Refleksi Pasca Kunjungan Empat Panglima Ke Selayar, Legislator Senayan, dan Staf Khusus Kementerian Koperasi dan UMKM.


Sangpencerah.web.id|Selayar, —Indonesia adalah sebuah simfoni perbedaan yang terbentang dari ujung Sabang hingga ke karang-karang di Merauke. Perbedaan itu bukan sekadar garis di peta, melainkan terpahat nyata dalam rona fisik manusianya: dari ketegasan garis wajah saudara kita di Timur yang ditempa matahari pesisir, hingga kelembutan fisik di Barat yang dibasahi hujan tropis. Namun, di balik keberagaman fisik itu, ada satu benang merah yang mulai memudar dalam piring makan kita: kedaulatan protein laut yang kini seolah terpinggirkan oleh dominasi pangan daratan."

Ada apa? mengapa Selayar yang hampir tidak terlihat di peta dunia ini tiba-tiba dikunjungi banyak tamu-tamu penting? 

Dalam empat hari terakhir (17-21) media disibukkan dengan berita kunjungan para Panglima, mulai dari Panglima hantu laut Jalasveva Jaya Mahe, Laksamana Muda Andi Abdul Azis dari KODAERAL VI yang bermarkas di Makassar, Panglima Hantu rimba Kodam XXIV Hasanuddin Mayor Jendral Bangun Nawoko, "Panglima Senayan" legislator Komisi 1 Ahmad Daeng Sere bersama staf dari Kementrian Pertahanan  dan Markas besar TNI, "Panglima Koperasi" Staf Khusus Kementrian Koperasi & UMKM, David Bastian.

Bukan kebetulan mereka itu tiba-tiba hadir begitu saja, di tempat dan waktu bersamaan. Bukankah TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)TNI 128 bukan hanya diadakan di Selayar tetapi juga di Kabupaten lain?. Bukankah penanaman "Gemulai" gerakan menanam kedelai dan rencana pembangunan Pangkalan Angkatan laut bukan hanya di Selayar, begitu juga KDKMP (Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih) dan Koperasi Primer yang menjadi fokus kunjungan Stafsus Mentri Koperasi & UMKM, sabagai awalan kunjungan Mentri Koperasi & UMKM berikutnya di Selayar.

Jika mengaca pada kejayaan Masa lalu, Selayar itu adalah bandar niaga yang sangat besar dan strategis, dibuktikan dengan jejak - jejak purba pelayaran dan perdagangan lintas negara bukan hanya profinsi. Jangkar raksasa di Padang lebih besar dari Jangkar Kapal Pelni manapun bahkan mungkin Titanic,Gong Nekara dari Perunggu 500 SM dari daratan China. Dua bukti ini saja sudah cukup bahwa To Silajara itu pelaut sekaligus saudagar ulung tiada banding. Perantau, penakluk, belum lagi Pa'badilang yang menjadi pos militer laut Kerajaan Bone yang diwajibkan membayar pajak setiap kapal yang melewati area teluk Bone. Bisa dibayangkan jika ini kembali di berlakukan maka berapa pemasukan dari "Selat Hormus"nya Selayar ini?.


Tapi sudahlah, itu masa lalu, jangan jemawa dengan apa yang sudah jadi bangkai peradaban, jangan terlena, disaat nenek moyang kita bisa berjaya dengan alat seadanya mengapa kita tidak?. Menurut David Bastian Stafsus Mentri  Koperasi dan UMKM, bahwa "Indonesia 70 persen wilayahnya adalah laut tetapi nelayan kita hanya 1 juta orang", itupun nelayan yang yang terjerat utang tengkulak, riba, rentenir.

Di taksir di Selayar kepulauan saja, rata-rata utang dua juta sampai 20 juta per-nelayan bahkan ada yang ratusan juta. Jika dikalkulasi maka Milyaran utang Nelayan kepada tengkulak cukuplah menjadi penjajah gaya baru atau VOC versi kekinian.

Negara Harus Hadir.

Negara harus hadir dalam menyelamatkan Penjajahan gaya baru para tengkulak Ikan di Kepulauan, yang mana sudah diikat dengan utang riba, lalu dibeli hasil lautnya dengan harga murah. Maka tentu kita berharap kehadiran KDKMP adalah solusi emas atas permasalahan akut ini. 

Desa Nelayan, SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) dan Koperasi lain yang tetap memegang teguh prinsip kerakyatan. Satu SPBN hanya membutuhkan 1-2,5 Milyar saja, jauh dibawah utang nelayan yang puluhan Milyar bahkan bisa saja triliunan jika se-NKRI. 

Nelayan yang di cekik dengan harga BBM selangit bisa diantisipasi dengan hadirnya SPBN, walaupun Pak Camat Pasi'masunggu Andi Amin Arsyad sempat pesimis yang disampaikannya pada diskusi Korps Alumni Himpunan Mahsiswa Islam (Kahmi).

Gemulai Menyusul Pendahulunya Gemerlap dan Gemetar. Gerakan menanam Kedelai yang merupakan program ketahanan pangan nasional yang sukses dilakukan secara simbolik oleh Kodaeral VI Laksamana Muda Andi Aziz, diharapkan betul-betul bisa memangkas ketergantungan kepada USA sebagai Negara Importir terbesar NKRI.

Tentu kita berharap Kedelaisasi tidak mencerabut protein Ikan yang lebih baik dari protein Kedelai. Apalagi orang timur identik dengan Ikan, Ikan adalah kita, kita tak bisa tanpa Ikan. Ikanisasi dan Kedelaisasi harus seimbang, apalagi di timur khususnya di Selayar. 

Secara Nutrisi, ikan lebih mencerdaskan, lebih menguatkan, bisa dibuktikan secara alami. Fisik orang timur NKRI dengan Fisik orang di barat NKRI. 

Jangan sampai Tempenisasi dan Tahunisasi menggerus Ikanisasi, tentu kita berharap ketika Jagung itu Polri, Beras Itu TNI AD, Kedelai itu TNI AL, maka Ikan itu TNI AU, "ups terbalik yah."

Lalu apa kabar Mentri Susi dengan peninggalan program Ikanisasi hebat masa lalunya?.

Pada akhirnya, menjaga 'Ikanisasi' bukan hanya soal mengembalikan kejayaan program masa lalu atau sekadar kerinduan pada ketegasan gaya Susi Pudjiastuti. Ini adalah upaya merebut kembali jati diri kita sebagai bangsa bahari. Jika kita terus membiarkan 'Tempenisasi' menggerus potensi laut kita, maka kita sedang mengabaikan harta karun yang sudah disediakan alam di depan mata. Sudah saatnya ikan kembali menjadi panglima di meja makan kita sendiri, sebelum laut kita hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri. Bersambung.. 

(M.Ishaq Mattoali/Sitti Nur Jannah) 


Lebih baru Lebih lama