Anjar Diana dan Dua Lelaki Perisai Hidupnya

Suasana menuju pemakaman almarhumah Anjar Diana

Sangpencerah.web.id|Selayar, —Anak muda yang gagah itu berdiri termangu. Tak ada air mata yang mengalir di wajah polosnya, hanya rona merah yang tertahan di pipi. Di benaknya, barangkali berputar sejuta misteri yang sulit ia pahami sepenuhnya. Sekop demi sekop tanah berbatu golla-golla terus ditumpahkan, perlahan menutupi jenazah wanita yang dalam tiga belas tahun terakhir ini ia panggil Amma'.

​Ketika gundukan tanah berpusara itu telah sempurna dibentuk, Ust. Mustakim memberikan nasehat dengan lembut, "Anakku Noval, doakan ibumu. Kamu sudah pintar, kamu dididiknya selama ini dengan cerdas."

​"Iye'," jawab Noval tegas, walau suaranya terdengar gemetar.

​Sementara itu, sang ayah, lelaki yang sedari tadi berdiri kokoh dan tampak perkasa tiba-tiba didera kebingungan dalam hitungan detik. Entah ia harus menghampiri siapa, atau ingin didekap oleh siapa. Dengan jemari yang lesu, diraihnya satu per satu tangan para pelayat di seputaran pusara istrinya.

​"Sabar," bisikku sambil memegang erat tangannya. Ia hampir tak mengenaliku karena masker dan kacamata yang kukenakan . Namun saat kutatap matanya, aku tak sanggup menahan rasa haru. Di sana, bulir-bulir bening akhirnya tumpah juga. Lelaki gagah bersuara merdu itu baru saja ditinggalkan istri tercintanya untuk selama-lamanya.


Ribuan pelayat bergeser satu demi satu, silih berganti. Dari wajah-wajah yang familier hingga yang asing. Seingatku, jumlah pelayat yang sebanyak ini tergolong di atas rata-rata untuk ukuran Selayar, apalagi untuk level kampung. 

Pemandangan lautan manusia seperti ini biasanya hanya terlihat saat berpulangnya tokoh-tokoh besar, seperti almarhum H. Ompo Husain (Tokoh Agama Selayar), H. Lahamuddin dan H. Hamid Sikki' (Imam Masjid Agung Al-Umaraini), atau Ir. Darwis (Mubalig Selayar).

​Hari ini, penghormatan luar biasa itu tertuju kepada Anjar Diana, putri dari Bonea Timur. Seorang Ibu RK, ibu dari Noval, penggerak Majelis Taklim dusun, sekaligus pengurus Ranting 'Aisyiyah. Wanita muda seumur sebaya bidadari surga, sekitar 33 atau 34 tahun itu kini telah kembali ke asalnya.

​Musibah itu datang dalam suatu kecelakaan tunggal pada hari Ahad lalu (04/11) di Appak Batu. Saat itu, ia sedang a'boja tau menyebar undangan untuk pernikahan sepupunya. Tanpa disangka, kain sarung yang dikenakannya terlilit rantai sepeda motor. Benturan keras di kepala pada aspal tak dapat dielakkan. Sejak saat itu, ia tak pernah sadarkan diri.

​"Anakku sikang" Kutitipkan anakku..

​Kalimat itu menjadi pesan dan titipan terakhir yang meluncur dari bibirnya untuk sang buah hati sebelum ia dinaikkan ke ambulans. Harapan terakhir seorang ibu. Setelah itu, lambat laun ia menyepi bersama Tuhannya, dalam ritme komunikasi yang hanya diketahui oleh dirinya dan Sang Pencipta.

​Tiga hingga empat tahun Majelis Taklim itu dirawatnya bersama pengurus lain. Kehadirannya di tengah-tengah jemaah bak mutiara manikam. Wajahnya tak pernah alpa dari senyuman atau lebih tepatnya, senyum itulah raut wajahnya yang sejati.

​Di setiap sesi tanya jawab, ketika namanya dipanggil untuk memperagakan atau menjawab pembahasan ilmu hari itu, dengan mudah ia memberikan jawaban yang sempurna. Tentu saja, selalu diiringi senyum khasnya. Senyum bidadari yang sempat Tuhan titipkan di dunia padanya. 

