Bias Pers Kampus, Teror Pers Dan Pers Teror

Sumber gambar: News.republika.co.id

Dua media besar di Indonesia Timur masih dibawah Korporate Media Nasional diwaktu itu, berjibaku menyuguhkan fakta dari  Zona Konflik Ambon, RMS VS NKRI dalam kurun waktu 1999-2002.

Konflik media Ambon Ekspres dan Suara Maluku. Ambon ekspress yang di duga memihak pada Islam dan Suara Maluku yang di duga memihak pada kristen pada saat itu, merupakan salah satu contoh bagaimana Pers bisa memperburuk konflik komunal jika tidak netral, meski keduanya kini telah berkembang menjadi media profesional yang lebih moderen.

Dikutip dari media Kompasiana.com, Dua puluh enam tahun silam, tepatnya 19 Januari 1999, Ambon rusuh. Konflik agama antara Islam dengan Kristen terjadi. Awalnya konflik berlangsung antara dua daerah: Batumerah yang berpenduduk Islam konflik dengan tetangganya Mardika yang berpenduduk Kristen. Namun konflik kemudian menyebar ke daerah-daerah lainnya: Dobo, Tanimbar, Silale, Waihaong, Kudamati, Paradey, Batu Gantung, Bentengkarang, Nania, Hila, Wailete, Kamiri, dan Hative Besar.

situasi konflik Ambon 1999
sumber gambar: Geger.id

Akibat konflik menyebar itu, koran Suara Maluku tidak terbit. Situasi Ambon yang tidak normal dan kondusif membuat para jurnalis Suara Maluku terhambat dalam bekerja, bahkan sebagian menjadi korban. Baru pada 1 Februari 1999, Suara Maluku terbit kembali. Headline terbitannya: “Ambon Sudah Dikendalikan.” Berita-beritanya menginformasikan suasana Ambon yang normal dan pendapat tokoh dan warga tentang konflik. Namun kemudian, Suara Maluku terbit secara tidak teratur. Kadang terbit, kadang menghilang.

Situasi Ambon ternyata belum normal betul. Pun begitu, jurnalis Suara Maluku, baik Islam maupun Kristen, tetap ramai berkumpul di kantor di daerah Halong Atas. Hingga sejak Maret 1999, jurnalis Suara Maluku yang beragama Islam dilarang masuk ke Halong Atas yang merupakan daerah Kristen. Dalam keadaan seperti itu, manajemen mengambil keputusan: jurnalis Islam ‘tak perlu ke kantor. Kalau ada berita, kirim lewat faximile. Begitu pula dengan jurnalis Kristen yang berhalangan datang ke kantor. Strategi peliputan berita juga diterapkan: jurnalis Islam meliput di daerah Islam; jurnalis Kristen meliput di daerah Kristen.

Sementara itu diklat Jurnalistik pemula tetapi pemateri prestisius dilaksanakan di Kampus ITSBM (11/12), Kota Benteng, di Kompleks Perguruan Muhammadiyah lantai 1 Kampus biru itu.

Pematerinya tidak kaleng-kaleng Pak Farid Ma'ruf, sebagai jurnalis senior dari Fajar group sekaligus Penulis yang bermukim di Australia, Saiful Arif eks wartawan pedoman rakyat yang menimba ilmu langsung dari suhu jurnalis, guru para insan pers, Dahlan Abu bakar, Andre Pionjongi dari Selayar news, Aan dari Humas Pemda dan Dr. Muh Ihsan Maro S.Ag., M.Si, wakil rektor ITSBM Selayar.

Seharusnya Para Profesor, Mahasiswa, Bupati dan Jajarannya, Dosen, TNI, Polri, para guru dan semua pihak hadir di Diklat ini guna meraup ilmu media dari sumbernya yang otentik, bukan hanya Gen Z itupun hanya secuil.


Hal yang perlu di garis bawahi adalah profesionalisme sebagai seorang jurnalis. Seorang wartawan mesti mengedepankan sikap berimbang, tidak menerima suap, menjadi pemantau kekuasaan dan independen, demi menyajikan informasi yang akurat, bermanfaat, serta relevan untuk masyarakat.

Seorang wartawan tidaklah menyajikan informasi yang telah di bungkus sedemikian rupa untuk menutupi kecacatan kebijakan khususnya dalam pemerintahan, demi kepentingan pribadi. Membiarkan Masyarakat terlena akan citra baik yang di tampilkan, tak sadar bahwa beberapa hal yang seharusnya berjalan sesuai kebutuhan masyarakat tidaklah berjalan sebagaimana mestinya. Rakyat yang sadar tak bisa berbuat banyak, sementara rakyat yang tak mau ambil pusing hanya jadi penonton dan protes saat kepentingannya sudah di rugikan. 

