![]() |
| Dr. Antong Amiruddin, SE., M.Si (Dosen Universitas Muhammadiyah Palopo) |
Tapi bentar, Dr. Antong Amiruddin, SE.,M.Si (Dosen Universitas Muhammadiyah Palopo) langsung nge-kritisin hal ini. Menurut beliau, nge-generalisasi trauma Barat ke dalam sejarah Islam itu logical fallacy-nya fatal banget. It’s a major red flag! Di saat Eropa lagi gelap-gelapnya, dunia Islam justru lagi flexing era keemasan (Islamic Golden Age).
Nah, lewat tulisan ini, Pak Antong mau nge-spill sebuah konsep plot twist bernama Humanisme Religius. Beliau bakal ngajak kita bedah kenapa kita nggak perlu FOMO mengekor jalur Barat yang ngebuang Tuhan demi memuliakan manusia, dan kenapa Tauhid justru bisa jadi fondasi paling sustainable buat memanusiakan manusia tanpa harus mengorbankan logika!
Simak baik-baik yah!!.
Humanisme Religius: Antitesis Dark Ages dan Fajar Peradaban Berkemajuan
Oleh: Dr. Antong Amiruddin, SE., M.Si
Dalam diskursus filsafat kontemporer, agama dan kemanusiaan sering kali ditempatkan dalam posisi dikotomi yang saling berhadapan. Narasi arus utama Barat memandang bahwa agar manusia bisa merdeka, berdaulat, dan maju secara sains, agama harus disingkirkan ke ruang privat (lih. Auguste Comte, Marx, dll). Trauma historis era Dark Ages (Abad Kegelapan) di mana hegemoni institusi agama ketika itu mengungkung nalar, memasung ilmu pengetahuan, dan menindas kemanusiaan atas nama Tuhan telah melahirkan fobia akut terhadap keterlibatan agama dalam mengelola kehidupan publik.
Namun, menggeneralisasi trauma Barat ke dalam tubuh Islam adalah sebuah kecacatan epistemologis yang fatal. Di sinilah konsep Humanisme Religius hadir sebagai sebuah jawaban sekaligus antitesis yang tegas terhadap memori kelam Dark Ages. Maksud mendasar dari pemikiran humanisme religius ini adalah menegaskan bahwa keterlibatan agama dalam hal ini Islam dalam kehidupan dan ilmu pengetahuan sama sekali bukan untuk mengulangi apa yang terjadi di era Dark Ages oleh pihak institusi agama saat itu. Sejarah justru mencatat anomali yang berkebalikan, ketika Eropa tenggelam dalam kegelapan Abad Pertengahan, dunia Islam justru melahirkan Era Keemasan (Islamic Golden Age).
Dalam Islam, keterlibatan agama tidak mematikan nalar, melainkan menghidupkannya. Agama hadir bukan sebagai institusi fasis yang memasung kebebasan berpikir, melainkan sebagai katalisator yang membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan penindasan struktural. Oleh karena itu, gagasan ini menawarkan sebuah proyeksi besar membangun peradaban berkemajuan di luar konteks Barat. Kita tidak perlu dan tidak boleh mengekor pada jalur modernitas Barat yang mendepak Tuhan demi memuliakan manusia. Peradaban berkemajuan yang kita tawarkan adalah sebuah tatanan alternatif yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, namun berlandaskan secara kokoh pada nilai-nilai ketuhanan tauhid. Di dalam peradaban ini, keadilan bagi masyarakat kecil, kesetaraan sosial, dan kemajuan sains ditegakkan bukan karena kita melupakan Tuhan, melainkan karena kita tunduk pada perintah-Nya.
Secara filosofis, konsep humanisme religius ini bukan sekadar antroposentrisme (pandangan yang berpusat pada manusia) tetapi juga teosentrisme (berpusat pada Tuhan). Jika Barat menganggap teosentrisme sebagai ancaman bagi kebebasan manusia, Islam justru mempertemukan keduanya secara harmonis. Manusia diletakkan sebagai aktor utama (Khalifah) di muka bumi yang memiliki kebebasan berpikir dan berkreasi (antroposentris), namun seluruh orientasi puncaknya, kompas moralnya, dan tanggung jawab akhirnya tetap bermuara pada Allah SWT (teosentris). Manusia dimuliakan hak-haknya justru karena mereka adalah ciptaan dari Sang Pencipta yang Maha Agung. Lebih jauh lagi, konsep humanisme ini melampaui batasan kosmosentris (pandangan dunia yang hanya berpusat pada alam material semesta). Humanisme sekuler Barat, pada ujungnya, selalu terjebak pada pemenuhan kepentingan materi semata. Indikator kebahagiaan mereka bersifat transaksional dan horisontal, seperti kenyamanan fasilitas ekonomi atau jaminan sosial fisik bahkan flexing.
Humanisme Religius melompat melampaui dinding materi tersebut karena nilainya tidak hanya berdasar pada kepentingan materi semata, tetapi lebih bersifat transenden. Ketika seorang Muslim membela hak kemanusiaan, melawan diskriminasi penguasa, dan menegakkan hukum yang adil, ia melakukannya bukan sekadar demi kontrak sosial atau kenyamanan duniawi yang fana. Ia melakukannya atas dasar kesadaran transendental bahwa ada pertanggungjawaban ilahi, ada kehidupan setelah kematian, dan ada keridaan Sang Pencipta yang sedang ia kejar. Inilah yang membuat nilai kemanusiaan dalam Islam bersifat abadi, kokoh, dan tidak bisa dibeli oleh kepentingan politik sekilas.
Dengan meletakkan Tauhid sebagai fondasi transenden dan kemanusiaan sebagai manifestasi praktisnya, Islam siap memimpin fajar peradaban berkemajuan sebuah dunia yang tidak hanya megah secara ilmu pengetahuan, tetapi juga agung, adil, dan teduh di bawah naungan nilai-nilai ketuhanan, islam rahmatan lil’alamin. (Antong Amiruddin)
Main character energy manusia itu bukan pas mereka ngerasa paling berkuasa di bumi lalu melupakan langit. Lewat gagasan Humanisme Religius ini, Pak Antong Amiruddin sukses ngingetin kita kalau kita nggak perlu milih antara jadi hamba yang taat atau jadi pemikir yang kritis. Keduanya itu satu paket lengkap dalam peran kita sebagai Khalifah.
Di saat humanisme sekuler Barat mulai kelihatan rapuh karena indikator bahagianya cuma sebatas materi, kenyamanan fisik, atau sekadar ajang flexing yang transaksional, Pak Antong nunjukin kalau Islam punya alternatif yang jauh lebih deep. Kita ngebela hak asasi dan ngejar kemajuan sains bukan cuma karena urusan kontrak sosial yang fana, tapi karena ada kesadaran transendental yang bikin value kemanusiaan kita nggak bakal bisa dibeli sama kepentingan politik sesaat.
Pesan kuat dari Pak Antong buat generasi kita: stop kiblat-sentris ke Barat. Masa depan peradaban berkemajuan yang sesungguhnya adalah ketika sains yang makin genius ketemu sama sujud yang makin tulus. Itulah esensi nyata dari Islam Rahmatan lil ’Alamin. And that's the real flex! (Sitti Nur Jannah)
