Sangpencerah.web.id | SELAYAR, -- Belum lama ini, Wali Kota Medan, Rico Waas, menyatakan niatnya untuk mengembalikan bantuan beras 30 ton dan logistik untuk korban terdampak bencana dari UEA.
"Kami kembalikan (bantuan tersebut) kepada Uni Emirat Arab," kata Rico saat ditanya wartawan, Kamis (18/12/2025).
Yang memperparah kondisi adalah Pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian terkait bantuan kemanusiaan dari Malaysia untuk korban banjir di Aceh memicu polemik panas di jagat maya. Alih-alih mendinginkan suasana, ucapan Tito yang terkesan meremehkan nilai bantuan dari negara tetangga tersebut justru memanen kritik tajam dari warganet Malaysia.
Dikutip dari inilah.com, persoalan tersebut bermula dari potongan video yang viral pada Sabtu (13/12/2025). Dalam sebuah siniar bertajuk 'Suara Lokal Mengglobal' di platform YouTube, mantan Kapolri tersebut menyinggung soal izin bantuan internasional untuk bencana banjir di Sumatera, khususnya Aceh. Tito menyebut bahwa bantuan obat-obatan dari Malaysia yang masuk nilainya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekuatan anggaran Pemerintah Indonesia.
"Setelah dikaji, berapa banyak obat-obatan yang dikirim, itu nilainya tidak sampai Rp1 miliar. Negara kalau untuk Rp1 miliar kita cukup, kita punya anggaran yang jauh lebih besar dari itu," ujar Tito
Ia menambahkan bahwa publikasi bantuan internasional yang nilainya 'tak seberapa' dikhawatirkan merusak citra kemampuan domestik. "Jangan sampai nanti image-nya seolah dapat bantuan dari negara lain, padahal nilainya tidak seberapa dibanding dengan kemampuan kita," tegasnya.
Hal tersebut sontak membuat warganet kaget lantaran merasa bahwa pemimpin di lapisi egoisme sektoral, dan egoisme sektoral itu sendiri dapat merusak visi yang lebih besar dan mencegah masyarakat mencapai potensi penuhnya dengan dalih "kami masih bisa tangani". masyarakat di suruh bergantung pada bantuan yang ada pada pemimpin, karena energi dan sumber daya itu disalurkan ke dalam konflik internal dan kepentingan pribadi, daripada berfokus pada misi utama kemanusiaan.
Pada permasalahan 30 ton bantuan beras UEA yang ingin dikembalikan, saat kembali di wawancarai di Lanud Soewondo, Medan, jumat (19/12) Boby Nasution menerangkan bahwa, "Sebenarnya bukan dipulangkan ya, tapi karena ini NGO, diserahkan kepada NGO yang ada di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Nanti Muhammadiyah yang akan menyalurkan,"
Tito menjelaskan kesalahpahaman muncul karena bantuan tersebut awalnya ditujukan langsung kepada Wali Kota Medan. Wali Kota Medan yang mengira bantuan berasal dari pemerintah UEA, kebingugan karena belum ada mekanisme penerimaan bantuan government to government.
"Dipikir oleh Pak Wali Kota adalah dari pemerintah. Government to government, yang belum ada mekanismenya," ucap Tito.
Saat ini, bantuan tersebut telah berada di Muhammadiyah Medical Center untuk dibagikan kepada masyarakat korban banjir Sumatera Utara.
Selain itu, Mentri dalam Negri (Mendagri) Tito Karnavian turut melakukan klarifikasi atas pernyataannya terkait bantuan dari Malaysia.
Dikutip dari Kompas.com, ia mengatakan, "Saya ingin mengklarifikasi apa yang saya jelaskan pada saat podcast saya dengan Pak Helmy Yahya. Jadi saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan dukungan bantuan dari saudara-saudara kita yang dari Malaysia. Sama sekali tidak bermaksud itu ya," kata Tito saat ditemui Kompas.com di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025).
Tito mengatakan dirinya justru sangat menghormati warga di Malaysia, termasuk diaspora Aceh yang ada di Negeri Jiran.
Mantan Kapolri pun memberikan apresiasi tinggi atas bantuan dari Malaysia terhadap warga di Aceh. "Sekali lagi saya menghormati saudara-saudara kita di Malaysia, termasuk juga saudara-saudara kita yang diaspora Aceh. Tentu memiliki kewajiban moral untuk membantu. Saya memberikan apresiasi yang tinggi. Saya menghormati. Termasuk juga dengan pemerintah Malaysia yang hubungannya sangat baik selama ini, saling bantu," ucap dia.
"Tapi saya tidak bermaksud mengecilkan, saya lebih maksudkan kepada pemberitaan-pemberitaan itu, tolonglah yang di dalam negeri yang sudah banyak membantu dan sudah sangat bekerja sangat keras juga diberikan apresiasi. Kira-kira seperti itu maksud saya," jelas dia.
"Tidak ada yang maksud negatif sedikitpun dari saya kepada pemerintah Malaysia ataupun kepada warga Malaysia apalagi kepada diaspora Aceh di Malaysia," tegas Tito lagi.