Sebagai seorang jurnalis yang juga bagian dari masyarakat, tentulah ini bukan hanya untuk mengkritik saja, tapi juga sebagai bentuk penyadaran kepada masyarakat khususnya para pemuda untuk lebih kritis dan tak hanya jadi penonton sebuah kebijakan.

Pada akhirnya yang di rugikan adalah generasi kedepan yang akan memanen dampak buruk suatu kebijakan itu jika tidak di jalankan sebagaimana mestinya, dan kebijakan yang tak difikirkan resikonya.

Apa solusi yang diberikan untuk menghindari dampak buruk itu, kemudian perlulah di fikirkan kembali apakah solusi itu tidak hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain? dalam hal ini masyarakat kecil, baik di kota ataupun di pulau-pulau terpencil. Semua itu mestilah kita pikirkan terkhusus kita para pemuda yang akan merasakan langsung hasil dari sebuah kebijakan.

Abi Kusno. 
Sumber gambar: Timesindonesia.co.id

Dalam proses penulisan ini, saya teringat akan salah satu jurnalis pejuang kebenaran di Kalimantan, Almarhum Abi Kusno. Dikutip dari jurnalposmedia.com, Abi Kusno adalah seorang jurnalis dan politikus yang dikenal karena keberaniannya mengungkap praktik penebangan liar (illegal logging) di Kalimantan.  Memulai karirnya sebagai seorang jurnalis yang sangat peduli dengan isu-isu lingkungan, khususnya perusakan hutan yang marak terjadi. Melalui tulisannya yang tajam dan investigasinya yang mendalam, kerap menjadi duri bagi para pelaku kejahatan lingkungan, termasuk para pengusaha besar dan pejabat yang terlibat. Perjuangannya dalam menegakkan kebenaran bahkan membuatnya berkali-kali berhadapan dengan ancaman dan kekerasan.

Bahkan di sebut-sebut salah satu keberhasilan Abi yang monumental ialah menggagalkan tiga kapal berbendera Tiongkok yang akan mengangkut kayu-kayu ilegal dari Taman Nasional Tanjung Putih. Namun, perjuangannya sebagai jurnalis tidak berjalan tanpa risiko. Pengungkapan ini berujung pada penyerangan brutal terhadap dirinya di Pangkalan Bun.

Pada 28 November 2001, ia diserang secara brutal oleh sekelompok orang tak dikenal dengan menggunakan senjata tajam. Penyerangan ini membuatnya mendapatkan 17 luka bacok di leher, dada, serta punggung dan 4 jarinya putus. Ia menjalani operasi besar yang menghasilkan 350 jahitan di tubuhnya. Sementara 4 jarinya yang putus, tak bisa disambung kembali dan harus direlakan. Meski kejadian tersebut membuat nyawanya nyaris hilang, semangat Abi tidak pernah padam. Ia tetap berdiri tegak, bahkan berani menyebut nama-nama pejabat besar yang terlibat dalam penganiayaan tersebut.

Pada 4 Juli 2006, saat mendatangi lokasi penimbunan kayu liar di Muara Bulan, Kalimantan Tengah, Ia kembali mendapat ancaman yang diduga berasal dari salah seorang cukong (pengusaha) yang merasa terancam. Abi menerima sebuah kotak yang berisi kain kafan, gambar mayat, dan juga tulisan “Jangan bunuh mata pencaharian kami”.

Kegigihan Abi Kusno dalam menghadapi ancaman yang terus menghantuinya akhirnya berujung tragis. Pada 24 Juli 2006, Abi Kusno meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di jalan tol Cirebon. Banyak pihak yang mencurigai bahwa kecelakaan tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari rencana pembunuhan yang telah lama disusun untuk membungkam perjuangannya.

Hal yang dulunya ia gencar suarakan kini terjadi dan dampaknya bisa kita lihat dan rasakan langsung bagaimana dampak suatu kebijakan yang diambil tanpa mempertimbangkan berbagai aspek dan merugikan banyak pihak. Siapa yang akan bertanggung jawab?.

Selanjutnya kita beralih ke Pers teroris yakni sebuah media propaganda yang biasanya digunakan oleh negara atau partai politik untuk kepentingan mereka. Memanipulasi emosi dan opini publik melalui visualisasi, slogan, atau informasi yang di olah sedemikian rupa. 

Media inilah yang seringkali memicu pergulatan di berbagai platform media sosial. Mencemarkan atau berusaha menjatuhkan target atau lawan dari siapapun yang memanfaatkan jasa mereka. 

Hal ini memberikan kita pelajaran bahwa tak semua berita yang muncul di permukaan dapat dipercaya bahkan ketika media tersebut memiliki ratusan hingga ribuan pengikut, serta like dan komen dari orang-orang yang tidak menyaring sebuah informasi sebelum di konsumsi. (SNJ)





Lebih baru Lebih lama