![]() |
| Suasana games dengan para guru (Photo: Nanna) |
Fahruddin Achmad, S.T., selaku pemateri utama, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para guru madrasah di Selayar. Menurutnya, energi yang dibawa peserta pada hari kedua ini sangat luar biasa, terlebih karena dilaksanakan bertepatan dengan momentum sakral peringatan hari besar pendidikan.
"Hari kedua Workshop Guru di bawah naungan Kemenag Selayar ini luar biasa menurut saya. Antusiasme sangat tinggi dengan banyaknya pertanyaan di setiap sesi hingga keaktifan peserta dalam simulasi, bermain peran, dan game interaktif," ujar Fahruddin.
Ia menilai atmosfer positif ini merupakan manifestasi nyata dari semangat transformasi. "Semangat Hari Pendidikan Nasional sepertinya tergambar baik, karena hari kedua ini tepat setelah peserta mengikuti upacara peringatan Hardiknas di MAN Benteng Selayar," tambahnya.
Kesan positif tersebut selaras dengan apa yang dirasakan oleh para peserta. Andi Husnawati, S.Pd., M.Si., mengungkapkan bahwa workshop ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah penguatan emosional bagi para pendidik.
"Saya merasa sangat bersyukur bisa mengikuti workshop ini. Kegiatan ini menyalakan kembali semangat yang sempat redup dan memberi keyakinan bahwa kita mampu berkembang lebih baik lagi. Saya kembali ke rumah dengan hati yang lebih hangat, pikiran yang lebih terbuka, dan tekad yang lebih kuat untuk terus belajar dan berkontribusi," ungkap Andi Husnawati dengan penuh semangat.
Selain penguatan mental, sisi praktis pengajaran juga menjadi sorotan utama. Yuliana Selvie Ali, S.Pd., menceritakan bagaimana simulasi metode ajar yang interaktif memberikan inspirasi baru untuk menghidupkan suasana kelas.
"Dengan terselenggaranya kegiatan ini, kami mendapat pengalaman dan ilmu baru. Banyak metode ajar efektif yang bisa digunakan, seperti kegiatan melengkapi kata di mana peserta diajak berpikir kreatif mencari kelanjutan kata berdasarkan akhiran huruf N, D, atau S," jelas Selvie.
Ia optimis metode sederhana namun menarik ini dapat segera diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah. "Khususnya di mata pelajaran Bahasa Inggris, peserta didik bisa diajarkan kosakata sederhana melalui cara ini sehingga mereka lebih tertarik untuk aktif di dalam kelas," lanjutnya.
Lebih lanjut, Fahruddin menaruh harapan besar agar gagasan yang muncul dalam workshop ini tidak berhenti di ruang pertemuan saja. Ia mendorong para pendidik untuk membawa perubahan nyata pada tahun ajaran 2026-2027 mendatang melalui inovasi-inovasi spesifik di madrasah masing-masing.
"Sangat diharapkan setelah workshop ini peserta dalam menemukan gagasan baru terbaik untuk pengembangan Madrasah masing-masing di tahun ajaran baru 2026-2027 nanti. Misal, ada yang memilih akan mengembangkan Green School (sekolah Hijau), Madrasah Plus (tahsin dan tahfidz), Program Guru Menulis menghasilkan antologi tulisan para guru, standarisasi buku praktik ibadah, dan lainnya. Semua bertekad akan terus membangun komunikasi dan kebersamaan mewujudkan madrasah yang lebih baik, berkualitas, unggul, ramah, dan terintegrasi," Tutupnya. (W/Sitti Nur Jannah)