​"Hah, Kamu Tante Sinar!" begitu aku biasa memanggilnya setiap kali hendak mengajukan pertanyaan, merujuk pada panggilan hangat kepada tante kami yang parasnya paling mirip dengannya yang telah meninggal beberapa tahun lalu. "Coba contohkan tata cara wudu dan tayammum disaat sakit," pintaku kala itu. 13 hari sebelum meninggalnya. Ia pun mempraktikkannya dengan sempurna.

​Ia hanya sekali absen selama Majelis Taklim diadakan, padahal kegiatan tersebut sudah berjalan bertahun-tahun. 

​إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

​Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita." (QS. Ahqaf:13)

​Sungguh, tidak mudah bagi seorang hamba untuk istiqamah menuntut ilmu syar'i, kecuali mereka yang betul-betul dicintai oleh Allah.

​Kebaikan dan ketulusannya tidak hanya membekas di Majelis Ta'lim tapi di manapun dia berada. Dua hari sebelum berpulangannya, saya sempat berpesan padanya, "Tolong agar teman-teman Kodim FC membawa pulang Saronso (es kelapa gula aren) dan kue yah." Ia menjawab "Iye Ustad" dengan segenap senyum ramahnya. 

​Kini, ribuan pelayat datang memberikan penghormatan terakhir. Padahal ia bukan pejabat atau tokoh besar, namun semua merasa berduka. Gemuruh kesedihan begitu terasa. Bumi seakan ikut hanyut dalam nestapa Noval, Yono, dan seluruh kerabatnya. Berkali-kali Ust. Mustakim menahan tangisnya.

​Di tengah musim panas dan paceklik yang melanda, hembusan angin sepoi basah terasa adem menyapu garis wajah para pelayat. Mendung tipis di sebelah timur Bonea Timur perlahan merayap menghampiri area masjid siang itu. Seakan-akan tanda kepergian seorang putri yang tidak dikenal di bumi, namun insyaAllah dikenal di langit.

​Kini senyum itu telah diminta kembali oleh Pemilik-Nya. Walau terasa berat bagi kita yang ditinggalkan. Seakan-akan Allah menyampaikan janji indahnya dalam QS. Fusilat:30

 ​إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

​​Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

​Aku ambil cepat senyum itu bersamamu, agar tetap terjaga buat Noval dan Yono. Dunia ini terlalu rendah untuk ukuran wanita salehah sepertimu. Kembalilah ke asalmu, di sana kawan-kawanmu telah menanti. Ainun Mardhiyah dan dayang-dayangnya, Ibunda Khadijah, Ibunda 'Aisyah, Ibunda Zainab, Fatimah az-Zahra, dan segenap wanita penghuni surga lainnya.

​Pulanglah... kami ikhlas walau diawal terasa amat berat. Pulanglah, walau senyum dan kebaikanmu akan terus kami kenang. Pulanglah, dan putra semata wayangmu akan senantiasa kami cintai.

​Kembalilah ke asalmu, Surga. Jadilah bidadari di sana sebagaimana engkau telah menjadi bidadari di dunia. Dengan jiwa yang tenang, ridho kepada Allah, dan Allah pun ridho kepadamu. Janganlah engkau takut, janganlah engkau bersedih. Noval dan Yono berada dalam titipan di sebaik-baik tempat menitip, yakni Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 

Pulanglah, kembalilah ke asalmu, walau jalan-jalan berbatu, curam dan terjal, Pantai Timur Bikoti', akan sepi oleh joki wanita terbaik yang menaklukkan punggung dan lereng-lerengnya yang ngeri dan bercadas. Pulanglah, dan kami akan terus melanjutkan Majelis ta'lim perjuanganmu, dan di Padang Mahsyar nanti kita akan saling membela dihadapan Tuhan kita, bahwa kita semua saudara seiman dunia dan akhirat, maka satukan kami di Jannah Firdausmu. 

Lambat laun, Noval yang kini berusia 13 tahun yang baru duduk di MTS Lembang Bau kelas VII akan paham dan bertumbuh dalam kekuatan seorang yatim yang dilindungi Muadzin yang bersuara merdu, Yono Ayahnya sendiri dan lingkungan sosial yang sayang padanya sebagai buah kebaikan yang kau tebar selama hidup di dunia ini. *(IM) 






Lebih baru Lebih lama