![]() |
| Muh. Fauzan. Mahasiswa Universitas Negri Makassar (Photo:istimewa) |
Sangpencerah.web.id|MAKASSAR,—Di balik riuh rendah koridor kampus Universitas Negeri Makassar, sebuah gagasan humanis lahir dari kedalaman empati seorang mahasiswa bernama Muh. Fauzan. Sebagai insan yang menekuni bidang Pendidikan Khusus, Fauzan memahami betul bahwa kemandirian bagi anak-anak tunanetra bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan perjuangan yang bermula dari hal-hal paling sederhana di ruang privat mereka.
Melalui tangan dinginnya, seikat sapu lidi yang biasa dipandang sebelah mata disulap menjadi media komunikasi yang menyentuh nurani: sebuah sapu lidi dengan guratan huruf Braille pada gagangnya.
Langkah inovatif ini bermula ketika Fauzan melangkahkan kaki ke asrama sekolah luar biasa, tempat di mana ia sering mengamati keseharian anak-anak didikannya. Di sana, ia menangkap gurat-gurat debu yang masih setia hinggap di atas hamparan kasur, sebuah tanda kecil bahwa menjaga kebersihan ranjang sendiri merupakan tantangan nyata bagi mereka yang tak mampu melihat warna.
"Karena kalau saya ke sekolah dan jalan-jalan ke kamar anak-anak itu nda pernah di sapu kasurnya makanya saya terinspirasi untuk membuat produk sapu lidi yang pengikatnya itu diberi tulisan braille karena yang akan menggunakan produk ini adalah anak tunanetra (buta)," Ujar Fauzan.
Terinspirasi dari pemandangan tersebut, Fauzan mulai merancang sebuah alat yang mampu berdialog dengan indra peraba, memberikan navigasi melalui huruf-huruf timbul yang disematkan pada pengikat sapu.
Aksara Braille yang melekat pada gagang lidi tersebut memiliki makna ganda yang melampaui fungsi teknisnya. Selain menjadi penanda identitas agar setiap anak mampu mengenali milik pribadi mereka di tengah keterbatasan visual, guratan tersebut juga menjadi wadah bagi untaian kalimat motivasi.
Setiap kali jemari mungil itu menggenggam gagang sapu, ada pesan semangat yang meresap melalui ujung saraf, membisikkan kekuatan bahwa mereka mampu berdaulat atas kebersihan lingkungannya sendiri tanpa harus selalu menanti bantuan tangan orang lain.
Lahirnya inovasi ini tentu tak lepas dari bimbingan dan arahan akademis dari para pendidik yang berdedikasi. Di bawah asuhan Dr. H. Syamsuddin, M.Si. dan Nur Wulandani, S.Pd., M.Pd., gagasan tulus Fauzan ini diramu dan dipertajam hingga menjadi sebuah solusi nyata yang siap menebar manfaat.
Kehadiran para dosen ini menjadi kompas bagi Fauzan dalam memastikan bahwa setiap lilitan lidi dan ukiran Braille tersebut benar-benar memiliki nilai guna yang tepat sasaran bagi penyandang disabilitas.
Melalui karya ini, Muh. Fauzan menunjukkan bahwa kewirausahaan bukan melulu soal mencari laba, melainkan tentang bagaimana ilmu Pendidikan Khusus yang ia pelajari dapat hadir sebagai solusi nyata. Ia tak hanya menciptakan sebuah alat pembersih, tetapi sedang menenun harapan agar anak-anak tunanetra dapat merawat martabat dan ruang hidup mereka dengan penuh percaya diri.
Di tangan Fauzan, sapu lidi kini menjadi simbol bahwa meski mata tak mampu menatap cahaya, kemandirian bisa tetap bersinar melalui sentuhan yang penuh makna. (Sitti Nur Jannah)


