ICTC 2026: Menakar Masa Depan Pariwisata Indonesia Melalui Diplomasi Akademik Global

Foto bersama (ICTC) D’Anjong Hotel, Politeknik Pariwisata Makassar

Sangpencerah.web.idMAKASSAR, — International Conference on Tourism and Culture (ICTC) 2026 yang digelar pada Sabtu (25/04/2026) menjadi momentum krusial bagi Indonesia dalam memperkuat narasi pariwisata di level global. Forum akademik yang diselenggarakan di D’Anjong Hotel, Politeknik Pariwisata Makassar ini bukan sekadar ajang pertukaran ide, melainkan ruang strategis untuk menjawab tantangan industri yang kian dinamis akibat pengaruh teknologi dan perubahan perilaku wisatawan.

​Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini mempertemukan para pemikir dari tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Jepang. Sebanyak lebih dari 60 makalah ilmiah dipresentasikan dalam enam ruang paralel, mencakup beragam topik mulai dari isu lingkungan hingga perilaku wisatawan di era modern. Menariknya, di tengah dominasi akademisi senior dan mahasiswa, kehadiran Golden Gate School mencuri perhatian sebagai satu-satunya representasi dari tingkat sekolah menengah dalam forum internasional tersebut.

​Nuansa budaya lokal yang kental mengawali rangkaian acara di Haluan Room sejak pukul 08.30 WITA. Para peserta disambut dengan Tari Pa’gellu’ dari Tana Toraja, sebuah tarian simbol rasa syukur dan penghormatan yang dibawakan secara ritmis oleh para penari perempuan dalam balutan busana adat kandaure dan sa’pi’. Kehadiran tarian ini menjadi pernyataan tegas mengenai pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi yang dibahas dalam diskusi-diskusi ilmiah setelahnya.


​Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Pariwisata Makassar, Dr. Herry Rachmat Widjaja, M.M.Par., CHE, menegaskan bahwa ICTC 2026 merupakan jembatan kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan. Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Ilham Junaid, Ph.D., selaku Kepala P3M Poltekpar Makassar, menyoroti pentingnya riset sebagai tulang punggung pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pesan ini juga diperkuat oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf, Ir. Martini Mohamad Paham, MBA, yang melalui sambutan daringnya menekankan bahwa SDM yang unggul adalah kunci daya saing bangsa.

​Salah satu capaian nyata dalam konferensi ini adalah penandatanganan kerja sama strategis antara Politeknik Pariwisata Makassar dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret mengintegrasikan dunia akademik dengan pengelolaan destinasi wisata berbasis ekologi dan keberlanjutan, mengingat status Wakatobi sebagai kawasan dengan nilai ekologis tinggi di Sulawesi Tenggara.

​Sesi utama konferensi menghadirkan perspektif yang komprehensif dari empat pakar utama. Bupati Wakatobi, H. Haliana, S.E., mengupas tuntas strategi pengembangan wisata berbasis kearifan lokal. Sementara itu, Dr. Liyushiana dari Poltekpar Medan dan Assoc. Prof. Dr. Afiza Binti Mohamad Ali dari International Islamic University Malaysia memberikan sorotan tajam pada transformasi digital dan penerapan smart tourism yang menjadi tren global. Sesi ini ditutup oleh Dr. Hj. Ratna dari Poltekpar Makassar yang memfokuskan pembahasannya pada adaptasi kompetensi SDM pariwisata di dunia pendidikan.

​Memasuki sesi siang hingga penutupan pada pukul 16.00 WITA, diskusi di ruang-ruang paralel berlangsung secara aktif. Pertukaran gagasan antara mahasiswa, peneliti, dan praktisi ini mencerminkan optimisme bahwa masa depan pariwisata Indonesia akan tumbuh lebih adaptif, inklusif, dan berdaya saing tinggi. ICTC 2026 pun berakhir dengan meninggalkan pesan kuat: bahwa kolaborasi lintas sektor dan penguatan basis riset adalah harga mati dalam merumuskan arah pariwisata masa depan.

(W/Sitti Nur Jannah | Report/Magfiratul Jannah)


Lebih baru Lebih lama