah petualangan seru menuju salah satu hidden gem eksotis di Bumi Tanadoang yang dijamin bakal bikin kamu langsung ingin packing baju. Yuk, simak cerita lengkapnya berikut ini!


Bukit Nona Dan Bukit Nane. 

Gak ada yang meragukan keindahan Gunung Nona di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Bentuknya identik banget kayak namanya, menyembul di sela-sela rimbunnya pohon yang menghijau bareng gundukan bukit yang romantis. Tonjolan-tonjolan khasnya bisa dinikmati bebas dari jalur darat pas kita menuju Sudu, Toraja, atau pelosok Enrekang lainnya. Sayangnya, tonjolan khas di sela bukit itu gak dihiasi oleh laut yang membiru. Beda cerita dengan Bukit Nane yang diapit laut luas membiru haru penuh pesona. Kamu butuh waktu sekitar 2,5 jam buat sampai ke puncaknya dari Kota Benteng, Selayar, dengan menempuh jalur darat dan laut.

Hari itu, 4 Juni, kita meninggalkan Pesantren Babussalam pukul 13.45 WITA bareng driver legend, Mappigau. Gak ada yang meragukan jam terbangnya dalam hal bersetubuh dengan aspal, mulai dari era bus aneka sejenis jumbo jet Boeing 377 kalau jenis pesawat terbang, sampai travel minibus selevel Kijang Innova yang wush-wush itu. 

Tawanya khas, bersahabat, dan sedikit kocak. Makanya wajar kalau dia dengan mudahnya mengamalkan lagu band legendaris Dewa 19, "Labidu" alias laki bini dua, tapi dia mah sudah "labita" alias laki bini tiga! Wanita-wanita biasa sampai yang sholehah banyak yang dibuat meleleh di depannya. Bukan cuma karena skill driver-nya yang melebihi vokalis Ahmad Dhani, tapi juga karena sikapnya yang super ramah tanpa membeda-bedakan.

Setelah tiba di Appattanah, kita sempatkan buat foto bareng di Tugu Aspal paling selatan, Sulawesi Selatan. Beberapa turis domestik kelihatan ada di sana, sepertinya mereka gak sempat hadir di acara Vespa bulan lalu. Perjalanan dilanjutkan pakai kapal laut menuju Polassi, pulau tempat Bukit Nane berdiri anggun dan menantang dari jauh buat ditunggangi. Begitu jangkar dilego, H. Sutami dan Ust. Alham diikuti yang lain langsung meloncat lincah dari buritan kapal. 

Dermaga yang patah dijejaki, dan teripang (Holothuria scabra), hewan laut superfood ini, kelihatan lagi dipanggang di sisi kanan dermaga. Ada juga kopra (Coconat) yang lagi disiangi, dan kunyit (Curcuma longa L.) yang dijerang di bawah panas matahari yang menyengat. Bau khasnya langsung menyeruak, rempah emas multifungsi yang melimpah ruah di tanah Polassi yang subur hijau ranau.

Tepat pukul 20:30 Wita, acara ta'ziyah dimulai atas meninggalnya Ibu Hariyati Ibunda dari santri Annissa Musa, Ust. Alham selaku pengasuh Pondok Pesantren Babussalam bertindak sebagai pembawa Hikmah ta'ziyah, sementara bapak Musa sendiri sebagai suami bertindak sebagai pengantar kata ahli musibah.

Jemaah cukup padat dan hikmat banget menyimak ceramah yang berlangsung serius tapi tetap dipenuhi canda tawa, bikin jemaah gak ngantuk atau bosan. Gak kerasa, ceramah takziah sudah berlangsung satu jam, tapi jemaah masih minta buat diteruskan, sementara Ust. Alham berkali-kali kode minta buat selesai.

Esoknya, misi penaklukan Bukit Nane dimulai. Dengan berjalan kaki dari rumah Pak Musa kurang dari setengah jam, sampailah kita di ladang jagung (Poaceae, batara) yang ada di kaki bukit. Kita bener-bener menikmati bukit ini, berlari di punggungnya walau agak ngeri karena angin bertiup kencang. Sedangkan sisi kiri dan kanannya jurang curam. 

Tapi untungnya keindahan bukit ini sukses menutupi rasa ciut itu. Di puncak bukit, ada Batu Barakka' peninggalan ajaran kemusyrikan yang berdiri lesu di atas sana diterpa matahari. Hakikatnya dia memang indah dan menantang adrenalin buat digapai, tapi dia hanyalah seonggok batu dan kuburan tua, cuma manusia yang terlampau bodoh saja yang menyembahnya dan meminta berkah di tempat itu, sampai akhirnya Islam datang membawa cahaya iman yang mengenyahkan cahaya paganisme kemusyrikan.

Setelah matahari mulai meninggi, kita turun dan menikmati makan siang di saung indah yang ada di tengah-tengah ladang batara (jagung) ini. Info tambahan, kalau musim barat tiba, saung ini harus dibongkar karena angin bakal Meluluhlantakkannya sampai jagung-jagung beterbangan tanpa sisa. 

Menu lappa-lappa (lepet), burasa (lontong), nasi santan (uduk), lontong ubi, ikan bakar, kerang, jagung bakar, dan jagung rebus, ditambah perasan jeruk nipis, cabai rawit, serta lahara (kelapa parut daun singkong) racca'-racca' Mangga, bener-bener menyempurnakan traveling edisi Bukit Nane kali ini. 

Kulinernya nikmat tiada tara, sampai-sampai Ust. Alham harus mencari passanderang (sandaran) karena saking kenyangnya. Selepas Ashar, setelah melewati ombak yang lumayan menantang, kita akhirnya tiba kembali di Pesantren Babussalam. (Ishaq Mattoali/Jannah) 

Lebih baru Lebih lama