Kelas Menengah Nangis di Pojokan! Pertamax Resmi Naik 16 Ribuan Saat Rupiah Lagi Lucu-lucunya

Sangpencerah.web.id|SELAYAR,— Para pembaca setia dimanapun anda berada, hari ini mari kita kesampingkan dulu drama selebriti atau sepak bola, kali ini kita beralih ke berita yang paling konsisten bikin isi dompet bergetar hebat. Yaps! Pertamax yang kini resmi naik kelas jadi barang mewah.

​Hari ini Indonesia kembali mempertontonkan komedi situasi terbaiknya, di mana dompet rakyat dipaksa masuk ke hard mode tanpa aba-aba sementara kita semua dituntut untuk tetap tampil produktif. Mulai hari ini, PT Pertamina (Persero) dengan sangat percaya diri resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi mereka, memaksa Pertamax 92 bertengger di angka Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 meroket ke Rp17.000 per liter. 

Langkah penyesuaian yang mengacu pada Keputusan Menteri ESDM terkait Formulasi Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum ini bener-bener definisi dari "kerja keras bagai kuda, tapi harganya naik bagai jet pribadi." Golongan kelas menengah yang selama ini mencoba bertahan buat gak ngantre di jalur Pertalite demi menjaga gengsi, hari ini resmi ditampar realitas kalau kendaraan mereka sekarang butuh biaya perawatan yang setara dengan gaya hidup sosialita.

​Kondisi ini makin diperparah dengan performa nilai tukar Rupiah yang ikutan loyo dan pasrah hingga menembus angka Rp18.000 per Dolar AS berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Kombinasi maut antara bensin mahal dan mata uang yang sedang lemah-lemahnya ini adalah resep sempurna untuk memicu kenaikan harga segala hal di sekitar kita, mulai dari tarif ojol, harga kopi susu literan, sampai harga seblak langganan. Di atas kertas, kebijakan ini mungkin langkah logis untuk menyelamatkan neraca korporasi dari membengkaknya biaya impor minyak mentah (crude oil). 

Namun secara realitas, para pengamat ekonomi makro sudah memperingatkan bahwa fenomena ini akan langsung memukul kelompok aspiring middle class alias kelas menengah rentan. Kelompok ini adalah korban paling berdarah-darah karena daya beli mereka langsung tergerus oleh inflasi sektor transportasi tanpa pernah tersentuh oleh jaring pengaman sosial atau bantuan sosial dari pemerintah.

​Agaknya jargon "Indonesia Emas" yang sering digaungkan itu makin ke sini makin masuk akal; bukan karena masyarakatnya yang makmur secara merata, tapi karena biaya buat bertahan hidup di negeri ini memang sudah seharga emas batangan. 

Pada akhirnya, ketika harga barang di negara ini tumbuh jauh lebih cepat ketimbang angka di slip gaji kita, publik hanya bisa pasrah menonton penghematan anggaran mereka sendiri. Di tengah situasi yang bikin dahi berkerut ini, kita dipaksa mandiri dan memaklumi keadaan, sebab sementara pemerintah sibuk menyeimbangkan angka-angka di atas laporan fiskal, kelas menengah dipaksa melakukan keajaiban finansial setiap hari hanya untuk memastikan tangki motor mereka tidak kosong saat berangkat kerja. (Sitti Nur Jannah) 

Lebih baru Lebih lama